NTB Serius Akurasikan Arah Kiblat dengan Program Kalibrasi

gomuslim.co.id- Dalam bahasa Arab Kiblat artinya merujuk arah yang dituju saat seorang Muslim mendirikan shalat. Saat ini, aktivitas penentuan arah kiblat dengan menggunakan kecanggihan alat-alat modern bukanlah hal yang baru. Dalam Islam, penggunaan alat modern (kompas) untuk tujuan tersebut diperbolehkan karena memberikan hasil kesimpulan yang sama nilainya dengan ijtihad, yakni sama-sama menghasilkan kesimpulan yang bersifat zhanni.

Pembimbing syariah di Nusa Tenggara Barat (NTB) H. Khairi menyinggung penggunaan kompas (bait al-ibrah) yang dinilai canggih dan modern sebagai sarana penunjuk arah kiblat. "Bahwa alat-alat semacam GPS, Theodolit dan Google Earth boleh dan sah dijadikan sebagai sarana bantu mencari arah kiblat," ungkapnya.

Berawal dari latar belakang inilah, Kementerian Agama Provinsi NTB melalui pembimbing syariah merasa perlu untuk melakukan pengukuran atau kalibrasi arah kiblat. Hal ini pun semata-mata sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap aspek peribadatan umat islam. 

Khairi mengatakan memahami dan menyadari bahwa cakrawala fiqih Islam teramat luas. Dia mengakui saat ini banyak ijtihad-ijtihad fiqhiyah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, termasuk yang berhubungan dengan kiblat. 

"Karena hal itu, status data-data yang dihasilkan dari metode dan peralatan yang kami jadikan instrumen pengukuran modern mesti dipahami sebagai bentuk upaya ijtihadiyah yang bersifat zhanni, yang tentunya sejajar dengan ijtihad-ijtihad ulama terdahulu dalam menentukan arah kiblat," ujarnya.

Khairi menambahkan masih banyak masyarakat yang tidak memahami arah kiblat dan penentuan arah kiblat suatu bangunan rumah ibadah. Hal ini, karena mereka masih mengandalkan pekerja bangunan (tukang). Akibatnya, patokan arah kiblat masih mengarah ke barat, tidak memahami berapa derajat sebenarnya dari arah utara atau. Dengan kata lain, masih sekitar lima puluh persen kesalahan persis kearah barat.

Lewat program ini, terdapat 198 bangunan masjid dan mushala se-Pulau Lombok menjadi sasaran Tim Kalibrasi Kanwil Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tim ini turun mengecek kembali posisi sebenarnya dari masjid dan mushalla tersebut

Salah satu Tim Kalibrasi Kanwil Kemenag Provinsi NTB, Ida Suryati mengatakan dari pelaksanaan kalibrasi yang dilakukan, tim berharap untuk dapat menghasilkan tujuan dengan menggunakan beberapa strategi dan metode. Meliputi kegiatan aktivitas bersama masyarakat dan tokoh agama dalam menentukan arah kiblat. 

"Kegiatan ini dirasa penting, karena hampir semua masjid di NTB belum tersertifikasi pemutahiran kalibrasi arah kiblat dan belum ada kemandirian serta kemampuan dari takmir masjid untuk menentukan waktu shalat yang harus disesuaikan dengan wilayah masing-masing," ujar Ida. 

Pada mulanya, kiblat mengarah ke Yerusalem. Menurut sebuah riwayat, dari Ibnu Katsir, Rasulullah SAW dan para sahabat shalat dengan menghadap Baitul Maqdis. Namun, Rasulullah lebih suka shalat menghadap kiblatnya Nabi Ibrahim, yaitu Kakbah. Karena itu, Rasulullah sering shalat di antara dua sudut Ka'bah sehingga Ka'bah berada di antara diri Rasulullah dan Baitul Maqdis. Dengan demikian Rasulullah salat sekaligus menghadap Kakbah dan Baitul Maqdis.

Setelah hijrah ke Madinah, hal tersebut tidak mungkin lagi. Rasulullah shalat dengan menghadap Baitul Maqdis. Rasulullah sering menengadahkan kepalanya ke langit menanti wahyu turun agar Kakbah dijadikan kiblat shalat. Allah pun mengabulkan keinginan Rasulullah dengan menurunkan ayat 144 dari Surat Al-Baqarah. (nat/dbs)


Back to Top