Industri Asuransi Syariah Makin Tumbuh, Jasindo Syariah Siap Kucurkan Dana

gomuslim.co.id- PT Asuransi Jasindo Syariah dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Artha Madani melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama untuk memberikan pendanaan untuk peminjaman nasabah. Kerja sama ini akan mendukung beberapa penjaminan. Berbagai penjaminan tersebut seperti produk klaim kendaraan bermotor, kebakaran, dan ketidakmampuan pelunasan pembiayaan. Direktur Utama Jasindo Syariah Firman Sofyan mengungkapkan bahwa hantu terbesar dari semua industri perbankan syariah adalah Non Performing Financing (NPF), yakni sebuah kredit bermasalah yang terdiri dari kredit yang kurang lancar, diragukan serta kredit macet. Alasan itulah yang menyebabkan Jasindo Syariah menggandeng Artha Mndiri sebagai partner mereka.

Lebih lanjut, Firman menjelaskan bahwa kompensasinya adalah BPRS nantinya harus membayar premi dan nilai kerja sama tergantung pada berapa nasabah yang akan didaftarkan oleh BPRS yang bersangkutan. Sementara itu, untuk jangka waktu kerjasama sendiri akan berlangsung selama dua tahun dan tidak menutup kemungkinan untuk diperpanjang. Menurut Firman, ketidakmampuan pelunasan pembiayaan yang di-cover oleh Jasindo Syariah ada beberapa sebab yakni nasabah meninggal dunia atau kecelakaan, nasabah mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), atau mungkin memang nasabah tidak mampu lagi untuk melunasi pembiayaan. "Untuk ketidakmampuan pelunasan pembiayaan ini sebenernya sudah lazim dilakukan, dan nanti kompensasinya adalah bank yang bersangkutan harus bayar premi," kata Firman.

Sasar UMKM
Penjaminan yang diberikan oleh Jasindo Syariah kepada BPRS Artha Madani
memiliki nilai maksimal hingga Rp 2 miliar per nasabah untuk semua jenis produk. Jasindo Syariah melihat peluang yang cukup baik di segmen bisnis perbankan yang menyasar pelaku UMKM. Menurut Firman, kerja sama dengan BPRS Artha Madani ini sebagai salah satu langkah strategis dalam memberikan dukungan atas pembiayaan yang dilakukan untuk lembaga-lembaga keuangan syariah yang mendukung segmen pembiayaan konsumendan UMKM.

UMKM di Indonesia sendiri saat ini tengah naik daun, hal ini terlihat dari potensi UMKM untuk menggerakan ekonomi kelas bawah. Kehadiran perusahaan digital yang kerap dipanggil dengan sebutan startup juga semakin merangsang pertumbuhan UMKM di Indonesia. Selain itu, UMKM dan industri kreatif juga mampu menciptakan iklim bisnis yang positif serta mampu meningkatkan perekonomian nasional. Terkait dengan asuransi syariah sendiri, sejatinya lini bisnis ini sedang mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Hal ini terlihat dari data OJK yang menyebutkan bahwa investasi industri perasuransian syariah bertumbuh hingga 1.108,37% pada Juli 2016. Otoritas Jasa Keuangan dalam statistik Industri Keuangan Non-Bank Syariah per Juli 2016 mencatat hasil investasi industri asuransi senilai Rp2,65 triliun. Realisasi itu bertumbuh hingga 1.108,37% (year-on-year/y-o-y) sebab realisasi Juli 2015 justru minus Rp263 miliar.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Taufik Marjuniadi beberapa waktu lalu menilai melesatnya hasil investasi industri hingga awal semester II/2016 terjadi seiring peningkatan kinerja pasar modal syariah. Tidak mengherankan, jika peningkatan alokasi investasi dari sektor asuransi jiwa syariah ke pasar modal pada Juli tahun ini bertumbuh hingga 40,92% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2015 silam. (Ari/dbs)

 

 

 




Back to Top