Film ‘Cahaya Cinta Pesantren’

Lewat Drama Religi, Film Ini Sebarkan Nilai Hikmah dan Inspirasi Kehidupan Pesantren

Kalau kita mencintai segala sesuatu karena Allah, maka kita tidak akan pernah kenal yang namanya kecewa atau sakit hati

gomuslim. Itulah salah satu dialog dalam film bertema drama religi yang diproduseri oleh Ustadz Yusuf Mansyur dan Harianto Tian.  Film berjudul Cahaya Cinta Pesantren ini memberikan kisah yang menggugah dan inspiratif berlatar cerita Pondok Pesantren. Film mengambil kearifan lokal dari tanah Sumatera Utara. Tak hanya itu, keindahan Danau Toba juga tersaji dalam film ini.

Film tersebut diangkat dari novel Cahaya Cinta Pesantren yang ditulis oleh Ira Madan. Banyak aktris dan aktor pendatang baru maupun artis senior yang ikut mengambil peran dalam film bernuansa religi tersebut. Beberapa aktor dan aktris yang bermain di film ini adalah Yuki Kato, Zee Zee Shahab, Elma Theana, Febby Blink, Tabah Panemuan, Sivia Blink dan lain sebagainya.

Dalam film yang menjadikan Danau Toba sebagai lokasi syuting ini. Tidak hanya unsur religi saja yang ditonjolkan dari film tersebut, film ini juga memunculkan nuansa romantis, persahabatan dan kehidupan asli nelayan di Medan. Selain Danau Toba, film ini juga menjadikan Pondok Pesantren asli di Medan. Karena itu, dialog dalam filmini diisi dengan logat Batak asli, namun kebanyakan dari pemeran film religi ini telah berlatih dan berkonsultasi ke beberapa pihak mengenai hal tersebut.

Film Cahaya Cinta Pesantren yang dimulai syuting pada tahun 2016 lalu memang sudah dipersiapkan secara matang oleh Ustadz Yusuf Mansyur, sehingga para pemain total dalam melakoni peran masing-masing. Empat pemain wanitanya, Yuki Kato, Febby Blink, Sivia Blink dan Vebby Palwita, tampak cantik dalam balutan busana Muslimah.

Yuki Kato salah satu pemeran utama dalam film ini mengakui banyak yang bisa dipelajarinya selama proses syuting tentang bagaimana bisa bertahan dengan segala aturan yang berlaku di Pesantren. Salah satunya, kata Yuki,  yaitu nilai kerukunan dan toleransi yang harus terus dipupuk selama hidup di Pesantren.

"Sebenarnya ada hal yang berbeda ketika saya memutuskan untuk bergabung dalam film Cahaya Cinta Pesantren ini. Karena dalam film ini saya diharuskan berjilbab dan menjadi orang Batak dan hal yang paling membuat saya kesulitan adalah bagaimana menyelaraskan kehidupan pribadi saya ini sehari-hari. Apalagi saya harus masuk ke dalam lingkungan pesantren yang serba terprogram. Tapi ketika akhirnya aku belajar pakai jilbab aku pun merasa nyaman saat melakukan adegan itu," jelas aktris kelahiran Malang,  2 April 1995 itu.

Dalam film Cahaya Cinta Pesantren itu, Yuki Kato berperan sebagai Shila, seorang anak nelayan yang memiliki keterbatasan biaya untuk bersekolah. Rencananya film ini akan siap tayang di bioskop-bioskop pada akhir Oktober 2016 mendatang. (fau/dbs)

Sinopsis Film Cahaya Cinta Pesantren

Cahaya Cinta Pesantren adalah  film pertama Fullframe Pictures Indonesia yang mengangkat kisah kehidupan seorang anak nelayan di Danau Toba bernama Shila, anak perempuan yang ingin melanjutkan sekolah ke SMA Negeri favorit di daerahnya namun tidak lolos, Karena keterbatasan biaya orang tuanya tidak mungkin menyekolahkan Shila di SMA Swasta, awalnya Shila menolak namun atas bujukan orang tuanya jadilah Shila santri di Pesantren Al-Amanah. Dunia pesantren yang disiplin ditambah jadwal pelajaran dan kegiatan yang seakan tiada henti membuat Shila mesti beradaptasi, di pesantren Shila bersahabat dengan Manda, Aisyah dan Icut. Tapi dengan Manda, Shila merasa paling dekat. Karena keduanya tidak betah tinggal di pesantren tanpa sepengetahuan yang lain, keduanya pun kabur dari pesantren. Tapi takdir membawa mereka berdua kembali ke pesantren itu. Manda mantap untuk menjadi santri, tapi Shila, masih belum yakin.

Selain urusan pelajaran, sebagai gadis yang tengah puber, Shila pun berurusan dengan perasaan. Ia jatuh hati pada Rifqy, santri senior. Shila berusaha menjalani kehidupan pesantren di tengah bermacam konflik. Mulai dari konflik yang membuat persahabatannya berantakan. “kepergian” orang yang ia sayangi, hingga ia sempat diancam akan dikeluarkan dari pesantren justru saat ia telah benar-benar jatuh hati pada pesantren itu. Dan Shila berhasil melalui itu semua, karena pesan ayahnya sebelum ia berangkat ke pesantren; “Kalau kita mencintai segala sesuatu karena Allah, maka kita tidak akan pernah kenal yang namanya kecewa atau sakit hati”.  Inilah Film tentang pendidikan, sosial dan cinta. Cerita keluarga, persahabatan, romantisme dan seluk beluk anak-anak muda yang menempuh pendidikan di pesantren. Hal ini divisualkan dalam gambar-gambar yang dinamis, membentuk mosaik yang saling terjalin.

Setting waktu dan lokasi akan dibalut dalam sinematografi yang indah membuat dramatis film ini begitu menyentuh dan bermakna. Bahkan juga ditambah oleh unsur pariwisata di mana dalam film ini terdapat adegan silat lokal dan lokasi syuting di Medan dan Danau Toba.

 


Back to Top