Jadi Aset Dunia, Islam dan Demokrasi Punya Peran Penting Bawa Perdamaian Dunia

gomuslim.co.id- Selama puluhan tahun Islam dan demokrasi terus berjalan beriringan di Indonesia. Keduanya memiliki peranan penting dalam menjaga nilai-nilai toleransi dan perdamaian. Bahkan saat ini keduanya telah menjadi aset dunia yang sangat berharga. Hal ini menepis pandangan banyak negara dan penduduk dunia yang menyebut keduanya tidak bisa bersatu.

Demikian disampaikan Menteri Luar Negeri, Retno LP Marsudi dalam Bali Democracy Forum (BDF) IX di Nusa Dua, Kamis (8/12). “Demokrasi dan Islam di Indonesia menjadi aset pluralisme dunia. Ini bisa menjadi contoh bagi negara-negara lain dalam upaya menciptakan perdamaian yang menjadi harapan semuanya,” ujarnya.

Lebih lanjut Retno menuturkan, Islam dan demokrasi di Indonesia menjadi aset dunia karena banyak negara selalu membahas keduanya dalam berbagai forum demokrasi. Di Indonesia, keduanya menciptakan situasi dan suasana nyaman di mana semua orang bisa menyampaikan pendapat dan pengalaman masing-masing, khususnya dalam kehidupan berdemokrasi.

Pada kesempatan sama, Presiden Joko Widodo mengatakan, Indonesia adalah negara yang majemuk, terdiri dari berbagai macam suku dan budaya. Namun, Indonesia telah menjadi rumah dari berbagai agama yang selalu bisa menjaga perdamaian. “Nilai-nilai perdamaian itu lah yang dipegang teguh semua umat di Indonesia,” katanya.

Menurut Presiden, nilai perdamaian yang dipegang teguh umat Islam di Indonesia tidak lepas dari sejarah masuknya agama Islam ke Nusantara pada abad ke 7 yang masuk secara damai. Selain itu Presiden juga mengatakan, dengan semangat saling menghormati menjadi pesan penting untuk menjaga persatuan umat di dunia.

Sejak berabad lalu, agama memainkan peran penting bagi kehidupan manusia, sosial, ekonomi, dan politik di tatanan nasional, regional dan global. Selain agama, budaya dan toleransi menjadi benang merah yang mempersatukan dunia yang  berbeda. “Pemerintah perlu aktif mendorong sinergi agama, demokrasi, dan toleransi di mana semuanya terefleksikan dalam kebijakan nasional,” ungkapnya.

Dalam sambutannya, Joko Widodo juga menyinggung rencana kunjungan para peserta BDF IX untuk menyambangi Pondok Pesantren (Ponpes) Bali Bina Insani. Pondok pesantren tersebut adalah bukti dari toleransi di Indonesia, di mana sebuah Ponpes bisa berdiri di tengah-tengah masyarakat yang mayoritasnya beragama Hindu Bali. “Ini semua telah mendorong sinergi alamiah antara agama, toleransi dan demokrasi di Indonesia,” paparnya.

Menurutnya, rakyat Indonesia berkeyakinan melalui demokrasi, Indonesia akan menjadi lebih baik. Namun, demokrasi juga bukan merupakan hal yang bisa dibangun dengan instan. Menurut Presiden demokrasi adalah sesuatu yang baru bisa dibangun dengan sempurna setelah melui proses pembelajaran. “Artinya kita terus belajar dari demokrasi, dan kita perlu belajar dari pengalaman negara lain dalam berdemokrasi,” imbuhnya.

Sementara itu, mantan Sekretaris Jenderal PBB 1997-2006, Kofi Annan mengatakan dirinya percaya bahwa agama, demokrasi, dan pluralisme tidak saling menghalangi satu sama lain. Agama pada faktanya menggiring kemajuan dalam kehidupan sosial dan bernegara, bahkan di negara sekuler sekalipun.

“Agama tidak mengajarkan membunuh sesama. Agama adalah bagian dari prinsip pluralisme,” katanya. Semboyan Indonesia 'Bhinneka Tunggal Ika,' kata Kofi menjadi contoh bagi banyak negara di dunia. Kebudayaan Bali menjadi contoh unik di mana perbedaan bisa berjalan dengan damai di sebuah negara. (njs/dbs)


Back to Top