Begini Titik Kritis Kehalalan Asam Amino dalam Produk Makanan dan Farmasi

gomuslim.co.id- Gaya hidup halal yang sedang naik daun saat ini membuat para pelaku usaha memutar otak untuk melakukan inovasi produk. Untuk industri makanan dan farmasi yang paling sering dikonsumsi masyarakat setiap hari, hal ini menjadi suatu yang krusial dalam hal kandungan bahan-bahan pembuatan produk-produk tersebut. Baru-baru ini, publikasi HalalCorner menyebutkan ada satu bahan yang sering digunakan para pelaku usaha dalam memproduksi makanan dan obat-obatan (dalam bidang farmasi) yang patut diwaspadai. Bahan tersebut adalah asam amino.

Publikasi tersebut menyebutkan fortifikasi asam amino merupakan salah satu usaha penguatan atau pengawetan produk yang banyak diterapkan di industri. Sekitar 65% asam amino dikonsumsi untuk keperluan industri pangan (monosodium glutamat, alanin, aspartat dan arginin sebagai perasa dalam makanan dan sistein sebagai antioksidan dalam jus). Konsumsi asam amino lainnya digunakan sebagai aditif pakan (30%) dan farmasi (5%). Produsen asam amino mayoritas berasal dari Jepang, Amerika, Korea Selatan, Cina, dan Eropa. Saat ini, proses produksi asam amino dibuat melalui sintesis kimia langsung, fermentasi, ekstaksi dan biokonversi menggunakan enzim.

Selain faktor kesehatan, umat muslim juga diharuskan untuk memperhatikan faktor kehalalan terkait dengan fortifikasi asam amino ini. Dari segi kehalalan, proses produksi dengan sintesis kimia langsung akan lebih aman. Hal ini berbeda bila asam amino berasal dari proses produksi dengan fermentasi menggunakan bakteri yang butuh media pertumbuhan bakteri tersebut. Hal yang menjadi salah satu titik kritis kehalalannya, apabila media pertumbuhan tersebut memanfaatkan unsur haram (darah atau babi) maka produk asam amino yang dihasilkan akan menjadi haram.

Dalam proses produksi secara enzimatik, perlu diperhatikan sumber enzim yang digunakan dalam proses produksi tersebut. Apabila enzim tersebut berasal dari isolaso enzim dari organ dalam hewan yang tidak disembelih secara syar’i atau babi maka asam amino yang dihasilkan dari proses enzimatik tersebut bersifat haram. Begitu pula apabila enzim didapat dari isolasi enzim yang berasal dari mikroba. Asam amino yang dihasilkan dari proses enzimatik akan bersifat haram apabila media pertumbuhan mikroba yang digunakan berasal dari unsur haram seperti darah atau babi.

Adapun, Kehalalan proses produksi tersebut ditentukan bahan yang akan diekstrak. Apabila bahan berasal dari rambut manusia, babi atau organ hewan dengan sembelihan tidak syar’i maka status asam amino yang dihasilkan akan haram. Zat asam amino, saat ini banyak digunakan untuk produk obat-obatan, makanan dan kosmetik. Karena, asupan asam amino ini penting sekali.

Menurut Ketua Lembaga Pengkajian Pangan Obat dan Kosmetik (LPOM) MUI Jabar Ferika Aryanti, asam amino ada yang berasal dari dari tumbuhan, hewani, dan fermentasi. Kata Ferika, masyarakat perlu waspada terkait hewan yang digunakan sebagai bahan asam amino, halal atau tidak.

‪Menurut Ferika, asam amino sebenarnya satu bahan yang ada di dalam obat-obatan. Jadi, seharusnya yang mengerti itu praktisi dan industri. Karena, masyarakat biasanya langsung menggunakan produk jadi tanpa tahu kandungannya ada asam amino atau tidak. "Nah, yang harus mengerti itu industri," katanya.

Adapun, tambah Ferika, bahan lain yang sering digunakan dalam obat dan kosmetik adalah gelatin yang berasal dari sapi. Namun, saat ini banyak gelatin datang dari Cina yang umat Muslimnya hanya dua persen. "Ribuan ton, masuk ke Indonesia dari berapa ton sapi, masalahnya siapa yg menyembelih? Itu permasalahannya, jadi halal tak hanya bicara babi tapi bagaimana proses pembuatannya," jelasnya.

Namun, Ferika mengatakan salah satu bentuk kewaspadaan masyarakat adalah dengan melihat logo halal dalam setiap kemasan produk. Karena, adanya logo tersebut menandakan kandungan makanan sudah diaudit dan dijamin kehalalannya. "Audit halal kan tak mudah. Jadi, sebelum menggunakan produk, lihat sertifikat halalnya," pungkas Ferika. (fau/hc/dbs)‪

 


Back to Top