Begini Rahasia Sukses Negeri Jiran Kembangkan Pariwisata Halal

(gomuslim). Pariwisata halal yang sedang naik daun saat ini menjadi sebuah persaingan di beberapa negara. Hal tersebut terlihat dari promosi, kualitas produk halal, dan banyak hal lainnya yang dilakukan di banyak negara. Salah satu yang sukses mengembangkan pariwisata halal adalah Negeri Jiran.  Industri halal tumbuh kuat di Malaysia melalui beragam insentif yang diberikan pemerintah, termasuk biaya sertifikasi halal yang murah.

CEO Halal Industry Development Corporation (HDC) Malaysia Jamil Bidin menjelaskan HDC adalah badan yang khusus didirikan pemerintah Malaysia untuk membina pembangunan industri halal. HDC merekayasa kondisi bisnis di Malaysia agar pelaku usaha asing dan dalam negeri tertarik berinvestasi mendirikan perusahaan yang bergerak dalam bidan produksi halal atau menyediakan jasa halal. Jamil mencontohkan biaya sertifikasi halal di Malaysia yang murah yaitu sekitar US$80 (sekitar Rp 1 juta) dan berlaku selama dua tahun. Pemerintah juga memberikan keringanan biaya bagi industri kecil dan menengah.

Tidak hanya itu, Malaysia juga merangsang investasi melalui kawasan industri halal, kawasan yang diperuntukan bagi pabrik yang memproduksi produk bersertifikat halal. Pabrik yang berdiri di kawasan tersebut mendapatkan insentif pajak selama 10 tahun.

“Kami membutuhkan 40 tahun dalam membangun industri halal. Indonesia yang bekerja sama dengan Malaysia saya rasa tidak perlu 40 tahun, bisa fast track. Industri halal ini membawa hasil besar pada ekonomi,” ungkap Jamil.

Negara jiran, Malaysia, terus berinovasi dalam berbagai hal, termasuk dalam bidang pariwisata. Potensi alam dan keragaman budaya menjadi daya tarik tersendiri di negara yang berbatasan dengan Kalimantan itu. Bahkan, menurut hasil riset yang dirilis Muslim Crescentrating tahun lalu, Malaysia dinobatkan sebagai negara tujuan pertama untuk pariwisata Muslim. Setelah Malaysia dalam peringkat sepuluh utama, yakni Uni Emirat Arab, Turki, Indonesia, Arab Saudi, Singapura, Maroko, Yordania, Qatar, dan Tunisia sebagai sepuluh negara yang ramah halal untuk liburan.

Kajian lembaga swasta yang fokus pada urusan wisata dan berbasis di Singapura itu menilai sejumlah kompenen, di antaranya perhatian negara terhadap kebutuhan wisatawan Muslim.  Persyaratan ini termasuk keberadaan dan akses restoran halal dengan daging yang disembelih dengan standar Islam dan penyediaan ruang shalat di bandara, pusat perbelanjaan, dan hotel.

Selain itu, CEO Crescentrating Fazal Bahardeen kepada AFP mengatakan, prestasi yang disandang negara ini didapat melalui proses yang cukup panjang dan serius. Sentra Pariwisata Islam Malaysia gencar bersosialisasi dan mengedukasi pelaku industri pariwisata untuk memenuhi kebutuhan utama pelancong Muslim. Itu terlihat dari membludaknya dapur hotel yang bersertifikat halal yang dibarengi dengan pemenuhan kebutuhan spesifik lainnya. Bukan hanya menyangkut konsumsi makanan atau minuman.

Malaysia juga mulai memperhatikan layanan lain, seperti pemisahan ruang kebugaran dan kolam renang antara laki-laki dan perempuan. Hal ini pelayanan halal untuk wisatawan Muslim terus meningkat.

Publikasi Thomson Reuters memperkirakan ekonomi produk halal global bernilai US$1,8 triliun pada 2014 dan bisa tumbuh hinga US$2,6 triliun pada 2020. Produk makanan halal bernilai US$1,13 miliar atau 17% dari pasar makanan global. Adapun pasar farmasi bernilai US$75 miliar atau 7% dari nilai pasar global.

Untuk Indonesia sendiri yang menargetkan 20 persen dari 10 juta wisatawan mancanegara menikmati wisata halal yang ditawarkan, yang berarti setidaknya dua juta orang ditargetkan menjadi pasar untuk wisata halal di Indonesia. Namun, ternyata angka tersebut masih lebih sedikit dibanding angka yang berhasil diraih negara lain untuk wisata halal, seperti Thailand, Malaysia dan Singapura. Singapura menargetkan empat juta wisatawan dan Malaysia menargetkan lima juta orang. (fau/dbs)


Back to Top