Lampaui IHSG, Pertumbuhan Indeks Saham Syariah Indonesia Tertinggi di Dunia

gomuslim.co.id- Saham syariah merupakan surat berharga bukti penyertaan modal atas suatu perusahaan dengan sistem bagi hasil, karena itu tidak bertentangan dengan syariah Islam. Saham tersebut juga harus dikeluarkan oleh perusahaan yang bergerak di bidang usaha yang halal. Saham dapat dikategorikan halal jika diterbitkan oleh emiten yang bergerak di bidang usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah, misalnya bukan perusahaan minuman keras atau rokok.

Pertumbuhan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) terus mengalami peningkatan. Tercatat dalam Jakarta Islamic Index (JII) ditutup menguat pada akhir perdagangan hari ini, Senin (3/10/2016). JII ditutup menguat tajam 2,29%% atau 16,905 poin ke level 756,59. Sebelumnya, indeks juga dibuka menguat 1,14% atau 8,41 poin di posisi 748,10. Sepanjang hari ini, indeks syariah bergerak pada kisaran 748,10 - 756,59. Indeks syariah berada di zona hijau setelah dibuka menguat 3,37 poin atau 0,45% di level 756,06.

Penguatan indeks harga saham syariah pada akhir perdagangan sejalan dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup melonjak 1,85% atau 99,11 poin di level 5.463,91 pada perdagangan hari ini setelah bergerak pada kisaran 5.403,86 - 5.463,91.

Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) mencatatkan pertumbuhan 20 % year to year per 20 September 2016. Hal ini menjadikan ISSI sebagai Indeks saham dengan pertumbuhan tertinggi dibandingkan dengan indeks saham syariah global lainnya. Bahkan, menurut Head of Islamic Capital Market Development Bursa Efek Indonesia Irwan Abdalloh, dalam lima tahun terakhir, indeks saham syariah Indonesia (ISSI) tumbuh 43% lebih tinggi dibandingkan dengan indeks hargsa saham gabungan (IHSG) yang tumbuh sebesar 41%.

“Pertumbuhan aset pasar modal syariah menunjukkan pertumbuhan negatif dalam dua tahun terakhir, yakni terkoreksi 2,3% dari posisi US$370,5 miliar pada 2014 menjadi US$361,9 miliar pada 2015. Sementara itu, ISSI tumbuh hingga 20%,” ungkapnya saat pelatihan wartawan pasar modal.

Karena hal tersebut, dari sisi komposisi reksadana syariah, menurut Irwan, Saudi Arabia memiliki porsi hingga 40%, Sedangkan sukuk di dunia paling banyak dimiliki oleh Malaysia yakni 61% dari total sukuk di dunia.

Adapun jumlah investor syariah di Indonesia masih mencapai 8.580 investor pada Juli 2016. Sementara itu, kapitalisasi pasar syariah per 26 September 2016 mencapai Rp3.228 triliun, sedangkan kapitalisasi pasar saham mencapai Rp5.776 triliun. Irwan menambahkan, untuk meningkatkan kapitalisasi pasar modal syariah maka pihaknya melakukan sekolah pasar modal syariah (SPMS), syariah online trading system (SOTS), galeri investasi syariah dan Sekolah Pasar Modal Syariah (SPMS).

Saat ini, SOTS diturunkan dari fatwa No. 80. Irwan mengungkapkan SOTS melarang untuk melakukan transaksi saham yang tidak syariah, transaksi margin trading, transaksi short selling, cash basic transaction dan portofolio saham syariah yang terpisah. Dari 30 saham yang diperdagangkan, sebanyak 26 saham menguat, 1 saham melemah, dan tiga saham stagnan. Saham-saham yang menguat diantaranya, ADRO +7,88%, INCO +6,10%, INDF +5,17%, dan WIKA +4,64%. Sementara saham yang melemah yaitu, SSMS -0,32%. (njs/dbs) 

 


Back to Top