Lewat Program 'Pernikahan Hijau Lestari', Warga Yogyakarta Jadikan Pohon untuk Mahar Pernikahan

gomuslim.co.id– Pernikahan menjadi suatu prosesi yang sakral bagi semua orang. Setiap orang yang saling mencintai  berharap hubungan mereka dipersatukan ke jenjang pernikahan. Ada banyak alasan pasangan untuk menikah salah satunya adalah untuk melaksanakan sunnah Nabi.

Biasanya, warga yang beragama Muslim menjadikan seperangkat alat shalat sebagai mahar atau mas kawin perkawinan. Namun, di Daerah Istimewa Yogyakarta menerapkan sebuah mahar pernikahan yang unik yakni sebuah bibit pohon.

Seluruh kabupaten dan kota se-DIY mulai menggalakkan mahar pohon. Mahar ini diberlakukan bagi pasangan pengantin yang mendaftarkan diri ke Kementerian Agama (KUA) untuk mengurus pernikahannya, selain mahar lainnya.

"Hal ini di samping sebagai monumental juga sebagai konservasi alam," kata Kepala Kanwil Kementerian Agama DIY Nizar, di sela-sela menghadiri Pengukuhan Tim Satgas Waspada Investasi di Hotel Royal Ambarukmo, Kamis (3/11).

Pohon tersebut dari Dinas Pertanian dan diberikan secara gratis. Apabila calon pengantin tidak punya lahan, maka bisa dititipkan di KUA (Kantor Urusan Agama) atau masjid-masjid. Sebelumnya, program tersebut sudah dilaksanakan di Kabupaten Sleman sejak 2014. Keharusan menaman pohon bagi  pasangan pengantin di DIY ini menjadi yang menjadi pilot proyek nasional . 

Menurut Kepala Tata Usaha Kanwil Kementerian Agama DIY  Mohammad Lutfi Hamid,  sejak awal 2014, setiap pasangan calon pengantin didorong untuk menanam pohon sebagai monumen pernikahan mereka. "Sekarang, sudah ada trend dan menjadi budaya. Yakni, setiap warga Sleman yang menikah membawa mas kawin pohon di samping mas kawin lain," ujarnya.

Jenis pohon yang digunakan sebagai mahar, kata Lutfi, prinsipnya tanaman keras atau buah-buahan yang bisa memberikan makna. Kini di Kabupaten Sleman rata-rata sekitar 40 persen pasangan pengantin maharnya pohon.

"Kalau setiap tahun ada sekitar 6.500 pasangan yang menikah, maka yang maharnya mohon ada sekitar 3.000 pasangan," ungkap dia.  Setiap pasangan maharnya minimal dua pohon.

Kantor Kementrian Agama Kabupaten Sleman yang awalnya menganjurkan bibit atau batang pohon dijadikan sebagai sebuah mahar. Anjuran itu disebarkan ke seluruh kepala Kantor Urusan Agama dan penghulu setempat mulai 1 Januari 2014.

Penghulu diminta menganjurkan calon pengantin menggunakan bibit pohon sebagai mahar atau menanam pohon sebagai monumen peristiwa pernikahan. Kantor Kemenag juga menghimbau agar souvenir pernikahan juga berupa bibit tanaman.

Program yang disebut Pernikahan Hijau Lestari tersebut untuk meningkatkan peran Kementrian Agama dalam menciptakan kelestarian alam dan menyukseskan gerakan menanam satu miliar pohon.

Kebijakan tersebut dinilai cocok diterapkan di Sleman karena letak geografisnya menjadi penyangga kebutuhan air di wilayah Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul.

"Ketika memberikan mas kawin, pohon itu tidak hanya bermanfaat bagi istri tetapi juga bagi masyarakat dan memenuhi kebutuhan air serta kelestarian lingkungan," ungkap Kepala Kantor Kemenag Sleman, M. Lutfi Hamid beberapa waktu lalu.

Setiap tahun, sedikitnya terdapat 6.000 pernikahan di Sleman. Dengan jumlah itu, minimal ada 6.000 pohon yang ditanam di Sleman.

Kebijakan tersebut diklaim mendapat respon positif dari masyarakat. "Melihat animo yang ditunjukkan, masyarakat merespon positif dan kami akan lanjutkan sosialisasi ini," ujar Lutfi.

Imbauan mahar pohon saat ini masih terbatas untuk calon pengantin Muslim. Lutfi mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil untuk memberikan masukan terkait mahar pohon. "Untuk pengantin non-Muslim, kami berkoordinasi dengan Dinas Catatan Sipil karena di sana yang memberikan catatan pernikahan," ujarnya.

Imbauan penanaman pohon tidak hanya dilakukan untuk institusi perkawinan di Sleman. Setiap sekolah madrasah dan Pondok Pesantren setempat juga diminta untuk memanfaatkan lingkungan lembaga pendidikan dengan penanaman pohon. Kepala Madrasah dan pengasuh ponpes juga diminta membuat taman dengan pola penanaman hidroponik dan memanfaatkan air limbah wudhu untuk pemeliharaan ikan. (ari/dbs)


Back to Top