Hijaber Ini Jadi Pilot Pesawat Tempur Pertama di Dunia

gomuslim.co.id- Hijabers dunia kini satu per satu muncul ke publik lewat prestasi mereka di berbagai profesi. Setelah atlet anggar, penari balet, dan pemadam kebakaran, kini hijaber asal Pakistan tampil dengan prestasinya lewat profesi pilot pesawat tempur.

Hijaber ini adalah wanita pertama di dunia yang menjadi pilot pesawat tempur dan maju ke medan perang untuk membela negara Pakistan. Dia adalah Ayesha Farouq yang di antara lima rekan sesama perempuannya yang bekerja di Angkatan Udara Pakistan, hanya dia  yang lolos uji untuk turut ke lapangan bersama rekan-rekan pilot pria. Sebagai wanita muslimah dan memakai hijab tak menyurutkan tekadnya untuk mengabdi kepada negara.

Hal tersebut terbukti benar lewat kerja kerasnya mengikuti ujian agar bisa menjadi prajurit perang dengan menjadi pilot pesawat tempur. Keinginannya yang memiliki resiko besar tersebut sempat ditentang oleh keluarganya, terutama sang ibu yang tak menyetujui. Namun hingga akhirnya saat ini Ayeesha Farouq berhasil membuktikan kepada dunia lewat hijab hijaunya dia mampu menjaga keamanan bersama rekan-rekannya di wilayah Pakistan.

Muslimah berusia 26 tahun ini sekarang bertugas di tim skuadron garis depan Angkatan Udara Pakistan di Islamabad.  "Jika perang terjadi, saya akan terbang bersama senior saya," katanya.

Dengan jabatan Letnan, Ayesha membuktikan kepada dunia bahwa muslimah dengan hijabnya bisa berprestasi, bahkan untuk pekerjaan berbahaya di kokpit pesawat tempur. "Ketika saya mendapatkan perintah untuk terbang, maka saya akan terima perintah itu dan berani dengan beragam resikonya. Saya ingin membuktikan diri, bahwa saya bisa melakukan sesuatu untuk negara saya, “ ungkap Ayesha dalam sebuah wawancara dengan The Daily Telegraph.

Awal tahun 2013 lalu, Ayesha  menyelesaikan pelatihannya untuk menjadi pilot perempuan untuk pesawat tempur Pakistan pertama. Dia terbang dengan pesawat F7-PG, versi Cina dari MiG 21 jet.

Tidak hanya bertanggung jawab menjaga perbatasan dengan India, dia juga menjadi panutan bagi jutaan perempuan yang bermimpi mengikuti jejaknya di negara di mana banyak ditolak pendidikan dan terpaksa tinggal di rumah. Hal ini juga menjadi pelajaran bagi Pakistan untuk tidak mempersulit para anak perempuan menempuh pendidikan yang lebih tinggi di luar rumah.

Sebelumnya, Ayesha telah mendaftar di Akademi Angkatan Udara Pakistan pada usia 17 tahun. Saat itu, ia terus mengikuti berbagai ujian untuk naik tingkat sampai akhirnya diizinkan terbang menjaga keamanan perbatasan negara Pakisatan dan India.

“Teman-teman dan senior saya awalnya meragukan, tapi seiring berjalan waktu mereka tidak melihat saya dan hijab saya. Karena saat menjalankan tugas, kami  mempunyai kewajiban yang sama untuk menjaga dan membela negara. Tapi, sering juga ada yang bertanya-tanya; apa benar pesawat yang sedang terbang itu dikemudikan pilot wanita?, “ pungkas Ayesha. (fau/dbs)

 


Back to Top