Bangun Ekonomi Umat, Pemkot Bandung Kembangkan Koperasi Syariah Berbasis Masjid

gomuslim.co.id- Masjid merupakan basis terkecil yang paling dekat dengan masyarakat Muslim. Selain sebagai tempat ibadah, masjid dinilai memiliki potensi yang besar dalam membangun dan mengembangkan ekonomi umat. Salah satu caranya adalah melalui pengembangan koperasi syariah berbasis masjid.

Di Kota Bandung, masjid memiliki peran dalam membangun fungsi ekonomi yang dapat bermanfaat bagi umat. Program yang merupakan gagasan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung ini kemudian mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung.

Walikota Bandung, M Ridwan Kamil mengatakan, berdasarkan data yang ada, sampai saat ini jumlah masjid terbanyak di Indonesia berada di Kota Bandung yaitu mencapai 4.000 masjid. Hal ini, dipandang MUI Kota Bandung sebagai potensi yang besar untuk membangkitkan dan mengembangkan ekonomi syariah di masyarakat. Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah bagi umat Muslim tetapi juga dapat membangun fungsi ekonomi yang dapat bermanfaat bagi umat.

“Masjid itu tidak hanya sebagai tempat ibadah shalat dan mengaji, masjid itu adalah tempat membawa perubahan sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain,” ujarnya saat memberikan sambutan pada acara peluncuran program Koperasi Syariah Berbasis Masjid di Masjid Trans Studio Mall Bandung, Ahad (02/9).

Emil (Sapaan akrab Ridwan Kamil) menambahkan, ada berbagai macam cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Beberapa program yang selama ini telah dilaksanakan seperti program Kredit Melati, penghapusan izin usaha bagi UMKM, dan gerakan Ayo Bayar Zakat. Pengadaan Koperasi Syariah berbasis masjid juga dapat menjadi solusi baru bagi peningkatan ekonomi masyarakat.

Hasil riset yang dilakukan Ma’arif Institute menyebutkan Kota Bandung sebagai kota paling Islami di Indonesia. Jika Koperasi Syariah berbasis masjid ini berhasil dijalankan di Kota Bandung, program ini dapat menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia. “Jika ini terwujud, maka kota ini sedang berada di arah yang benar menuju baldatun toyyibun warabbun ghafur. Insya Allah,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Ekonomi Umat MUI Kota Bandung, Arsyad Ahmad mengatakan ada banyak manfaat yang diperoleh dari koperasi syariah berbasis masjid ini, diantaranya membantu mengatasi kemiskinan di lingkungan sekitar dan menghilangkan rentenir. “Rentenir yang memberi pinjaman Rp 1 juta ke bawah sudah hilang. Masyarakat lebih memilih meminjam uang di koperasi syariah,” ujarnya

Arsyad menambahkan, mengembangkan koperasi syariah berbasis masjid tidaklah mudah. Hal ini karena kurangnya pemahaman pengurus masjid dalam bidang ekonomi yang menjadi ganjalan. Pasalnya, minimal ada 20 orang untuk membentuk koperasi syariah baru. Lalu masalah modal juga menjadi kendala. Untungnya, MUI bersedia mensupport pendanaan hingga Rp 5 juta.

Dari sebanyak 4.000 masjid dan mushalla di Kota Bandung, hanya baru ada 163 koperasi syariah berbasis masjid. Masih banyaknya masjid yang belum tergarap lantaran terbatasnnya sumber daya manusia (SDM).

MUI Kota Bandung biasanya mensosialisasikan konsep koperasi syariah tersebut ke masjid-masjid. “Caranya sederhana. Kami kumpulkan jamaah minimal 20 orang beserta KTP, kemudian mulai bisa menabung mulai dari Rp 5 ribu perorang,” tambahnya. 

Mengembangkan ekonomi syariah hendaknya dilakukan semua pihak. Para khatib dan ulama diimbau mensosialisasikan ekonomi syariah di tempatnya berdakwah. Dengan begitu, pemahaman masyarakat terhadap ekonomi syariah bisa cepat tumbuh.

Usai memberikan arahannya, Ridwan bersama bersama Ketua MUI Kota Bandung KH Miftah Faridl dan Ketua Kadin Kota Bandung, Iwa Gartiwa menandatangani peluncuran program Koperasi Syariah Berbasis Masjid. Selain itu, dilakukan pula penandatanganan kesepakatan bersama dengan para stakeholder koperasi syariah. (njs/publikasi resmi)

gomuslim- Masjid merupakan basis tempat berkumpul yang paling dekat dengan masyarakat Muslim. Selain sebagai tempat ibadah, masjid dinilai memiliki potensi yang besar dalam membangun dan mengembangkan ekonomi umat. Salah satu caranya adalah melalui pengembangan koperasi syariah berbasis masjid. Untuk Kota Bandung, Masjid memiliki peran dalam membangun fungsi ekonomi yang dapat bermanfaat bagi umat. Program yang merupakan gagasan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung ini kemudian mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung.

Walikota Bandung Ridwan Kamil mengatakan berdasarkan data yang ada, sampai saat ini jumlah masjid terbanyak di Indonesia berada di Kota Bandung yaitu mencapai 4.000 masjid. Hal ini, dipandang MUI Kota Bandung sebagai potensi yang besar untuk membangkitkan dan mengembangkan ekonomi syariah di masyarakat. Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah bagi umat Muslim tetapi juga dapat membangun fungsi ekonomi yang dapat bermanfaat bagi umat.

“Masjid itu tidak hanya sebagai tempat ibadah shalat dan mengaji, masjid itu adalah tempat membawa perubahan sosial, ekonomi, budaya, dan lain-lain,” ujarnya saat memberikan sambutan pada acara peluncuran program Koperasi Syariah Berbasis Masjid di Masjid Trans Studio Mall Bandung, Ahad (02/9).

Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, menambahkan ada berbagai macam cara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Beberapa program yang selama ini telah dilaksanakan seperti program Kredit Melati, penghapusan izin usaha bagi UMKM, dan gerakan Ayo Bayar Zakat. Pengadaan Koperasi Syariah berbasis masjid juga dapat menjadi solusi baru bagi peningkatan ekonomi masyarakat.

Hasil riset yang dilakukan Ma’arif Institute menyebutkan Kota Bandung sebagai kota paling Islami di Indonesia. Jika Koperasi Syariah berbasis masjid ini berhasil dijalankan di Kota Bandung, program ini dapat menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia. “Jika ini terwujud, maka kota ini sedang berada di arah yang benar menuju baldatun toyyibun warabbun ghafur. Insya Allah,” katanya.

Sementara itu, Ketua Bidang Ekonomi Umat MUI Kota Bandung, Arsyad Ahmad mengatakan ada banyak manfaat yang diperoleh dari koperasi syariah berbasis masjid ini, di antaranya membantu mengatasi kemiskinan di lingkungan sekitar dan menghilangkan rentenir. “Rentenir yang memberi pinjaman Rp 1 juta ke bawah sudah hilang. Masyarakat lebih memilih meminjam uang di koperasi syariah,” ungkap Arsyad. 

Kata Arsyad, untuk mengembangkan koperasi syariah berbasis masjid tidaklah mudah. Hal ini karena kurangnya pemahaman pengurus masjid dalam bidang ekonomi yang menjadi ganjalan. Pasalnya, minimal ada 20 orang untuk membentuk koperasi syariah baru. Lalu masalah modal juga menjadi kendala. Dalam hal ini, MUI bersedia mensupport pendanaan hingga Rp 5 juta. Sebanyak 4.000 masjid dan mushalla di Kota Bandung, baru hanya ada 163 koperasi syariah berbasis masjid. Masih banyaknya masjid yang belum tergarap lantaran terbatasnnya sumber daya manusia (SDM).

MUI Kota Bandung biasanya mensosialisasikan konsep koperasi syariah tersebut ke masjid-masjid. “Caranya sederhana. Kami kumpulkan jamaah minimal 20 orang beserta KTP, kemudian mulai bisa menabung mulai dari Rp 5 ribu perorang,” tambahnya. 

Tambah Kang Emil, pengembangkan ekonomi syariah harus dilakukan semua pihak. Para khatib dan ulama diimbau menyosialisasikan ekonomi syariah di tempatnya berdakwah. Dengan begitu, pemahaman masyarakat terhadap ekonomi syariah bisa cepat tumbuh. Usai memberikan arahannya, Ridwan bersama bersama Ketua MUI Kota Bandung KH Miftah Faridl dan Ketua Kadin Kota Bandung, Iwa Gartiwa menandatangani peluncuran program Koperasi Syariah Berbasis Masjid. Selain itu, dilakukan pula penandatanganan kesepakatan bersama dengan para stakeholder koperasi syariah. (njs/dbs)


Back to Top