Gelar Lokakarya Penerbitan Mushaf Alquran, LPMQ Akan Tingkatkan Layanan Online Tahun Depan

gomuslim.co.id- Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) merupakan lembaga penting dalam penerbitan dan pencetakan Alquran di dalam negeri. Lembaga satker khusus tashih Kementerian Agama ini terus berupaya memperkuat pembinaan dan pengawasan terhadap kesalahan cetak pada Alquran. Sebelum diterbitkan dan diedarkan di Indonesia, Alquran harus melalui proses tashih.

Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 44 Tahun 2016 tentang Penerbitan, Pentashihan, dan Peredaran Mushaf Alquran telah diterbitkan Kementerian Agama. Dalam PMA ini diatur hal-hal terkait penerbitan mushaf Alquran, mulai dari penerbitan, pentashihan, peredaran, pembinaan dan pengawasan, serta sanksi administrasi.

PMA baru-baru ini telah menyempurnakan dan merangkum regulasi terdahulu yang terbit sejak tahun 1957 - 1982 dan 1984. Lahirnya PMA ini akan menjadi landasan kerja LPMQ agar proses memuliakan dan menjaga keterpeliharaan kitab suci umat Islam dilakukan secara komprehensif. Demikian disampaikan Pgs Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran (LPMQ) Muchlis M Hanafi.

Lebih lanjut, Doktor Tafsir lulusan Al Azhar Kairo ini menjelaskan proses pemuliaan dan pemeliharaan dilakukan sejak dari hulu sampai ke hilir, mulai dari penerbit yang menyiapkan naskah master, LPMQ yang mentashih, percetakan yang mencetaknya, dan distributor yang mengedarkannya.

“LPMQ akan melakukan pembinaan dan pengawasan di semua lini. Sehingga kesalahan cetak dan penyalahgunaan limbah bahan-bahan cetakan Alquran dapat diminimalisasi,” ujarnya.

Selain itu, Muchlis mengaku bahwa selama ini LPMQ hanya terlibat dalam mentashih naskah master Alquran saja. Sepanjang tahun 2016, Kemenag sudah mengeluarkan 290 tanda pentashihan mushaf Alquran. “Layanan ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2015 yang mengeluarkan 241 tanda tashih,” jelasnya.

Untuk diketahui, baru-baru ini LPMQ menggelar Lokakarya Penerbitan Mushaf Alquran bertajuk “Wajah Baru Regulasi Penerbitan, Pentashihan, dan Peredaran Mushaf Alquran di Indonesiai” di Bekasi. Kegiatan ini diikuti utusan penerbit Alquran, Bimas Islam, dan LPMQ.

Sejumlah narasumber hadir untuk mendiskusikan bersama persoalan terkait penerbitan dan pentashihan Alquran pasca-keluarnya PMA baru tersebut. Selain mentashih, ke depan, Muchlis berharap, peran LPMQ bisa lebih kuat dan luas lagi sebagaimana yang diatur dalam PMA 44/2016, terutama pada aspek pembinaan dan pengawasan.

Pada kesempatan sama, Kabid Pentashihan LPMQ Abdul Aziz Sidqi menuturkan, sejak tahun 2015 lalu, LPMQ telah menerapkan layanan tashih Alquran berbasis online. Tahun depan, LPMQ berencana menyempurnakan kembali sistem layanan ini agar lebih mudah digunakan masyarakat, khususnya para penerbit Alquran.

LPMQ Keluarkan 290 Tanda Tashih di Tahun 2016

“Tahun depan, LPMQ akan terus melakukan perbaikan untuk layanan yang lebih mudah, efisien, dan (pihak penerbit) tidak perlu hadir ke Jakarta,” kata Aziz.

Sejak awal, lanjut Abdul Aziz, layanan online ini dikembangkan agar dapat mempermudah proses pentashihan. Sayang, sampai saat ini, belum banyak penerbit yang memanfaatkan sehingga proses tashih dilakukan manual. Padahal, proses layanan online sangat mudah dan efisien. Semua data dari penerbit juga akan tersimpam secara otomatis. Jika di kemudian hari terjadi masalah, data masih ada. “Layanan ini sangat simpel,” ungkapnya.

Meski demikian, Aziz mengakui bahwa layanan ini masih banyak kekurangannya dan perlu penyempurnaan dan perbaikan. Salah satunya, pengiriman naskah Mushaf Alquran belum bisa dilakukan 30 juz secara langsung.

Ke depan, Aziz berharap penerbit dapat memanfaatkan layanan ini. Saran dari penerbit juga diharapkan untuk perbaikan layanan online. “Setelah naskah mushaf Alquran diterima LPMQ, akan dilakukan pentashihan secara manual terhadap lembaran-lembaran yang ada. Proses pentashihan bermula dilakukan dari data online, dan selanjutnya pengiriman utuh dilakukan secara manual melalui kantor pos,” paparnya.

Hal sama ditegaskan Kasi Pentashihan Fahrur Rozi. Menurutnya, pada 2017, LPMQ akan memperkuat teknologi informasi untuk memberikan layanan yang lebih baik terkait tashih Mushaf Alquran. Penguatan itu antara lain dengan menambah server dan mengembangkan aplikasi.

Harapannya, selain akses tashih online lebih cepat, file naskah tashih 30 juz bisa disimpan, serta tashih dapat dilakukan secara realtime oleh pentashih melalui gadget. LPMQ juga akan merambah aplikasi berbasis android dan IOS agar memudahkan masyarakat, baik dalam akses layanan tashih online maupun pelaporan mushaf bermasalah.

Semantara terkait pengawasan, Kasi Pembinaan dan Pengawasan Liza Mahzumah menjelaskan, LPMQ terus memantau para penerbit Alquran. Pengawasan juga dilakukan pada event pameran Alquran serta dengan mengunjungi masyarakat secara langsung untuk melihat Mushaf Alquran yang terindikasi ada kesalahan atau lainnya.

“LPMQ sudah melakukan pembinaan ke wilayah DKI Jakarta, Bandung, Jateng. Pada 2017, kita akan lakukan pembinaan ke Sumatera dan Mataram,” kata Liza.

Kepada peserta lokakarya, Liza meminta, jika menemukan ada kesalahan dalam mushaf Alquran segera menyampaikan kepada LPMQ. Para penerbit yang menjadi kepanjangan tangan LPMQ juga dapat menyosialisasikan aturan terkait tashih dan pengawasan mushaf Alquran. “Mudah-mudahan kasus-kasus terkait mushaf Alquran tidak terjadi lagi," imbuhnya. (njs/dbs)


Back to Top