Inilah Alquran Tertua di Asia Tenggara

gomuslim.co.id- Sejarah kebudayaan di Indonesia menjadi salah satu kekayaan pariwisata nasional. Selain adat istiadat masyarakat lokal, barang-barang peninggalan sejarah juga menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan asing maupun domestik. Salah satunya adalah peninggalan sejarah di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Situs sejarah tersebut berlokasi di sebuah Masjid peninggalan beberapa abad silam yang ada di Desa Lerabaing yang menyimpan berbagai artefak masuknya Islam di Kabupaten Alor berupa Alquran kuno.

Publikasi resmi Direktori Pariwisata Nusa Tenggara Timur menyebutkan Alquran tua yang terbuat dari kulit kayu tersebut adalah peninggalan Alquran yang ada di Alor. Alquran tersebut kini dinobatkan menjadi yang tertua di Asia Tenggara. Menurut kisah orang tua setempat, Alquran yang dibuat dari kulit kayu dengan tulisan tangan itu adalah peninggalan kesultanan Ternate ketika mereka membawa Islam masuk ke Kabupaten Alor sekitar tahun 1519 masehi.

Pada tahun 2011, Alquran tersebut dipamerkan pada Festival Legu Gam di Ternate. Ketua Panitia Legu Gam Arifin Djafar di Ternate  mengatakan Alquran kuno yang terbuat dari kulit kayu ini berisikan ayat-ayat Alquran lengkap 30 juz (114 surat) dengan pembungkus berupa kotak dari kayu, diarak dari bandara Sultan Babullah sampai ke Kedaton Kesultanan Ternate.

Kata Arifin, kitab suci ini dipinjam dari Pemda Kabupaten Alor untuk dipamerkan pada acara Legu Gam MKR 2011. Alquran tua ini akan dibaca saat tertentu pada acara tersebut. Alquran ini tersimpan di rumah pondok sekitar tahun 1982, saat itu, tambah Arifin, terjadi kebakaran besar yang melanda rumah pondok tempat menyimpan kitab tua ini yang menghanguskan seluruh bandan dan isi rumah termasuk semua benda-benda peninggalan Iang Gogo yang dibawa dari Ternate. "Tetapi anehnya, Alquran tertua ini tidak terbakar dan hingga saat ini masih tetap terawat dan utuh," pungkas Arifin.

Saat ini Alquran tersebut disimpan Saleh Panggo Gogo yang merupakan generasi ke-13 keturunan Iang Gogo dari kesultanan Ternate. Selain itu, Masjid tua bernama Baabusholah merupakan pusat dakwah para pembawa syiar ketika mereka membawa masuk misi Islam di Kabupaten Alor. Masjid tua tersebut masih digunakan sebagai tempat ibadah sampai sekarang. Keunikan Masjid juga terlihat dari arsitektur khas Ternate yang sudah dibangun sejak tahun 1633 masehi. Pembangunan Masjid tersebut juga tidak menggunakan peralatan modern, yaitu antara satu tiang dan tiang lainnya hanya saling mengait. Meski begitu, Masjid tua tersebut tak pernah roboh oleh terpaan angin dan badai hingga sekarang.

Publikasi goodnewsfromindonesia menyebutkan Alquran tertua dan Masjid Baabusholah adalah saksi sejarah awal mula agama Islam di Pulau Alor melalui perdagangan dan pengaruhnya menyebabkan mayoritas penduduk di pesisir pulau tersebut beragama Islam. Sementara non Islam mulai masuk ke pulau ini pada awal 1900-an dan penyebarannya lebih banyak di kawasan pedalaman. Karena itu populasi penduduk yang beragama non Islam lebih banyak di daerah pedalaman, meskipun antara penduduk pesisir dan pedalaman masih terikat oleh hubungan darah dan adat. Tapi, tak ada gesekan antar umat beragama di daerah ini yang menambah keindahan Pulau Alor sebagai destinasi pilihan di kawasan NTT. (fau/dbs)

 

 

 

 

 


Back to Top