Dorong Kemajuan Pendidikan Islam, Kemenag RI Siapkan 91.000 KIP Santri

gomuslim.co.id- Pemerataan pendidikan Islam dengan sekolah-sekolah umum di Tanah Air terus diupayakan oleh pemerintah. Saat ini tidak hanya siswa di sekolah yang mendapatkan Kartu Indonesia Pintar (KIP), tetapi juga santri di seluruh pesantren di Indonesia. Pemerintah melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kemenag RI mencatat, kini sudah ada lebih dari 91 ribu KIP santri siap didistribusikan.

Pengadaan Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk santri salafiyah tersebut disebut telah siap. Kesiapan ini ditandai dengan penyerahan KIP secara simbolis oleh Menag Lukman Hakim Saifuddin kepada dua orang santri saat rilis i-Santri Digital Corner di Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo. KIP itu diserahkan kepada Muhammad Hadi bin Sukarjo dari Ponpes Babussalam, Suboh, Situbondo dan Luluk Atus Sonia dari Ponpes Miftahul Jannah, Besuki Situbondo.

Direktur PD Pontren Mohsen menyebutkan, hingga saat ini total sudah ada 91.448 KIP yang dibagikan kepada para santri yang membutuhkan di seluruh pesantren di Indonesia. Jumlah tersebut, kata dia, merupakan gabungan dari distribusi KIP yang dilakukan secara bertahap.

“Distribusi KIP tahap pertama diserahkan secara simbolis juga oleh pak menteri saat penutupan Pekan Olahraga dan Seni Pondok Pesantren tingkat Nasional (Pospenas) ke-VII di Serang, beberapa waktu lalu. Saat itu, ada 42.593 KIP yang dibagikan kepada para santri. Artinya, KIP yang didistribusi pada tahap kedua ini berjumlah 48.855 kartu,” paparnya.

Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin menyebutkan KIP menjadi penanda bagi para santri dan seluruh anak bangsa untuk terus melanjutkan dan mengikuti layanan pendidikan sampai jenjang yang lebih tinggi, baik di sekolah maupun madrasah. Bahkan, lanjutnya, santri yang tidak mengenyam pendidikan formal, di sekolah dan madrasah, juga mendapatkan KIP.

“KIP ini sebagai wujud kehadiran Negara untuk mendorong para santri dari keluarga yang kurang mampu agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Santri tidak boleh merasa minder dengan anak-anak yang duduk di bangku sekolah umum, justru dengan adanya KIP santri ini menunjukan semuanya sejajar dimata pemerintah,” ujarnya.

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin dalam sambutannya mengatakan data Kartu Indonesia Pintar (KIP) bagi para santri yang sudah siap didistribusikan, pasti akan terus bertambah. Hal demikian seiring dengan proses pengadaan KIP yang masih berjalan hingga akhir tahun nanti. “Data ini akan terus bertambah banyak,” ucapnya.

Hal sama disampaikan Anggota Tim Program Indonesia Pintar pada Pendidikan Keagamaan Islam tingkat pusat Suwendi. Menurutnya, proses pengadaan juga terus dilakukan sehingga jumlah KIP yang siap didistribusikan akan terus bertambah hingga akhir tahun. “Kementerian Agama sudah menyalurkan lebih dari Rp 40 Miliar anggaran manfaat Program Indonesia Pintar (PIP) kepada para santri yang membutuhkan. Anggaran sebesar ini didistribusikan kepada 55.689 santri,” ungkapnya.

Jumlah ini juga akan terus bertambah seiring dengan proses pencairan anggaran. Sebab, lanjut Suwendi, pada tahun anggaran 2016, Kementerian Agama telah mengalokasikan anggaran manfaat KIP pada pondok pesantren lebih dari Rp159 Miliar untuk 190.000 santri. Selain di pusat, sebagian dari anggaran ini berada di Kanwil Kemenag Provinsi dan Kantor Kemenag Kabupaten atau Kota.

Sebagai informasi, KIP santri ini disyaratkan yang tidak berstatus sebagai murid SD/SMP/SMA maupun MI/MTs/MA. Program ini dibagi menjadi 3 (tiga) kategori yaitu; Kategori 1 (Rp. 450.000,-/tahun). Pada kategori ini, santri program wajar Dikdas PPS tingkat Ula setara dengan paket A pada Pesantren atau setingkat MI. Santri ini juga hanya mengajidan berusia 6 sampai 12 tahun.

Kedua, kategori 2 (Rp. 750.000,-/tahun). Pada kategori ini adalah untuk santri program wajar Dikdas PPS tingkat Wustha setara dengan Paket B pada Pesantren atau setingkat MTs. Santri ini hanya mengaji di pondok pesantren yang tidak sekolah pada pendidikan umum atau non formal dengan ketentuan berusia 13 sampai 15 tahun.

Ketiga, kategori 3 (Rp. 1.000.000,-/tahun). Pada kategori ini, santri program menengah Universal pada PPS tingkat Ulya atau setara dengan Paket C pada Pesantren. Santri ini hanya mengaji di pondok pesantren yang tidak sekolah pada pendidikan umum atau non formal dengan ketentuan berusia 16 sampai 21 tahun.

Adapun mengenai kriteria santri Penerima Program Indonesia Pintar Pesantren ini yaitu; santri berasal dari keluarga pemegang Kartu Keluarga Sejahtera (KKS)  atau memenuhi salah satu kriteria seperti peserta Program Keluarga Harapan (PKH), pemegang Surat Keterangan Rumah Tangga Miskin (SKRTM), korban musibah bencana alam, memiliki hambatan ekonomi, santri yatim piatu, dan pertimbangan lain (kelainan fisik, korban konflik sosial), serta berada pada usia sekolah.

Dalam kriteria khusus penerima manfaat Program Indonesia pada Kementerian Agama disebutkan bahwa Santri Pesantren pada pendidikan Keagamaan Islam wajib bermukim di pesantren. Penggunaan dana KIP sendiri untuk kebutuhan santri seperti; pembelian buku atau kitab dan alat tulis, pakaian dan alat perlengkapan pendidikan seperti sepatu, tas, biaya transportasi, uang saku, iuran bulanan, biaya kursus atau pelatihan dan keperluan lain yang berkaitan dengan kebutuhan pendidikan. (njs/dbs)


Back to Top