Jadi Destinasi Wisata Religi, Inilah Jejak Sejarah Islam di Kota Soppeng Sulawesi Selatan

gomuslim.co.id- Kabupaten Soppeng adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan. Ibu kota kabupaten ini terletak di Watansoppeng. Kota ini terkenal dengan peninggalan sejarah keislamannya yang kental.

Islam telah masuk pada periode awal abad ke-17 Masehi atas prakarsa raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin. Islam diterima sebagai agama resmi kerajaan Soppeng pada tahun 1609 pada masa pemerintahan Datu Soppeng ke-14 bernama Datu Beoe.

Sebagai salah satu kota yang memiliki kerajaan pada masa lalu, Kabupaten Soppeng di Sulawesi Selatan sangat kaya akan peninggalan sejarah. Selain peninggalan tak benda berupa adat istiadat, ada juga peninggalan yang berbentuk fisik seperti makam.

Makam ini dikenal dengan nama ‘Jera Lompoe’, berada di bukit Desa Bila, Kecamatan Lalabata, Watansoppeng. Makam tersebut berada di ketinggian 135 meter di atas permukaan laut (mdpl), dikelilingi daratan yang yang lebih rendah, sehingga pemandangan lembah dan Watansoppeng terhampar jelas di depan mata.

Salah seorang koordinator makam yang berasal dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Kabupaten Soppeng, Matarimah mengatakan nama Jera Lompoe memiliki arti Makam Besar. Makam ini juga biasa disebut Makam Agung atau Makam Raja, karena ada 30 raja yang dimakamkan di sini.

Hal yang menjadi daya tarik adalah para raja tak hanya berasal dari Kerajaan Soppeng. Ada juga raja dari Kerajaan Bugis, seperti Kerajaan Luwuk dan Kerajaan Sidenreng. Semua raja di sini bergelar Datuk.

“Makam ini berasal dari abad ke 17 menurut peneliti arkeologi. Pernah juga diteliti isi jenazahnya tahun 77 sebelum dipugar, ternyata proses pemakamannya sudah menggunakan cara Islam. Berarti setelah Kerajaan Soppeng menganut Islam pada 1609,” ungkap Matarimah.

Sampai saat ini, keturunan-keturunannya para raja masih sering berziarah untuk berdoa hingga meminta restu. Namun tidak sembarang orang dapat berdoa di kompleks makam ini, hanya keturunan raja atau bangsawan yang diperbolehkan berdoa di depan makam rajanya.

“Biasanya yang mau berdoa didata dulu, dia keturunan siapa dan mau berdoa ke makam siapa, jadi tidak sembarang orang. Agar tidak dimanfaatkan yang aneh-aneh oleh sembarang orang," tutur Matarimah.

Di tempat ini,  pengunjung dapat mempelajari karakter makam-makam raja. Walau dimakamkan dengan cara Islam setelah Soppeng menganut Islam dari Kerajaan Gowa, desain makam-makam di sini sangat dipengaruhi zaman megalitik atau prasejarah.

Secara keseluruhan, bentuk makam seperti bangunan rumah dan bagian atasnya ditancapkan nisan besar yang menyerupai bangunan megalitik. Mayoritas jirat masih berbentuk kubur peti batu seperti masa prasejarah, ada juga yang lebih 'modern' menyerupai rumah Bugis. Ragam hiasnya merupakan pelestarian motif-motif seperti hulu keris dan mahkota raja.

“Makam raja Bugis memiliki dua nisan yang terletak di depan dan belakang. Raja laki-laki memiliki nisan yang sejajar, sedangkan raja perempuan memiliki satu nisan yang lebih tinggi dari nisan satunya,” kata Matarimah menambahkan.

Di sekeliling makam terdapat taman yang luas dan indah, dipenuhi pepohonan yang tinggi seperti kelapa. Konon taman ini sudah ada sejak kompleks makam raja-raja tersebut ditemukan. (nat/dbs)


Back to Top