Begini Potensi Pasar Produk Halal di Bidang Farmasi Dunia

gomuslim.co.id- Selain makanan dan pariwisata, umat Muslim kini juga mulai melirik industri farmasi. Obat-obatan halal ini diproduksi dengan mematuhi hukum Syariah, bahkan terdapat kejelasan dari bahan bakunya yang tidak mengandung sesuatu yang diharamkan. Lebih khusus, obat-obatan halal merujuk kepada obat-obatan yang seharusnya tidak mengandung bagian-bagian dari hewan seperti anjing, babi dan yang terutama dengan gigi runcing, serangga, alkohol dan zat lainnya yang dilarang atau disebut haram dan berada di bawah hukum Syariah.

Lembaga pengolahan Obat dan Makanan di berbagai negara umumnya memberikan pemisahan yang lebih baik mengenai klasifikasi obat sebagai halal atau 'haram' di seluruh dunia. Sementara farmasi halal juga harus mengikuti pra-pemasaran dan pasca-pemasaran yang  dikontrol oleh regulator farmasi nasional yang relevan seperti Biro Pengawasan Farmasi Nasional seperti halnya Malaysia.

Dilansir dari publikasi Medgadget (02/12), pasar produk halal untuk obat-obatan memiliki potensi yang besar secara global dalam hal meningkatkan pendapatan yang didukung oleh meningkatnya permintaan untuk obat-obatan halal yang berasal dari populasi Muslim yang berkembang.

Namun, obat halal ini juga harus disetujui oleh badan sertifikat obat halal seperti Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan Dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) di Indonesia dan Jabatan Kemajuan Islam di Malaysia, serta diharapkan untuk dapat menstimulus meningkatnya konsumsi global untuk produk obat-obatan halal.

Saat ini, obat-obatan halal diperkirakan telah menyumbangkan hampir sepertiga dari total pendapatan dari pasar halal global. Hal ini merupakan peluang yang sangat baik untuk pelaku industri obat halal. Jumlah ini didukung oleh fakta bahwa permintaan melebihi pasokan obat-obatan halal dengan margin yang signifikan, menciptakan potensi peningkatan nilai ekonomi bagi industri obat-obatan di masa depan.

Cara Meningkatkan Permintaan Obat Halal

Permintaan dari pasar farmasi halal mencakup populasi Muslim yang berkembang. Jika dilihat dari jumlah umat Islam yang diperkirakan mencapai 1.6 miliar jiwa ini, permintaan akan obat-obatan halal akan meningkat pesat. Sementara itu, publikasi tersebut juga menyebutkan, upaya untuk meningkatkan kesadaran di kalangan umat Islam tentang kesehatan dan obat-obatan bisa dilakukan melalui sektor pendidikan.

Pendidikan sendiri merupakan faktor penting lainnya yang berkontribusi terhadap pertumbuhan pasar obat halal. Sedangkan faktor-faktor sosial ekonomi lainnya ikut men-drive kebutuhan dan penyerapan obat-obatan halal asalkan terjadi peningkatan daya beli masyarakat, meningkatkan akses terhadap obat-obatan hala yang didiukung oleh organisasi publik seperti World Health Organization, keamanan konsumsi, serta jaminan keberhasilan produk dan pengolahan yang higienis.

Peningkatan kebutuhan untuk mendapatkan sertifikasi obat-obatan halal dari badan pengawas menjadikan adanya pemusatan regulasi di pasar obat-obatan halal di antara negara-negara seperti Malaysia, Indonesia dan Brunei, Turki, Perancis dan lain-lain.

Setidaknya, terdapat dua buah alasan penting kenapa penetrasi obat-obatan halal akan cepat diteria di negara yang mayoritas penduduknya beragama muslim. Pertama, obat-obat ini sepenuhnya kompatibel dengan keimanan umat Muslim dan begitu mudah diterima di bawah hukum. Kedua, obat ini sangat baik dinilai untuk kualitas dan sertifikasi sebelum dilepaskan ke pasar dan sebagian besar dibuat dengan menggunakan bahan-bahan herbal dan sintetis.

Pasar untuk obat-obatan halal diharapkan untuk mencapai Compound Annual Growth Rate (CAGR) yang signifikan serta tingkat pertumbuhan tahunan selama periode proyeksi.  (ari/dbs)

 


Back to Top