Kitab Kuning Jadi Pelajaran Sekolah Umum di Purwakarta

gomuslim.co.id- Pelajaran kitab kuning biasanya hanya didapatkan di pesantren-pesantren tradisional. Namun di Purwakarta, pelajaran kitab kuning ini menjadi pelajaran wajib di sekolah umum. Sebelumnya, pemerintah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan telah melakukan perekrutan guru-guru lulusan pesantren untuk ditempatkan di berbagai sekolah mulai dari tingkat SD hingga SLTA.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi mengatakan pelajaran kitab kuning di sekolah umum ini dimulai Desember 2016. “Saya mengambil kebijakan pertama di Indonesia yaitu dengan merekrut 576 orang lulusan pesantren untuk mengajar kitab kuning di sekolah-sekolah. Dan mereka semua digaji oleh pemerintah,” ujarnya.

Pelajaran kitab kuning ini, kata dia, tidak akan mengganggu pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI), malah dengan adanya pelajaran kitab kuning akan menambah dan mengisi pelajaran PAI yang hanya mendapat aloksi 2 jam pelajaran saja. “Dengan dimasukannya pelajaran kitab kuning ini memberi kesempatan belajar kitab kuning kepada pelajar yang tidak mondok,” tambahnya.

Baru-baru ini, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Purwakarta meluluskan 394 orang yang mengikuti seleksi pengajar kitab kuning. Dedi berharap para pengajar ini jadi tonggak terdepan dalam membangun mental spiritual pelajar Purwakarta. “Karena generasi sekarang ini dalam mempelajari agama hanya setengah-setengah. Kadang baca satu ayat ke sananya jadi malah jadi hakim atas keyakinan orang,” katanya.

Lukman (40) salah seorang lulusan pesantren di Kecamatan Plered Purwakarta mengatakan program ini merupakan terobosan baru dari pemerintah. “Soalnya selama ini kitab kuning diajarkan di pesantren atau di sekolah-sekolah agama tradisional di kampung-kampung,” ungkapnya.

Lukman sendiri adalah pengajar yang lolos seleksi dan mendapat tugas mengajarkan kitab kuning pada pelajar kelas 4, 5 dan 6 SD serta pelajar SMP. Pengajaran kitab kuning juga bukan perkara mudah untuk dipelajari. Kitab kuning berisi huruf-huruf arab tanpa tanda baca. Meski begitu, memiliki makna substansi tentang ajaran agama. Ia mengaku mempelajari kitab kuning selama lima tahun.

“Karena pengajaran kitab kuning ini terbilang baru bagi pelajar di sekolah formal, maka mekanisme pengajarannya menggunakan sistem sorogan. Nanti guru membaca dan menjelaskan,” katanya.

Selama menimba ilmu pesantren, sedikitnya 15 kitab kuning ia pelajari. Lantas bagaimana untuk pelajar tingkat dasar dan menengah pertama, menurutnya, itu bukan kendala berarti. Yang sudah bisa dipelajari pelajar formal yakni kitab kuning safinah yang berisi ilmu fiqih wudhu, shlat, zakat, puasa hingga ibadah haji. Lalu kitab kuning Ta'lim yang berisi adab mengajar dan belajar serta sarat mencari ilmu.

“Dua kitab kuning itu saya rasa penting dipelajari, sehingga mereka bisa mengerti hakikat dari belajar,” ucapnya.

Hal senada dikatakan Dede (45), lulusan pesantren di Kecamatan Wanayasa. Menurutnya, butuh waktu lama untuk memberikan pengajaran kitab kuning pada pelajar sekolah formal. Apalagi, karena ini kebijakan pendidikan yang terbilang baru.

"Saya rasa untuk awal-awal akan terasa sulit karena bagaimanapun ini kebijakan yang baru. Tapi saya yakin nanti akan beradaptasi, apalagi nanti pendekatannya dengan bahasa Sunda," ujar dia.

Lantas, apa manfaat belajar kitab kuning?, Dede menegaskan manfaatnya tidak terlepas dari hakikat manusia untuk selalu memahami keyakinan spiritualnya. “Dalam agama Islam itu setidaknya ada beberapa hal yang perlu dipelajari, yakni tauhid, fiqih dan tassawuf serta akhlak. Mempelajari kitab kuning itu ya mempelajari semuanya, sehingga santri (di pesantren) atau pelajar (di sekolah formal) bisa memahami agama dengan baik,” pungkasnya. (njs/dbs)


Back to Top