Pelopor Kantin Halal Thoyyiban Kota Malang Tak Setuju Voting Online KPHN 2016

gomuslim.co.id- Terdapat sebuah kebanggan tersendiri di kota Malang, Jawa Timur. Pasalnya, dari delapan destinasi halal yang masuk nominasi juara di ajang Kompetisi Pariwisata Halal Nasional (KPHN) 2016, terdapat satu lokasi di Malang yang meraih peringkat kedua, yakni kantin Halal Thoyyiban Universitas Brawijaya (UB) untuk kategori rumah makan dengan posisi pertama diraih Kantin Salman Institut Teknologi Bandung (ITB)  dengan hasil 44,00 persen dan di posisi ketiga ada Kampoeng Popsa Makassar dengan perolehan 20,86 persen. Sedangkan kantin UB meraup 35,14 persen.

Penilaian ajang ini berdasarkan pada seberapa banyak pemilih polling di website Kementerian Pariwisata RI. Total ada 15 kategori yang dilombakan dengan diikuti oleh 111 nominator. Polling telah dibuka sejak Juni hingga September 2016.

Selain Kantin UB, ada tujuh destinasi lain di Malang Raya yang masuk nominasi ajang yang digelar Kementerian Pariwisata RI itu. Yakni Regent’s Park Hotel dan UB Guest House (kategori Hotel Ramah Wisatawan Muslim); Kota Batu (kategori Tempat Wisata Ramah Muslim); Kota Malang (kategori Destinasi Kuliner Halal); Rumah Makan Inggil dan Taman Indie Resto (kategori Resto Halal Terbaik); dan Jatim Park Group (kategori Daya Tarik Wisata Terbaik). Tapi, dari delapan itu, hanya kantin Halal Thoyyiban UB yang masuk runner-up.

Harus Juara

Sementara itu, pelopor Kantin Halal Thoyyiban UB Prof Ir Sukoso MSc PhD mengatakan, hasil tersebut tidak memberikan kontribusi yang valid. Sebab, tidak berdasar pada sistem penilaian yang objektif. ”Kalau pakai sistem voting, lebih cocok untuk audisi menyanyi seperti Indonesian Idol. Kalau membahas halal, jangan di-voting,” ujarnya pada keterangan pers. 

Menurut Sukoso, sistem ini merusak syarat dan standar halal yang selama ini sudah diterapkan. ”Halal itu harus ada sertifikat sehat. Kantin Salman itu belum punya,” ungkap alumni Universitas Kagoshima Jepang itu.

Sehingga dia merasa Kantin Halal Thoyyiban UB lebih memenuhi syarat dibanding Kantin Salman. Sehingga seharusnya yang layak menjadi juara justru Kantin Halal Thoyyiban UB. Sebab, Kantin Halal Thoyyiban UB merupakan kantin halal pertama di Indonesia. Bahkan menjadi bahan percontohan di perguruan tinggi lain. Seperti ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember), Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Gadjah Mada Jogjakarta, Universitas Diponegoro Semarang, bahkan ITB (Institut Teknologi Bandung). Terlebih lagi di saat perguruan tinggi lain baru melakukan diskusi halal, UB sudah meresmikan kantin halalnya.

Selain itu, Kantin Halal Thoyyiban UB juga telah mengacu pada ketentuan HAS (Halal Assurance System) yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Mulai dari urusan bahan makanan, cara mengelola, kebersihan dapur, air dan sanitasi, hingga penyajian. Semuanya sudah standar halal. Misalnya, bahan makanan selalu dicek apa sudah halal atau belum, air tidak boleh najis, termasuk pramusaji sudah dibekali pemahaman makanan halal. ”Kami tidak menghendaki sistem voting. Sekali lagi ini tidak objektif. Bisa saja kan mereka mengerahkan massa untuk voting,” papar suami dari Isnin Rochayati tersebut.

Sukoso menambahkan, khusus soal UB Guest House yang tidak masuk tiga besar, dia memakluminya. Karena pesaing untuk kategori Hotel Ramah Wisatawan Muslim di Indonesia sangat banyak. Sehingga peluangnya kecil. ”Wajar ya, (UB Guest House, Red) belum masuk tiga besar,” terang mantan dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya ini. (ari/dbs)


Back to Top