Perusahaan Ini Kembangkan Plastik Ramah Lingkungan dan Bersertifikat Halal

gomuslim. Sampah plastik menjadi masalah tersendiri bagi lingkungan. Pasalnya plastik adalah sampah yang sulit didaur ulang dan butuh waktu ratusan tahun untuk proses penguraian. Tidak hanya itu, kandungan kimia yang terkandung di dalam plastik diyakini berdampak pula terhadap kesehatan jika tidak cermat memilih jenis plastik yang digunakan. Hal tersebut membuat banyak perusahaan berlomba-lomba memproduksi plastik dengan bahan ramah lingkungan. Bahkan sertifikasi halal pun menjadi pembeda bagi produk plastik yang dikembangkan perusahan yang satu ini.

PT Sinar Joyoboyo memproduksi plastik menggunakan jenis plastik yang  aman berbahan High Density Polyethylene (HDPE). Dalam siaran persnya,  CEO Sinar Joyoboyo Hengky Sidharta mengatakan bahan tersebut merupakan salah satu tipe dan jenis plastik yang paling umum digunakan untuk pembuatan kantong plastik, botol kemasan, jenis plastik ini dapat di daur ulang untuk kebutuhan lainnya. Perusahaannya telah mengembangkan inovasi tehnik produksi plastik yang ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan yang tersertifikasi halal oleh MUI.

 

Untuk pembuatan kantong plastik, tambah Hengky, perusahaannya  telah meminimumkan kadar senyawa kimia dari produk produk plastik kami yang tentunya food grade dan degradable grade. Menurutnya, Sinar Joyoboyo telah melakukan serangkaian kegiatan kampanye sosial guna memberikan penyuluhan tentang plastik yang baik dan aman. Dia mengimbau masyarakat agar selektif memilih plastik.

"Kami juga memberikan pelatihan kreatif kepada kelompok kelompok masyarakat tentang bagaimana memanfaatkan limbah plastik untuk menjadi produk kreatif yang berguna dan bernilai ekonomi," pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, Hengky juga mengimbau masyarakat agar lebih cermat dan teliti memilih plastik kemasan yang akan dipergunakan. Imbauan ini disampaikan melalui serangkaian kegiatan kampanye sosial guna memberikan penyuluhan tentang plastik yang baik dan aman. Selain itu, termasuk memberikan pelatihan kreatif kepada kelompok kelompok masyarakat tentang bagaimana memanfaatkan limbah plastik untuk menjadi produk kreatif yang berguna dan bernilai ekonomi.

Adapun, Pemerintah Indonesia sendiri telah memberlakukan kebijakan plastik berbayar pada 21 Februari 2016 lalu, dan mengalihkannya dengan tas belanja. Hal ini dilakukan untuk mengurangi konsumsi plastik dan juga mengurangi pencemaran lingkungan akibat limbah plastik.

Untuk sertifikasi halal pada kantung plastik, menurut publikasi LPPOM MUI, kantung plastik punya potensi tidak halal melalui dua jalur; salah satu bahan bakunya ada yang berpotensi tidak halal, yaitu asam stearat (bisa vegetable base atau animal base) dan mesin produksi plastik, bagian rodanya diolesi lemak untuk menghindari macet. Lemak ini bisa berasal dari hewan (sapi atau babi) atau tumbuhan (vegetable base). (fau/dbs)

 

 


Back to Top