Inilah Tujuh Poin Utama Pembahasan HAM dalam Perspektif Islam di Forum MABIMS

gomuslim.co.id- Konferensi empat negara yang tergabung dalam Forum Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) telah dilaksanakan sejak 3 Desember lalu. Forum yang membahas tema Hak Asasi Manusia (HAM) dari perspektif Islam ini diikuti para pejabat setingkat Sekretaris Jenderal. Ada tujuh poin utama sebagai intisari dari pembahasan pada Senior Official Meeting (SOM) forum tersebut.

Rumusan ini dibahas kembali oleh para menteri agama empat negara, yaitu: Menteri di Jabatan Perdana Menteri Malaysia Mejar Jeneral Dato Seri Jamil Khir bin Haji Baharom selaku tuan rumah, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Hal Ehwal Ugama Negara Brunei Darussalam Pengiran Dato Seri Setia Haji Mohammad bin Pengiran Haji Abdul Rahman, dan Menteri Komunikasi dan Informasi Merangkap Menteri bertanggung Jawab Bagi Ehwal Masyarakat Islam Yacoob Ibrahim.

Adapun mengenai tujuh poin hasil dari forum MABIMS terkait HAM yang berlangsung di Kuala Lumpur tersebut yaitu; Pertama, masyarakat Islam sudah seharusnya membekali diri dengan ilmu dan keterampilan yang tepat melalui sumber yang terpercaya (muktabar) untuk menghadapi berbagai doktrin dan tantangan baru. Hal ini juga dimaksudkan untuk memastikan hak-hak yang diperjuangkan sesuai prinsip dan bebas dari unsur yang bertentangan dengan Islam.

Kedua, perlunya meneguhkan komitmen kehidupan beragama sebagai jalan hidup setiap Muslim agar mampu mensikapi realitas kehidupan saat ini sesuai prinsip dan panduan ajaran Islam. Ketiga, menggali titik persamaan pada nilai-nilai kemanusian, seperti: kehormatan (dignity), kebebasan dan kemerdekaan (liberty), kesetaraan dan kesamaan (equality), serta persaudaraan (brotherhood), sebagai dasar menjalin kerjasama terkait isu hak asasi manusia yang sejajar dengan Islam;

Keempat, menyebarluaskan pemahaman tentang Islam sebagai sistem nilai dan etika yang berkontribusi pada kebaikan bersama (common good). Kelima, memperkuat perjuangan hak asasi manusia yang sejalan dengan tuntutan Islam berdasarkan strategi berikut; menekankan prinsip-prinsip Islam sebagai sistem etika tentang hak asasi manusia, meningkatkan pemahaman masyarakat terkait prinsip hak asasi manusia menurut sistem etika Islam, meningkatkan efektivitas jaringan kerjasama di setiap Negara, baik antara otoritas agama, organisasi, maupun individu, guna memperkuat perjuangan isu-isu hak asasi manusia dari perspektif Islam

Keenam, MABIMS siap menjalin kerjasama strategis antar negara anggota dalam rangka membahas secara lebih dalam tentang hak asasi manusia dari perspektif Islam. Ketujuh, MABIMS bersepakat untuk menerbitkan makalah tentang konsep hak asasi manusia dari sisi Islam yang dibahas dalam sidang ini dengan atas nama MABIMS. Buku ini nantinya diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber informasi para peneliti dan bisa dijadikan referensi di tingkat negara anggota MABIMS, serta masyarakat antarbangsa.

Sekjen Kemenag Nur Syam menjelaskan, SOM MABIMS mengangkat tema bahasan seputar HAM dalam Perspektif Islam. “Tema ini dibahas semua anggota MABIMS. Di antara yang sangat penting adalah menegaskan bahwa Islam menghormati dan menghargai martabat manusia dan kemanusiaan. Karenanya diperlukan upaya strategis antar negara MABIMS, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama, untuk menggerakan supaya HAM memperoleh tempat dalam berbagai program yang dilaksanakan,” terangnya.

Selain masalah HAM, di forum SOM MABIMS ini juga dipaparkan sejumlah makalah sesuai fokus dan dan rencana strategis yang telah disepakati tahun lalu. Ada beberapa tema, antara lain: peningkatan hisab dan takwim hijriyah, penyelenggaraan umrah, peningkatan kualitas pemuda, serta peningkatan kualitas pendidikan.

“Kita memiliki dua plan strategi terkait MABIMS ini. Pertama, peningkatan kualitas pemuda sebagai calon pemimpin masa depan di negara MABIMS. Kedua, tentang hisab dan takwim kalender hijriyah. Ini dibicarakan dua hari kemarin,” katanya.

SOM juga menyepakati bahwa gelaran ke-42 tahun depan akan dilaksankan di Indonesia. “Rencananya akan ditempatkan di Indonesia Timur. Kita ingin membawa mereka ke Raja Ampat, sekaligus memperkenalkan tempat eksotik di Indonesia. MABIMS ke-18 akan dilaksanakan di Brunei Darussalam pada tahun 2018,” tandasnya. (njs/kemenag/dbs)


Back to Top