Dua Lembaga Ini Luncurkan Program Beasiswa Sertifikasi Keahlian Pasar Modal Syariah

gomuslim.co.id- Peminat professional pasar modal syariah di Indonesia masih minim. Padahal, OJK telah mengeluarkan peraturan dalam POJK 16/POJK.04/2015 tentang Ahli Syariah Pasar Modal (ASPM) sejak november 2015. Minimnya peminat ASPM ini membuat pertumbuhan jumlah investor syariah menurun. Sementara, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berencana untuk mewajibkan manajer investasi pengelola reksa dana syariah membentuk unit pengelolaan investasi syariah, dapat memperbanyak ASPM yang bersertifikasi.

Menanggapi hal tersebut, The Indonesia Capital Market Institute (TICMI) dan PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menjajaki kerjasama dalam program beasiswa pendidikan sertifikasi keahlian pasar modal. Hal demikian untuk demi mengimbangi pertumbuhan jumlah investor syariah.

Presiden Direktur The Indonesia Capital Market Institute (TICMI) Mety Yusantiati menargetkan, hingga akhir tahun ini ada 50 orang yang mampu mendapat sertifikat ASPM dari OJK. Pasalnya, hingga hari ini baru ada 26 orang yang tercatat mendapatkan sertifikat.

“Yang sekarang belajar di TICMI sudah ada 44 orang, kemudian yang akan akselerasi mungkin 19 orang. Jadi kita harapkan segera di tahun ini di atas 50 orang dapat sertifikat dari OJK,” ujarnya di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (4/10).

Ditambahkan Mety, TICMI juga telah menggandeng Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menjadi tenaga pengajar syariah muamalah. Materi pendidikan yang diberikan antara lain pengantar ekonomi syariah, ushul fiqh, akad-akad syariah, qawaid fiqhiyah, dasara-dasar pasar modal syariah, produk investas syariah, fiqh muamalat, dan akuntansi syariah di pasar modal.

“Ini adalah salah satu cara kami. Saat ini ada loh ASPM atau profesi ahli pasar modal syariah yang tugasnya mengawasi, memberi nasihat kepada jasa keuangan syariah di keuangan syariah kita,” paparnya.

Sebagai syarat untuk mendapatkan sertifikasi sebagai ASPM, peserta harus mengikuti kelas pasar modal syariah selama 80 jam dan lulus ujian kemudian mendapatkan sertifikasti pasar modal syariah. Setelah itu, para ASPM harus mendapatkan rekomendasi dari DSN MUI. Menurut Mety, rekomendasi ini sangat penting karena sebagai bukti integritas para ASPM. Kemudian setelah mengantongi rekomendasi tersebut, ASPM baru mendapatkan lisensi dari OJK.

“Adanya rencana OJK untuk membentuk unit pengelolaan investasi syariah, secara otomatis akan banyak dibutuhkan ASPM. Hal ini supaya nantinya balance antara yang konvensional dan syariah," tambahnya.

Saat ini lisensi untuk manajer investasi konvensional yang sudah dikeluarkan oleh TICMI sebanyak 8.000, namun yang aktif melakukan trading hanya 2.000. Mety mengatakan, pengawasan para tenaga ahli pasar modal berada di bawah OJK dan BEI.

Selanjutnya, Mety menjelaskan, TICMI merupakan lembaga pendidikan yang resmi ditunjuk oleh OJK untuk menghasilkan para ahli pasar modal yang bersertifikasi. Ada dua lembaga yang ditunjuk oleh OJK untuk menggelar ujian sertifikasi yakni TICMI dan Panitia Standar Profesi Pasar Modal. Keduanya memiliki fokus yang berbeda, Panitia Standar Pasar Modal hanya menggelar ujian sebanyak empat bulan sekali. Sedangkan TICMI, membentuk ahli pasar modal dari awal yakni memberikan pendidikan terlebih dahulu kemudian setelah itu diberikan kesempatan untuk mengikuti tiga kali ujian.

"Rata-rata di ujian ketiga lulus semua, dan memang izin dari OJK seperti itu. Di TICMI belajar dulu baru ikut ujian," ujar Mety.

Sementara itu, Presiden Direktur MAMI Legowo Kusumonegoro mengungkapkan bahwa berbagai cara telah ditempuh untuk mengenalkan ASPM kepada banyak pihak, salah satunya dengan mulai dari mengadakan roadshow ke beberapa tempat. “Industri Pasar Modal Indonesia membutuhkan adanya penguatan jumlah dan kualitas di bidang SDM yang memiliki kompetensi dan kualifikasi syariah pasar modal,” kata di Gedung BEI Jakarta (4/10). (njs/dbs)


Back to Top