Begini Aktivitas Syiar Islam di Masjid Tertua Tebing Tinggi Sumatera Utara

gomuslim.co.id- Daerah Tebing Tinggi adalah sebuah kota kecil di bagian barat Sumatera Utara, merupakan kota yang didiami oleh masyarakat yang berasal dari berbagai etnis. Tidak hanya terkenal dengan wisata sejarah, kota yang berlambang Tugu Peringatan ini juga dikenal dengan masjid tertuanya yakni masjid Raya Nur Addin. Masjid tersebut merupakan yang tertua di Tebing Tinggi.

Istana Negeri Padang berada di kawasan lingkungan penduduk di jalan KF tandean, Kota Tebing Tinggi. Istana ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Negeri Padang, Tebing Tinggi yang dibangun pada masa Raja Tengku H. Muhammad Nurdin di tahun 1800-an.

Masjid Raya Nur Addin adalah masjid tertua di Kota Tebing Tinggi. Masjid yang sehari-hari dipakai untuk beribadah umat muslim di Kota Tebing Tinggi dan kegiatan syiar-syiar islam ini terletak di jantung kota, tepatnya di Jalan Suprapto, Kota Tebing Tinggi. Masjid Raya Nur Addin didirikan sekitar tahun 1861 dan didirikan oleh Raja Negeri Padang, Tengku Haji Muhammad Nurdin yang juga seorang pendiri Kota tebing Tinggi.

Pembangunan masjid ini ditujukan sebagai tempat ibadah dan syiar-syiar Islam serta untuk mempersatukan umat Islam di bawah pemerintahan Kerajaan Negeri Padang saat itu yang membawahi kekuasaan untuk kerajaan lainya di Bandar Khalifah, Kerajaan Sipispis, Kerajaan Bedagai dan Kerajaan Dolok Merawan.

Meski telah mengalami renovasi, namun bentuk asli arsitektur istana ini masih dipertahankan dengan baik. Istana ini dibangun dengan menggunakan bahan pilihan, sehingga mampu berdiri kokoh dan dibangun dengan bentuk rumah panggung.

Arsitektur juga sangat khas melayu dengan warna kuning, warna kebanggaan Melayu. Di sebelah istana ini juga terdapat makam raja ke delapan, sembilan, dan ke sepuluh beserta keluarganya.

Dulunya masjid ini dibangun menggunakan kayu sejenis siam, namun sekarang bangunan masjid bersejarah ini telah dipugar oleh pihak pemerintah Kota Tebing Tinggi menjadi bangunan beton sehingga menghilangkan nilai sejarah dari masjid tertua di Kota Tebing Tinggi ini.

Barang-barang peninggalan masjid pun sudah tidak telihat lagi, bahkan penggantian nama masjid dari Masjid Raya menjadi Masjid Raya Nur Addin pun tidak memberitahukan pihak keturunan raja Negeri Padang Almarhum Tengku Haji Muhammad Nurdin. Hanya fungsi masjid yang tetap sama sebagai tempat ibadah dan pengajian-pengajian Islam.

Sebenarnya istana dan makam di kawasan ini terbuka untuk umum, namun karena masih terdapatnya sengketa tentang kepemilikian hak waris atas istana ini, membuat bagian dalam istana masih belum bisa diakses wisatawan.

Sangat disayangkan, karena keberadaan istana ini sangat penting sebagai wadah pembelajaran masa lalu bagi masyarakat Kota Tebing Tinggi khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

Apalagi penamaan Kerajaan Negeri Padang sendiri masih sering diartikan sebagai kerajaan yang didirikan dan dihuni oleh orang-orang bersuku Padang oleh masyarakat Kota Tebing Tinggi. 

Padahal nama Negeri Padang diambil untuk menggambarkan kondisi kerajaan yang dulunya berada di dataran tanah yang serta pepohonan yang rimbun. Jadi, lebih baik jika jejak sejarah ini bisa terbuka untuk umum dan menjadi sumber pembelajaran masyarakat tentang masa lalu Kota Tebing Tinggi. (nat/dbs) 

 


Back to Top