Keuangan Syariah Indonesia Makin Berkembang, OJK Catatkan Daftar Efek Syariah Tertinggi Sejak Tahun 2007

gomuslim.co.id- Pertumbuhan keuangan syariah di Indonesia dinilai cukup positif. Hal demikian terlihat dari adanya peningkatan efek syariah yang telah dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) beberapa waktu lalu. Tercatat, Daftar Efek Syariah (DES) periode II 2016 saat ini meningkat jumlahnya sebesar 24 emiten dan perusahaan publik menjadi 345 dari periode yang sebelumnya hanya berjumlah 231. Keputusan Nomor: Kep- 56/D.04/2016 tentang Daftar Efek Syariah yang akan mulai berlaku pada 1 Desember 2016 ini merupakan yang tertinggi sejak 2007 lalu.

Direktur Pengawas Pasar Modal Syariah OJK Fadilah Kartikasasi menuturkan, adanya peningkatan ini salah satunya adalah karena laporan keuangan. “Penerbitan keputusan tersebut didasarkan pada hasil penelaahan berkala yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan atas Laporan Keuangan Emiten dan Perusahaan Publik, data dan informasi pendukung, serta Daftar Efek Syariah yang telah ditetapkan sebelumnya,” ujarnya di Jakarta, Senin (28/11).  

Pada tahun 2007, periode I DES tercatat sebanyak 174 efek dan periode II sebanyak 183 efek. Jumlah tersebut terus mengalami peningkatan dan pada 2013 pernah tercatat mencapai 336 efek di periode II dan pada periode I sebanyak 310 efek. Fadilah mengatakan perkembangan saham syariah antara 2013-2015 pernah mengalami fluktuasi.

OJK mencatat pada periode II 2014 terdapat 334 efek dan periode I sebesar 322. Sementara, pada 2015 tercatat jumlah DES periode I dan II stagnan yakni sebesar 331. Padahal, menurut Fadilah biasanya pada periode II jumlah DES yang tercatat lebih besar dari periode I. “Ada laporan keuangan yang terlambat, mungkin karena restrukturisasi,” katanya

Dari 345 saham emiten dan perusahaan publik pada DES Periode II 2016 terdapat tiga saham emiten dan perusahaan publik dari entitas syariah. Sementara, terdapat 342 saham emiten dan perusahaan publik yang tidak menyatakan bahwa kegiatan usaha serta pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip syariah, tetapi memenuhi kriteria sebagai saham syariah.

Sumber yang digunakan untuk melakukan penelahaan atas emiten dan perusahaan publik yang tidak menyatakan bahwa kegiatan usaha serta cara pengelolaan usahanya dilakukan berdasarkan prinsip syariah adalah Laporan Keuangan yang berakhir pada 30 Juni 2016. Selain itu, ada pula data pendukung lainnya berupa data tertulis dari emiten atau perusahaan publik yang diterima oleh OJK sampai 15 November 2016.

Sementara itu, Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal I OJK Sarjito mengungkapkan, periode I berlaku pada akhir Mei dan November yang efektif pada 1 Juni dan 1 November mencatatkan hanya berjumlah 321 saham emiten dan perusahaan terbuka. “Jadi DES periode II yang berlaku 1 Desember 2016 terdiri dari 345 saham emiten dan perusahaan publik," kata Sarjito di Kantor OJK, Jakarta, Senin (28/11/2016).

Dari jumlah 345 tersebut, DES terbesar berasal dari sektor perdagangan, jasa, dan investasi sebanyak 87 saham atau 25,2% dari total DES, diikuti sektor properti, real estate dan konstruksi bangunan sebanyak 58 saham atau 16,81% dan DES dari sektor industri dasar dan kimia 52 saham atau 15,07% dari total DES. Dari jumlah 345 saham emiten tersebut, DES terbesar berasal dari sektor perdagangan, jasa, dan investasi sebanyak 87 saham atau 25,2 persen dari total DES. Setelah itu, sektor properti, real estate, dan konstruksi bangunan sebanyak 58 saham atau 16,81 persen serta di sektor industri dasar dan kimia terdapat 52 saham atau 15,07 persen dari total DES.

Sebagai informasi, Daftar Efek Syariah (DES) merupakan panduan investasi bagi pihak pengguna Daftar Efek Syariah, seperti manajer investasi pengelola reksa dana syariah, asuransi syariah dan investor. Mereka yang mempunyai keinginan untuk berinvestasi pada portofolio Efek Syariah, serta referensi bagi penyedia indeks syariah, seperti PT Bursa Efek Indonesia yang menerbitkan Jakarta Islamic Index (JII) dan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).

Penerbitan didasarkan pada hasil penelaahan berkala yang dilakukan OJK atas laporan keuangan emiten dan perusahaan publik, data dan informasi pendukung, serta DES yang telah ditetapkan sebelumnya. “Jumlah ini merupakan angka DES tertinggi yang selama ini pernah tercatat,” tandasnya. (njs/dbs)


Back to Top