Menag: Pesantren dan Santri Punya Andil Besar dalam Pengajaran Islam Toleran dan Damai

gomuslim.co.id- Pesantren memiliki andil besar dalam mengajarkan Islam yang tasammuh (toleran), tawazun dan tawasut (moderat) kepada para santri. Hal ini disampaian Menteri Agama yang dulunya adalah santri ini dalam mengapresiasi kiprah pondok pesantren dalam mengajarkan Islam rahmatan lil alamain kepada generasi Indonesia

Hal ini disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddinsaat menghadiri Milad Pondok Pesantren Az Zainiyah Al Mubarakah Nagrog Salabintana, Sukabumi. Peringatan milad ini kali dibarengkan dengan haul satu tahun wafatnya KH Zezen Zainal Abidin (alm) yang merupakan pendiri pesantren.

"Selaku Menag, saya mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi keluarga besar Pesantren Az Zainiyah yang telah membantu pemerintah dalam ikut meningkatkan kualitas pendidikan keagamaan sehingga kualitas kerukunan hidup antar umat semakin membaik," ungkap Menag, Jumat (09/12).

Menag mengatakan, tantangan dunia pendidikan ke depan adalah menyiapkan generasi terbaik bangsa. Bagaimana kualitas generasi mendatang, sangat tergantung bagaimana generasi sekarang menyiapkan mereka. "Kita dituntut untuk terus menjaga warisan yang sudah baik, sambil berikhtiar membangun yang lebih baik lagi," tuturnya.

Pesantren Az-Zainiyah didirikan 36 tahun lalu oleh KH Zezen Zainal Abidin. Beliau wafat setahun lalu dan karenanya Milad ke 36 ini dibarengkan dengan haul pertama almarhum. Saat ini, pesantren diasuh putera beliau, KH Aang Abdullah Zain MPd.I.

“Saat ini memiliki 700 santri, 350 santri putera dan 350 santri puteri. Mereka belajar dari mulai RA, MI, MTs, dan MA,” terang Ayip Abdul Fattah Surodi, salah satu pengasuh di Pesantren Az-Zainiyah.

Terdapat 12 cabang ilmu yang diajarkan, yaitu: Nahwu, Sharaf, Balaghah (Ma'ani, Badi', Bayan), Maqulat, Wadlo' (ilmu dasar nahwu), Istiqaq (ilmu dasar Sharaf), Fiqih, Tauhid, Tasawwuf , Mantiq, Munadharah, dan Lughah.

"Kitab wadlo' dan istiqaq merupakan warisan turun temurun, dicetak khusus oleh pesantren sehingga tidak beredar di pasaran," ujarnya.

Metode pembelajaran yang dikembangkan di pesantren ini merupakan perpaduan dari hasil kajian di beberapa pesantren, antara lain: Ponpes Gentur Cianjur (dalam kajian kitab), Ponpes Gontor (dalam disiplin 2 bahasa), Ponpes Tipar (sistem sekolah), Ponpes Suryalaya (thariqah), Ponpes Manonjaya (hafalan tauhid), dan Ponpes Saharanpoor India (metode dakwah).

Indonesia tercatat memiliki lebih dari 28.961 pesantren. Sebagian di antaranya, telah berdiri sejak ratusan tahun lalu. Selain pendidikan salafiyah yang fokus pada pembelajaran kitab kuning, pesantren saat ini berkembang pesat dan menyelenggarakan pendidikan formal.

Untuk memotivasi para santri Lukman mengingatkan, agar selepas para santri yang akan keluar dari pesantren, untuk terus melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi dan terjun langsung ke tengah masyarakat. Lukman mengaku bangga karena saat ini banyak santri yang berkiprah baik di masyarakat, baik sebagai guru, pengusaha, maupun birokrat.

Serasa bernostalgia dengan masa lalunya, Lukman menggugah semangat santri, sembari berucap "man jadda" (barangsiapa bersungguh-sungguh) yang tanpa komando langsung disambut kompak para santri dengan kata "wajada" (dia akan berhasil). Suara mereka menggema mengisi seluruh ruangan aula. (nat/dbs)


Back to Top