Untuk Gerakkan Ekonomi Produktif, BWI Beri Edukasi Wakaf kepada Masyarakat

gomuslim.co.id- Badan Wakaf Indonesia (BWI) berencana untuk mengintensifkan program edukasi wakaf kepada masyarakat. Hal ini bertujuan agar pemahaman tentang wakaf menjadi lebih baik dan holistik. Apalagi, wakaf erat kaitannya dengan dunia usaha, terutama sektor ekonomi produktif.

BWI bersama beberapa nazhir wakaf nasional seperti Dompet Dhuafa, Global Wakaf dan Al Azhar berupaya untuk membangun pemahaman yang utuh untuk menjadikan wakaf sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Upaya ini diwujudkan melalui peluncuran Forum Wakaf Produktif dan Inisiasi Pencanangan Hari Wakaf Produktif.

"Wakaf erat kaitannya dengan pengembangan ekonomi produktif, oleh karena BWI juga berkepentingan untuk melibatkan otoritas moneter dan otoritas jasa keuangan serta perbankan menjadi stake holder penting dalam bingkai strategi pengembangan wakaf nasional," ujar Ketua BWI Slamet Riyanto di Jakarta, Rabu (7/12).

Slamet mengatakan jalinan stake holder ini ke depannya diharapkan akan berlangsung secara sinergis dan berkelanjutan untuk menjawab beberapa masalah dan tantangan yang akan dihadapi. Tantangan tersebut yakni mengubah mindset masyarakat, bahwa wakaf dapat dikerjakan dalam bilangan-bilangan kecil sehingga tidak selalu dikerjakan dalam bilangan besar yang identik dengan kemampuan kelas menengah ke atas.

Dengan demikian, ungkap Slamet Riyanto, seluruh segmen masyakarat dapat menunaikan wakaf sesuai kemampuannya masing-masing melalui nazhir yang dapat menghimpun dan mengelolanya. Selain itu, perlu melakukan optimalisasi pengelolaan asset wakaf agar menjadi sumber ekonomi produktif yang dapat meningkatkan produksi serta menyerap lapangan pekerjaan.

Slamet juga menjelaskan optimalisasi sektor ekonomi ini juga akan memberikan multiplier efek positif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, termasuk kalangan mawkuf alaih atau penerima manfaat surplus wakaf yang dikelola.

Menurutnya, hal tersebut tidak akan terwujud jika belum ada sinergitas antar stake holder dunia wakaf. Sinergitas ini berfungsi untuk berbagi dan saling meningkatkan kompetensi pengelolaan asset wakaf yang menjamin  keberlangsungan usahanya. "Peran perbankan menjadi penting untuk melakukan terobosan-terobosan yang positif di dalam menstimulus dunia usaha berbasis asset wakaf," kata Slamet.

Lebih lanjut, ia juga menuturkan jikalau wakaf sejauh ini masih belum popular di masyarakat. Sebagai salah satu bentuk amalan muamalah dalam ajaran Islam, wakaf masih belum dipahami secara luas dalam segmen masyarakat dan juga belum dipahami secara mendalam tentang hakikat, ragam dan bentuknya.

"Masyarakat belum paham (konsep) wakaf, terutama di pedesaan yang tahunya (tanah) wakaf tidak boleh diapa-apakan," katanya.

Dia bercerita, ketika hendak membangun madrasah di tanah wakaf di suatu daerah, warganya tidak setuju dengan rencananya tersebut. Setelah ditelusuri, ternyata alasan yang disampaikan masyarakat cukup mengejutkan.

"Mereka bilang itu penghasilan untuk imam (masjid)," kata Slamet.

Untuk diketahui, saat ini sedikitnya sudah ada 121 perwakilan BWI di kabupaten dan 168 pengelola wakaf (nazir) yang terdaftar. Selain itu terdapat 16 bank syariah yang menjadi penerima wakaf uang." Jumlah wakaf uangnya sebesar Rp186 miliar saat ini," tukas Slamet (ari/dbs)


Back to Top