Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI)

Tak Hanya Bisa Mengaji, Kini Santri Bisa Kuatkan Ekonomi Negeri

gomuslim.co.id- Sebagai salah satu kelompok besar di Tanah Air, santri punya peranan penting di masyarakat. Selain dituntut untuk bisa mengaji, santri saat ini juga diminta untuk memperkuat ekonomi. Potensi besar di dalam diri santri dinilai dapat menopang perekonomian nasional. Hal demikan karena santri punya hubungan langsung yang mengakar ke bawah.

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) HIPSI Muhammad Nur Hayid belum lama ini. Ia menyebutkan selama ini, kaum santri selalu diidentikkan sebagai kelompok pengkaji ilmu agama. Mereka tidak pernah dipandang memiliki kemampuan dalam menggerakkan roda perekonomian.

“Padahal, para santri menyimpan potensi begitu besar dalam pengembangan ekonomi. Selama ini enterpreneurship (kewirausahaan) selalu didominasi kelompok lulusan perguruan tinggi. Padahal mereka tidak punya akar hingga ke bawah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Hayid mengatakan kaum santri punya akses langsung untuk bersentuhan dengan masyarakat. Hal itu merupakan potensi kaum santri yang tidak dimiliki kelompok pengusaha lulusan perguruan tinggi.

“Sayangnya, usaha kaum santri selalu dipotong kelompok tengkulak dan pengepul. Kita diposisikan sebagai konsumen murni, sehingga barang kita tidak bisa sampai ke pengguna langsung,” ucapnya.

Selain itu, kata Hayid, meski sebagai ahli agama, tidak semua santri berkesempatan menjadi pendakwah. Itupun jika orangtuanya seorang pendakwah atau memiliki pesantren. Sementara jumlah santri yang berasal dari keluarga selain pendakwah jauh lebih banyak. “Sehingga tujuan HIPSI berdiri adalah untuk mencetak santri menjadi pengusaha, karena tidak mungkin semuanya jadi kiai,” katanya.

Untuk diketahui, Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) sendiri mendeklarasikan diri pada tahun 2012. Saat itu kaum santri tergabung dalam sebuah pelatihan bersama. HIPSI bertekad keras mengubah untuk pandangan masyarakat tentang santri selama ini.

Sejak berdiri hingga saat ini, HIPSI telah memiliki anggota sebanyak 2.000 pengusaha. Selain itu, organisasi ini juga telah memiliki 18 Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan 200 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yang tersebar seluruh Indonesia. Bahkan, HIPSI telah memiliki perwakilan di sejumlah negara baik di Asia, Eropa, dan Australia.

Sebagai organisasi, HIPSI sadar betul kaderisasi merupakan kunci keberlanjutan visi. Tetapi, proses kaderisasi tidak selama berjalan mulus, disebabkan tidak semua santri tertarik menjadi pengusaha.

Menghadapi persoalan itu, HIPSI berusaha keras melahirkan jiwa pengusaha di kalangan santri. Salah satunya menjalin komunikasi dengan para pengelola pesantren agar memasukkan materi kewirausahaan di dalam kurikulumnya. “Jadi sejak dini santri sudah dikenalkan dengan pentingnya menjadi pengusaha. Kalau jadi santri harus jadi pengusaha,” imbuhnya.

Sebelumnya, Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) memberangkatkan sekitar 50 pengusaha dari kalangan santri ke tujuh negara di tiga benua yakni Asia, Afrika dan Eropa. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan profesionalisme pengusaha dari kalangan santri. Selain itu, upaya ini juga dimaksudkan untuk membangun jaringan internasional dalam bidang bisnis juga menambah jam terbang kaum santri dalam dunia ekspor-impor.

Tujuh negara yang dikunjungi pengusaha dari kalangan orang 'bersarung' itu di antaranya Malaysia, Qatar, Turki, Aljazair, Perancis dan Italia. “Ini adalah upaya dari kaum santri untuk mengenal dunia bisnis lebih luas. Dengan mengituti international expo di Aljazair dan bisnis meeting disetiap negara yang dikunjungi, kita harapakan peran dan eksistensi HIPSI ke depan semakin nyata dan kontributif bagi umat dan bangsa untuk kemajuan perekonomian nasional,” tandasnya. (njs/dbs)

 


Back to Top