Tebar Kebaikan, Begini Cara Umat Islam Berdakwah di Jejaring Sosial

gomuslim.co.id- Berbagi informasi positif dan bermanfaat atau berdakwah melalui interaksi sosial maupun jejaring sosial merupakan sebuah bentuk amal jariah. Hal tersebut juga termasuk dalam Taqarrub Ilallah yang artinya melaksanakan ketaatan kepada Allah dengan menjalankan kewajiban-kewajiban dan larangan- larangan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI) Ibnu Hamad dalam diskusi bertema Pengaruh Media Sosial dalam Dakwah Islam di kantor MUI, Jakarta, Jumat (25/11), mengatakan bahwa, dakwah di media sosial (medsos) tidak boleh hit and run, namun harus mempertahankan keterikatan, karenanya dakwah di medsos harus direncanakan.

Dalam pandangan Ibnu, dakwah harus dilakukan dengan baik, termasuk di media sosial, jangan hit and run. Karena, dakwah punya tujuan dan efek yang ingin dicapai.

"Pernahkah kita evaluasi tingkat keberhasilan dakwah kita? Karena, selain rencana, ada pilihan media untuk menyampaikan dan evaluasi yang harus dilakukan," ujar Ibnu.

Menurutnya para dai harus berani mengevaluasi hasil dakwahnya. Jangan sampai umat hanya mendapat efek kognitif. Karena itu, dakwah harus direncanakan, terlebih dakwah memiliki bentuk yang beragam, seperti dakwah bi lisan, bil hal, termasuk dakwah bi sulthan (dakwah dengan kekuasaan dan kekuatan). Dia melanjutkan, untuk mempertahankan keterikatan dengan objek dakwah, berdakwah di media sosial harus ada administratornya.

"Kalau tidak, para follower akan kecewa dan mereka akan meninggalkan kita," katanya. Hal ini dirasa sangat penting untuk memenangkan pertarungan dakwah di medsos. Harus ada desain dan konten yang bagus serta cara menghadapi para peretas agar umat tidak tersesat.

"Kita harap informasi ulama jadi rujukan utama informasi yang benar," katanya. 

Di forum yang sama, pengamat media sosial, Ibnu Dwi Cahyo menekankan pentingnya konten dan distribusi dalam menyampaikan pesan dakwah di medsos. Konten dan distribusi juga harus menyesuaikan dengan perkembangan terbaru medsos dan penggunanya.

Ibnu Dwi menjelaskan banyak informasi di medsos yang akhirnya viral dan menarik perhatian. Hal itu tidak lepas dari kualitas konten dan distribusi. Di medsos, dakwah Islam akan berhadapan dengan aneka konten negatif yang jumlahnya luar biasa banyak.

Bila para ulama dan media Islam tidak bisa menawarkan konten alternatif, anak muda saat ini akan mengikuti dan menikmati konten yang ada di medsos saat ini. "Content is King, distribution is King Kong, sebagus apa pun konten, kalau tidak terdistribusi, ya tidak jadi apa-apa," ujarnya.

Berdasarkan hasil riset Nielsen, orang tidak menyukai iklan, namun lebih memiliki preferensi pada rekomendasi teman atau sosok yang jadi panutan. Karena itu, dia menyarankan agar para tokoh agama, organisasi, dan media Islam memiliki fanpage tersendiri di facebook atau jejaring sosial lainnya. (nat/dbs)


Back to Top