Turis Muslim Tak Perlu Khawatir, Kini Berburu Kuliner Halal di Tiongkok Lebih Mudah

gomuslim.co.id- Kuliner halal menjadi daya tarik tersendiri bagi turis muslim. Untuk itu, kini banyak negara di dunia mulai memproduksi kuliner halal, demi menarik minat para wisatawan ke negara mereka. Salah satunya adalah Tiongkok.

Kata “halal” dalam bahasa Mandarin disebut dengan Qingzhen Cai. Saat ini, kuliner halal di Tiongkok mudah ditemukan di sebagian kota besar, hal ini disebabkan karena banyak populasi umat Muslim di sana. Restoran kecil atau besar yang menyediakan makanan halal sudah lazim ditemui di Tiongkok karena banyaknya warga Muslim dari yang bermigrasi dari Tiongkok Barat. Biasanya restoran Muslim dirintis oleh imigram Muslim.

Di kota besar seperti Beijing dan Shanghai, hampir di tiap ruas jalan atau persimpangan ada restoran Muslim. Bahkan di kawasan pusat turis di Qianmen terdapat toko roti Muslim.

Jadi bisa dikatakan restoran Muslim adalah hal yang jamak atau wajar bagi penduduk lokal Tiongkok. Restoran Muslim di negara ini biasa juga disebut restoran halal. Pemiliknya adalah Muslim. Pekerjanya biasanya campuran, baik non Muslim maupun Muslim. Biasanya restoran Muslim adalah bisnis keluarga, maka dijamin tidak ada menu babi di sini.

Cara yang dapat dilakukan untuk menandai restoran adalah nama restorannya yang ditulis dengan huruf kanji Tiongkok ditambah huruf Arab. Di dalamnya biasa terdapat ornamen-ornamen simbol Islam seperti gambar Kabah dan kaligrafi huruf Arab. Menunya kebanyakan sama dengan retoran pada umumnya yaitu mi, nasi, dan dumpling, semacam pangsit yang dimasak ala dimsum.

Rasa dan aroma kuah mi lebih kental dengan rempah timur tengah seperti biji pala dan jinten. Dagingnya kebanyakan anak kambing atau biasa disebut mutton, kambing, dan sapi. Beberapa juga ada menu ayam. Kalau menu sayur atau vegetarian biasanya hampir sama dengan menu restoran pada umumnya.

Di restoran Muslim biasa ada beberapa menu khas yang berbeda yaitu sate daging sapi atau kambing muda. Dibakar ala sate dengan dilumuri bumbu rempah. Rasa rempahnya hampir sama rempah di Turki. Berbeda dengan sate di Indonesia, sate di Tiongkok potongan dagingnya besar. Satu tusuk bisa 2-3 kali suapan. Tusukannya saja besar dan panjang. Tusukannya ada yang dari besi ada juga yang dari kayu. Dijualnya juga satu tusukan, bukan per porsi sepuluh tusuk.

Kebanyakan orang lokal makan sate ini bukan ditemani nasi. Mereka lebih suka dengan roti, baik roti biasa maupun roti mantou yang dibakar. Biasa juga makan tanpa teman makanan lain atau digado. Sate biasa menjadi favorit saat santap malam bersama teman atau keluarga. 

Penggemar restoran Muslim bukan hanya para Muslim atau turis Muslim. Masyarakat lokal yang non Muslim banyak yang gemar makan di restoran Muslim. Mereka datang dan memilih makan di restoran Muslim karena rasanya yang enak dan berbeda dengan restoran pada umumnya. Rasa makanannya lebih kuat aroma rempah timur tengah yang memang tidak terlalu asing di lidah mereka.

Restoran Muslim juga dikenal dengan harga yang relatif murah. Berbagai menu yang sama bisa 3 sampai 5 Yuan lebih murah dibanding retoran lainnya atau sekitar Rp 6.000 sampai Rp 10.000.

Karena itu, bagi para turis Muslim, jangan takut kesulitan mencari kuliner di Tiongkok. Bahkan pengalaman wisata kuliner di Tiongkok lebih variatif karena menawarkan menu yang berbeda dari restoran pada umumnya. (nat/dbs)


Back to Top