Menuju 'World Class University', UIN Malang dan UIN Jakarta Akan Gelar Konferensi Internasional Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi Islam

gomuslim.co.id- Sejak pertama kali didirikan, lembaga pendidikan tinggi Islam Indonesia mempunyai peranan penting dalam mengangkat harga diri kaum muslim. Kehadirannya pun terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Saat ini, Pendidikan Tinggi Agama Islam tengah berupaya menuju tatanan global agar diterima oleh dunia yang lebih luas.

Guna mencapai cita-cita itu, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bekerja sama dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan BAN-PT berencana menggelar konferensi internasional penjaminan mutu pendidikan Islam. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menjadikan Universitas Islam Negeri (UIN) sebagai universitas bertaraf internasional (world class university).

Rektor UIN Malang, Mudjia Rahardjo mengatakan konferensi ini akan digelar pada 17-20 Desember 2016 mendatang di Malang. “Konferensi ini merupakan gelaran ketiga setelah sebelumnya diselenggarakan pada 2014 dan 2015. Adapun tema konferensi tahun ini adalah The Quality Assurance of Islamic Higher Education Enhancement Through Key Performance Indicators,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mudjia mengungkapkan peserta dalam konferensi ini akan mengundang dari perwakilan 11 negara. “Selain peserta dari Indonesia, akan hadir juga Bangladesh, Pakistan, Jordan, Saudi Arabia, Nigeria, Sudan, Uganda, Sinegal, Malaysia, dan Turki,” ungkapnya.

Penyelenggaraan konferensi ini, kata dia, dilatarbelakangi kesadaran bahwa tantangan terbesar negara-negara Islam, termasuk Indonesia, dalam membangun dan menjaga keberlanjutan pendidikan tinggi di era global. “PR kita bersama adalah bagaimana menentukan tata kerja yang tepat untuk mendukung perguruan tinggi dan memosisikan diri sejajar dengan universitas-universitas terkemuka di dunia,” katanya.

Untuk itu, lanjutnya, segenap sistem nilai yang menjadi kunci dalam pencapaian tingkatan sebagai universitas bertaraf internasional harus dikembangan dengan sungguh-sungguh. Sistem penjaminan mutu merupakan salah satu upaya dalam tahapan menuju globalisasi.

“Globalisasi menuntut perguran tinggi memikirkan relevansi, kualitas, dan tata kelola guna menjaga eksistensi institusi dalam dunia yang semakin dinamis. Derasnya arus globalisasi, menghadapkan pendidikan tinggi di negara-negara berkembang pada tantangan yang semakin berat. Perguruan tinggi dituntut mampu menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas, serta infrastruktur, dan sistem pendanaan dalam mendukung operasionalisasi kegiatan,” paparnya.

Mudjia menambahkan negara-negara Islam yang tergabung dalam organisasi OKI, telah memberikan perhatian serius pada pengembangan dan kerjasama dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya. Melalui organisasi ISESCO, telah disusun Key performance Indicators (KPIs) bagi universitas di negara-negara Islam.

KPIs tersebut digunakan untuk mengekspresikan secara kuatitatif efektivitas dan efisiensi proses atau operasi perguruan tinggi dengan berpedoman pada target-target dan tujuan institusi. “Jadi jelas bahwa KPIs merupakan kriteria yang dapat kita gunakan untuk menilai keberhasilan pencapaian pendidikan tinggi Islam di Negara-negara anggotanya, termasuk Indonesia,” ungkapnya.

Di sisi lain, revolusi teknologi informasi dan komputer yang banyak menyediakan kemudahan bagi sivitas akademika dalam menjalankan tugasnya, pada beberapa kasus juga menimbulkan masalah. “Komputer, gadget, dan internet memang berperan penting dalam peningkatan kualitas pendidikan tinggi. Tetapi, perangkat teknologi itu juga memicu kecanduan (addicted) bagi sebagian mahasiswa,” terangnya.

Menurut Mudjia, akan ada tiga isu utama yang dibahas dalam seminar internasional tersebut, yaitu: Implementasi Key Performance Indicators di perguruan tinggi Islam di Indonesia, Pengembangan strategi kemitraan dalam meningkatkan penjaminan mutu di perguruan tinggi Islam, dan Peran perguruan tinggi Islam dalam menghadapi kecanduan teknologi.

Forum ini diharapkan mampu melakukan monitoring dan evaluasi terhadap implementasi KPIs pada perguruan tinggi di Negara-negara Islam. Selain itu akan ada rumusan indikator nilai-nilai keislaman untuk mengukur level keislaman dalam manajemen perguruan tinggi. “Kami berharap seminar ini menghasilkan bentuk dan model kerja sama strategis antar perguruan tinggi di Negara-negara Islam dalam peningkatan kualitas pendidikan tinggi,” imbuhnya. (njs/kemenag/dbs)


Back to Top