Inilah Aliansi Sekolah Islam Internasional Pertama di Indonesia

gomuslim.co.id- International Islamic Schools Alliance (ITTISHAL)—Aliansi Sekolah-sekolah Islam menggelar acara International Conference on Islamic Education (ICIE) di Hotel The Sunan, Jl Ahmad Yani 40, Solo, pada 10-12 Oktober 2016. Menurut, President Director ITTISHAL, Eny Rahma Zaenah Lahirnya ITTISHAL pada 1 Oktober 2015 oleh Yayasan Lembaga Pendidikan Al Firdaus, Pondok Pesantren Modern Islam Assalam kerjasama dengan Sekolah Islam di Perancis, Institut Prive Alif ini memang masih baru. Karena itulah, perhelatan konferensi ini menjadi momentum untuk membesarkan ITTISHAL, sehingga bisa dikenal publik secara luas.

Aliansi ini merupakan pertama kali ada di Indonesia, dengan menyatukan sekolah Islam mulai dari pra sekolah hingga perguruan tinggi. Banyak kegiatan yang diadakan aliansi ini bertaraf internasional, seperti konverensi, pertukaran pelajar dan guru, olimpiade, sertifikasi guru, kompetensi siswa, dan beberapa kegiatan lainnya. Anggotanya pun tidak hanya dari Indonesia, melainkan sampai ke seluruh dunia.

Adapun pendiri Aliansi Internasional Sekolah Islam—ITTISHAL ini terdiri atas tiga tokoh yaitu, Hj.Siti Aminah Abdullah, pemilik Penerbit Buku Tiga Serangkai dan Pemimpin dari Educational Enterpreneurship, tinggal di Solo. Lalu, H.Uripto Mahmud Yunus,M.ED, Direktur Assalaam Islamic Boarding School di Surakarta. Serta, Hj.Eny Rahmah Zaenah, SE,MM, Ketua Yayasan Al Firdaus Islamic School di Surakarta.

Kemudian Eny, menjelaskan bahwa gelaran acara ini dimaksudkan untuk mencetak generasi Islam yang mendunia, dan untuk membangkitkan kejayaan Islam, dan melahirkan ilmuwan Muslim yang handal dalam bidang riset.

“Kita menginginkan agar generasi Islam se-dunia ke depannya dapat saling bersinergi dan berkolaborasi secara kuat. Kalau sementara ini kita masih merujuk pada barat, ke depan pemikiran cendikiawan muslim menjadi referensi. Itu yang ingin diraih ITTISHAL—yang beranggotakan sekolah-sekolah Islam, mulai dari pra sekolah hingga universitas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri,” papar Eny.

Lebih lanjut, Eny yang juga bertindak sebagai Ketua panitia ICIE ini mengatakan, konferensi tersebut bertujuan membangun jejaring untuk berkontribusi nyata pada pendidikan Islam. Caranya dengan menggalang pemikiran dari pendidik dan peneliti tentang pendidikan Islam, kemudian memaparkan inovasi tentang pendidikan Islam. Konferensi bertemakan 'The Improvement of Education Quality and Learning Process to Face the Recent Challenges' membahas tentang pendidikan Islam masa kini dengan misi untuk memajukan pendidikan secara umum berbasis Islam. Hal ini dalam rangka membangun jejaring dalam berkontribusi nyata pada pendidikan Islam di masa kini dan mendatang.

Keynote Speaker BJ Habibie

Pada kesempatan itu, Mantan Presiden Republik Indonesia Ketiga, Prof.Dr.BJ Habibie, membuka konferensi ini, selain juga meresmikan ITTISHAL. “Perlu adanya sinergi positif antara budaya dan agama. Saat ini, yang kita kejar adalah meningkatkan produktifitas. Produktifitas itu berarti sinergi positif, antara elemen, budaya, agama, dan pengertian ilmu pengetahuan dan teknologi. Proses pembudayaan energi positif antara budaya dan agama ditentukan di dalam keluarga, dan disempurnakan di sekolah. Saya yakin dengan begitu kita akan bisa menyelaraskan agama dan budaya,” tutur Habibie dalam sambutannya.

Habibie menjelaskan Sinergi positif atau negatif, hal itu bisa diraih positif jika sinergi elemen agama dan elemen budaya disatukan. Keseimbangan antara ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan teknologi disinergikan. Ia mencontohkan jika satu ditambah satu, sama dengan dua, hasil tersebut hanya sinergi biasa. Beda halnya jika, satu ditambah satu sama dengan 20 ribu. “Itu bukan korupsi tapi pinter. Itu namanya sinergi positif, tapi awas kalau anda tidak mengerti membuat sinergi positif, satu ditambah satu bukan 20 ribu tapi minus 1 juta, itu akan saling menghancurkan, hati-hati ya,”ungkapnya.

BJ Habibie yang juga menjabat sebagai Dewan Pembina ITTISHAL menyatakan bahwa pada era digital sekarang ini, dunia telah menyatu dan tak ada lagi batas-batas negara. Semua informasi bebas merambah ke ruang-ruang kehidupan tanpa bisa dibendung. "Nah, bagaimana cara mengantisipasi era digital seperti ini? Tinggal pencet saja semua informasi dari negara manapun, pasti akan menghampiri kita. Caranya hanya dengan memperkuat ketahanan budaya. Karena itulah kita menerapkan otonomi daerah agar budaya di masing-masing daerah bisa berkembang,"tegasrnya.

Dengan penuh perhatian, Habibie mengatakan siap mendorong terjadinya sinergi positif antara budaya, agama, dan teknologi untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Baginya, mengandalkan keunggulan SDM, akan lebih baik, daripada mengandalkan sumber daya alam (SDA) yang memiliki nilai tukar tak menentu karena tergantung pada pasar dan permainan orang-orang tertentu.

Habibie pun berharap aliansi ini akan saling memberikan informasi yang tidak menggurui sehingga melahirkan sinergi positif dalam memajukan generasi mendatang. “Aliansi sekolah internasional ini dapat saling belajar dari kesalahan sendiri agar tidak terulang di kemudian hari dan mengingatkan pentingnya mempersiapkan SDM andal yang salah satunya dengan menyinergikan agama, budaya dan ilmu pengetahuan teknologi, sehingga menjadikan manusia tersebut memiliki iman dan taqwa,” tuturnya.

Dalam ajang ini ada sembilan pembicara dari enam negara. Dari Indonesia yakni BJ Habibie, dan putra sulungnya, Ilham Habibie, Eny Rahma Zaenah, dan tokoh pendidikan pendiri gerakan Indonesia Mengajar, Anies Baswedan. Sedangkan dari luar negeri, Syeikh Yousef Aldous (Dosen dan Imam Universitas Al Imam Muhammad Riyadh, Saudi Arabia), Thierry Malbert (Dosen Universitas Saint Denis, La Reunion, Perancis), Badlihisham Mohd Nor (Dosen Universiti Teknologi Malaysia), dan Abdalla Idris Ali (Deputi Secretary General of Islamic Society of North America, Kanada) dan Sarah Landon (Councellor of Education Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia).

Peresmian aliansi ini dilakukan dengan penandatanganan secara simbolis oleh 10 sekolah dari dalam dan luar negeri seperti Swedia, Arab Saudi, Indonesia, Afrika Selatan, dan Mozambik yang menjadi anggota dalam aliansi ini. (iys/dbs)

Komentar

  • marwan sinong

    12 Oktober 2016

    cek info

    Assalammu alaikum warahmatllahi wabarakatu.... Bapak/Ibu yang ditahmati Allah SWT. Perkenalkan saya Marwan Sinong dari Sorong, Papua Barat. Saya membaca artikel ini dan jujur sya sangat tertarik dengan aliansi sekolah islam ini. Sebagai orang tua yang puxa putri berumur 4 thn yg sekarang sdah sekolah di TKIT di kota Sorong, pingin rasaxa mendidik anak menjadi yang baik, soleha, ilmux berkah dunia akhirat. Dan setelah saya membaca artikel tersebut saya jadi penasaran dan tertarik seperti apa sih Sekolah Aliansi Islam tersebut? Kira2 anak2 d didik dari umur brpa? Dan seperti apa pendidikannya? Akankah kiraxa saya sebagai orang tua yang berpenghasilan pas2an bisa bermimpi mendidik anak saya kelak di sekolah tersebut? Mohon pencerahanxa, terimakasih atas berkenan bapak/ ibu membalasxa semoga Allah SWT senantiasa memberikan Rahmatx kepada kita semua. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatu.


    Reply






















Tulis Komentar

Kode Acak

*Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top