Menanti Terbitan Regulasi Baru Giro Wajib Minimum, Begini Reaksi Perbankan Syariah

gomuslim.co.id- Aturan Giro Wajib Minimum (GWM) Averaging (rata-rata) kini tengah digodok oleh Bank Indonesia (BI). Kebijakan tersebut rencananya akan diterapkan pada semester II 2017 mendatang. Adanya aturan ini dianggap akan memberikan kemudahan bagi perbankan untuk mengelola likuiditasnya.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan kebijakan GWM Averaging ini merupakan best practice (praktik terbaik) yang sudah dijalankan di beberapa negara maju. “BI akan memperkenalkan GWM Averaging pada 2017 untuk memberikan ruang fleksibilitas bagi bank,” ujarnya dalam pertemuan tahunan BI di Jakarta Convention Center, Jakarta, belum lama ini.

Agus mengungkapkan Indonesia sebagai negara berkembang harus mencontoh praktik-praktik tersebut. “GWM Averaging ini merupakan best practice di negara-negara yang sudah mapan. Untuk itu kita akan mempersiapkannya sebelum diperkenalkan kepada seluruh industri perbankan di Indonesia,” katanya.

Rencana kelonggaran aturan GWM dengan perhitungan rata-rata ini ternyata mendapat sambutan beragam dari beberapa bankir syariah. Sejumlah bankir seperti BNI Syariah, BCA Syariah dan Bank Syariah Mandiri (BSM) pun membidik target pembiayaan dan dana pihak ketiga (DPK) lebih tinggi karena ada relaksasi.

Direktur Bisnis Konsumer BNI Syariah Kukuh Rahardjo menuturkan, GWM averaging akan melonggarkan likuiditas. “Bank akan lebih fleksibel mengelola likuiditas,” tuturnya. BNI Syariah optimistis pembiayaannya bisa tumbuh antara 16–20 persen di tahun depan, karena tertopang aturan GWM tersebut. Target ini lebih tinggi dari target tahun ini sebesar 14%. Per September 2016, pembiayaan BNI Syariah naik 15,08% menjadi Rp 19,53 triliun. Sementara DPK tumbuh 20,28% menjadi Rp 22,77 triliun per September 2016.

Sementara, Bank Syariah Mandiri (BSM) masih menunggu ketentuan detail yang akan terbit tahun 2017. Direktur Wholesale Banking BSM Kusman Yandi menyebut, aturan itu tidak akan menambah likuiditas di pasar perbankan secara signifikan. “Justru pelonggaran tersebut tidak akan membuat bank menjadi lebih agresif dalam ekspansi kredit,” ungkapnya. Tahun 2017 BSM menargetkan pembiayaan tumbuh moderat 9%–10%, dibandingkan tahun ini 7%. Per September 2016, penyaluran pembiayaan  BSM naik 5,2%.

Sedangkan Presiden Direktur BCA Syariah John Kosasih menilai, jika hitungan average selama dua minggu, maka efek terhadap likuiditas akan terasa. Tahun ini BCA Syariah mengincar pertumbuhan pembiayaan 15%–18%. Tahun depan  target kenaikan pembiayaan dan DPK mencapai 18%.

Dengan aturan ini, GWM primer yang semula persentasenya ditentukan secara harian. Diubah menjadi rata-rata periode tertentu. GWM Primer merupakan jumlah dana minimum yang wajib disimpankan oleh perbankan di BI. Saat ini besaran yang berlaku 6,5% dari jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dimiliki perbankan.

Agus menjelaskan dengan adanya aturan ini perbankan tidak perlu me-maintance likuiditasnya setiap hari. Diharapkan aturan ini bisa memberikan ruang fleksibilitas pengelolaan likuiditas bagi bank. “Jadi tidak perlu tiap hari maintainance likuiditasnya minimum sama dengan GWM. Ada kesempatan bisa lebih rendah. Tapi dalam waktu tertentu, rata-rata dia harus memenuhi kewajiban GWM,” paparnya.

Sementara itu, ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai penerapan GWM Averaging merupakan bentuk antisipasi BI terkait dengan adanya rencana Bank Sentral AS untuk menaikkan suku bunganya. “Jadi ini lebih kepada BI memberikan fleksibilitas untuk perbankan mengelola likuiditasnya. Karena kita tahu sendiri kemarin akhir periode Tax Amnesty sendiri banyak bank yang kesulitan likuiditas karena ada deklarasi dari pajak,” katanya.

Menurutnya, melalui GWM Averaging kewajiban bank dalam menaruh simpanan di giro BI akan dihitung secara rata-rata per periode. “Jadi dalam periode tertentu satu minggu, dua minggu itulah yang saya pikir yang harus dimaintain dari perbankan sehingga bisa lebih optimal lagi ya operasi placement misalkan di surat berharga ataupun di instrumen BI lainya,” jelasnya. (njs/dbs)


Back to Top