Jadi Rujukan Pemerintah Swiss, Komunitas Percikan Iman Bersyiar di Tanah Eropa

gomuslim.co.id- Komunitas muslim di Swiss mengalami perkembangan yang cukup pesat. Meski terbilang minoritas, kaum muslim di Swiss ternyata berasal dari beragam latar belakang. Seperti di Jenewa, ada muslim dari Maroko, Lebanon, Suriah, Somalia, hingga Turki. Salah satu hal menarik adalah adanya komunitas Percikan Iman. Komunitas ini adalah sebuah organisasi yang beranggotakan muslim asal Indonesia dan beberapa negara di Asia Tenggara.

Baru-baru ini komunitas Percikan Iman telah menjadi rujukan bagi pemerintah Swiss dalam hal informasi mengenai Islam. Bahkan, tidak jarang pemerintah Swiss bertanya mengenai hukum-hukum Islam, pernikahan, orang yang ingin masuk Islam, orang sakit, pemakaman dan lain sebagainya.

Salah satu pengurus Percikan Iman, Agung Ollie Bondan mengatakan bahwa hingga saat ini anggota organisasi tersebut telah mencapai 200 orang. Organisasi yang terbentuk sejak tahun 2012 ini mempunyai banyak kegiatan. Selain pengajian bulanan, terkadang mengundang narasumber langsung dari Indonesia. Kegiatan biasanya diadakan setiap hari Minggu di gedung serbaguna Werkhof Baden yang tidak jauh dari Zurich.

“Alhamdulillah anggota kami setiap tahunnya terus bertambah. Hal ini merupakan bukti positif dari organisasi ini dalam menampung setiap aspirasi anggotanya. Kami berharap kedepan bisa bertambah lagi, semakin banyak semakin baik,” ujarnya.

Pengurus Percikan Iman bersama organisasi Kharisma dan disponsori El Zatta dan Elhijab mengelar seminar pernikahan, keluarga dan pengasuhan anak yang bertema Merangkai cinta berbuah surge. Seminar tersebut mengundang pembicara Mohammad Fauzil Adhim, pakar parenting yang juga penulis buku ‘Kupinang Engkau dengan Hamdalah’.

Acara yang dirangkaikan dengan selamatan atas telah kembalinya sekitar 40 anggota Percikan Iman yang menjalani ibadah haji ke Tanah Suci. Dalam acara itu juga disampaikan kesan-kesan para jemaah haji yang berangkat dari Swiss di antaranya Mutia Fisher yang berangkat bersama sang suami mualaf asal Inggris yang mempunyai dua anak remaja.

“Saya sangat bersyukur sekali dapat panggilan menuju rumah Allah SWT. Semoga kedepan, sahabat-sahabat semua juga dapat berkunjung ke Mekah dan Madinah. Dua kota suci yang menjadi saksi sejarah perjuangan Nabi,” papar Mutia.  

Semenjak organisasi Percikan Iman telah menjadi satu perkumpulan (Vernie) yang berbadan hukum, acara pengajian menjadi lebih terorganisir. Selain itu saat ini setiap anggotanya diwajibkan membayar iuran bulanan untuk tetap menghidupkan roda organisasi.

Dalam kesempatan tersebut, Mutia Fisher yang juga salah seorang anggota Percikan Iman mengatakan bahwa hadirnya komunitas ini sangat memberikan manfaat bagi dirinya. Diakuinya bahwa dalam melaksanakan perintah Allah di Swiss menjadi lebih mudah. “Dulu mencari makanan halal disini sangat sulit, mesjid juga sangat terbatas. Padahal, umat Islam Indonesia di Swiss tercatat sekitar 1.200-an orang,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mutia Fisher mengatakan adanya komunitas Percikan Iman, syiar Islam di Swiss semakin baik. masyarakat muslim yang sudah lama tidak bersentuhan dengan ilmu Syariat akan semakin makin banyak yang tersadar. “Ini menjadi pencerahan bagi umat Islam yang ada di Swiss dan sekitarnya. Termasuk saya yang haus dan gairah menimba ilmu syariat untuk membimbing keluarga yang sesuai dengan Agama Islam,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Percikan Iman Nanda Firdausi mengatakan bahwa Vernie Percikan Iman merupakan perkumpulan umat muslim yang sebagian besar anggotanya berasal dari negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Indonesia. Perkumpulan ini didirikan pada tahun 2012 berdasarkan peraturan perundangan negara federal Swiss dan berkedudukan di Zurich. Bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar dalam setiap pertemuan dan acara selain bahasa Jerman dan Inggris.

Setiap mengadakan pengajian, biasanya diisi dengan tausiyah dan ceramah oleh ustadz yang berasal dari Indonesia. Namun, terkadang siapa saja bisa mengisi pengajian ketika yang bersangkutan berhalangan hadir. “Biasanya yang mengisi tausiah adalah ustaz Haji Desrial Anwar, yang bertugas sebagai diplomat di KBRI Bern,” ujarnya. (njs/dbs)


Back to Top