Berdampingan dengan Islamic Center, Hotel Syariah Segera Berdiri di Kota Samarinda

gomuslim.co.id- Penguatan pariwisata halal terus dilakukan di beberapa daerah. Salah satunya di kota Samarinda, Kalimantan Timur. Baru-baru ini, Pemkot Samarinda bersama PT Wijaya Utama Lestari (WUL) berencana membangun hotel syariah. Pembangunan hotel tersebut kabarnya akan dilakukan persis di samping Masjid Islamic Center Samarinda.

Rencana pembangunan Primebiz Hotel ini sebelumnya mendapat penolakan dari warga setempat. Hal demikan karena pembangunan hotel di atas lahan eks PT Inhutani. Namun, kabar terkini menyebutkan bahwa pemkot Samarinda menyetujui rencana proyek tersebut asalkan investor bersedia memenuhi semua persyaratan operasional hotel.

PT WUL bersedia patuh pada Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Permenparekraf) 2/2014 tentang Pedoman Penyelenggaraan Usaha Hotel Syariah. Rencananya, izin mendirikan bangunan (IMB) Primebiz Hotel terbit dalam dua pekan yang akan datang. Hal itu berdasarkan pertemuan yang digelar Pemkot Samarinda dengan PT WUL, di ruang rapat wakil wali kota.

Manajemen PT WUL mempresentasikan konsep dan fasilitas hotel yang akan dibangun. Kriteria hotel adalah syariah hilal 1 yang merupakan standar terbaik hotel syariah. Mengusung konsep moeslem frindly hotel dengan jumlah kamar 152. Hotel 10 lantai itu bakal menyediakan kolam renang dan musalah terpisah antara laki-laki dan perempuan. Disediakan pula tempat olahraga khusus untuk pria.

Wakil Wali Kota Samarinda Nusyirwan Ismail mengungkapkan IMB yang diterbitkan secara khusus untuk hotel syariah. Investor diwajibkan untuk membangun buffer zone (zona penyangga) antara hotel dengan masjid dalam bentuk kanal atau taman. “Fasilitas spa tidak ada. Jadi, implementasi bangunan hingga aksesori hotel saya pastikan bernuansa muslim. Hotel ini tidak akan menjual minuman beralkohol,” ujarnya.

Lebih lanjut, Nusyirwan mengatakan investor juga wajib memastikan tersedia cukup lahan untuk pelebaran di Jalan Meranti. “Hal ini harus disertai dengan rekayasa lalu lintas untuk mengatasi ancaman kemacetan setelah hotel berdiri,” katanya.

Setelah IMB diterbitkan, kata Nusyirwan, pembangunan hotel sudah bisa dilakukan. Namun setelah selesai dibangun, hotel mesti lebih dulu melalui penilaian Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Jika memenuhi kriteria, maka DSN MUI bakal menerbitkan buku pedoman dan sertifikat hotel syariah. Setelah itu, barulah pemkot mengeluarkan izin operasional hotel,” jelasnya

Adapun, tambah Nusyirwan, soal Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sudah tidak ada masalah. Tidak ada lagi yang perlu diragukan dari pembangunan Primebiz Hotel. Desain yang dibuat investor sudah memenuhi semua peraturan yang disyaratkan.

Ia menambahkan, desain hotel akan mirip dengan Masjid Islamic Center. Kolam renang akan dipisah antara wanita dan pria. Sedangkan fasilitas fitnes dikhususkan untuk pria dan restoran yang tidak ada makanan haram.

“Restoran ada yang indoor dan out door, tidak ada spa dan yang lainnya. Ruang rapat yang dilengkapi musala juga terpisah bagi wanita dan pria,” paparnya.

Meski demikian, Nusyirwan menyampaikan jika masih menyisakan keraguan, pihaknya mempersilakan kepada pihak terkait mengonfirmasi kepada lurah, camat, dan MUI Kaltim maupun MUI Samarinda. “Pokoknya harus syariah, bahkan kalau ada akuisisi, ganti pemilik, konsep syariah harus tetap dilaksanakan. Jika tidak, maka izin operasional kami cabut. Tidak ada toleransi,” tegasnya.

Sementara itu, manajemen PT WUL menyerahkan kewenangan untuk menjelaskan progres pengurusan izin hotel kepada pemkot. Mereka juga meminta proses perizinan tetap berjalan mulus.

“Di tengah ekonomi yang terus melambat, investasi Primebiz Hotel jadi pertanda baik. Mematahkan kesimpulan umum yang menyebut saat ini investasi tengah lesu. Hotel ini juga bakal semakin memperkaya landmark Islamic Center, khususnya Samarinda sebagai kota jasa dan pariwisata di Kaltim bahkan Indonesia,” imbuhnya. (njs/dbs)


Back to Top