Kemenag Jadikan Ma’had Aly Lembaga Pendidikan untuk Kaderisasi Ulama

gomuslim.co.id- Berangkat dari persoalan umat yang semakin kompleks, Ma’had Aly diharapkan Kementerian Agama dapat menjadi lembaga pendidikan kaderisasi untuk mencetak ulama. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan Kementerian Agama memberi perhatian besar terhadap pendidikan Islam yang tulang punggungnya adalah madrasah dan pesantren.

Untuk Madrasah, Kemenag membuat empat fokus yakni madrasah reguler, madrasah akademik, madrasah keagamaan khusus tafaqquh fiddin yang lulusannya sengaja diproyeksikan untuk mendalami ilmu agama, dan madrasah vokasi yang memfasilitasi pendidikan kejuruan.

Khusus tafakuh fiddin di pesantren, terutama pesantren salafiyah, Kemenag mengembangkan Ma'had Aly yang saat ini jumlahnya 13 pesantren. Ma'had Aly ini terus dipantau dan dampingi. Tiap Ma'had Aly mengembangkan program studi spesialisasi. Lukman mencontohkan di Wajo, Sulawesi Selatan mengembangkan tafsir karena para gurunya mendalami tafsir. Ma'had Aly di Pati, Jawa Tengah, mengembangkan usul fiqih karena didirikan Kiai Sahal Mahfudz yang ahli pada bidang itu.

"Kader ulama perlu ditangani serius karena tuntutannya makin tinggi. Ulama kita juga dituntut untuk paham aneka ilmu karena masalah umat makin komplesk," ungkap Lukman, Rabu (14/12).

Sejalan denga kemajuan era digital Kemenag memberi akses aplikasi iSantri sehingga para santri mudah mengakses ratusan kitab. Lukman mengatakan, dari pengaaman mondoknya untuk memiliki Kitab Munjid bagi santri di zaman dulu harus menabung dan mempunyai Munjid adalah kebanggaan. Dengan ponsel pintar dan aplikasi iSantri, kitab-kitab jadi mudah diakses.

"Karena kami khawatir, ada kitab yang tidak disentuh. Pesantren kini berkembang demikian beragam. Tapi itu tidak dilarang karena pesantren merespon tuntutan masyarakat tapi jangan lupakan tulang punggungnya. Ini cara kami melayani lembaga pendidikan keagamaan," jelas Menag Lukman.

Melalui Peraturan Menteri Agama tentang mu'addalah (kesamaan), Kemenag berharap, bila selama ini, lulusan pesantren salafiyah tidak diakui, maka setelahnya bisa diakui. "Jangankan di universitas, masuk IAIN saja susah. Maka dibuat Muadalah. Termasuk ma'had aliy yang setara S1," katanya.

Di samping itu, pesantren yang punya Ma'had Aly ada syarat yang harus dipenuhi. Kemenag sendiri tidak memiliki target kuantitatif, tapi pada kualitas bahwa Kemenag tetap harus punya jaminan pesantren akan menghasilkan spesifikasi bidang keilmuan. Ma'had Aly juga merupakan sarana lain selain yang dikembangkan UIN atau IAIN.

"Kerja sama dengan UIN atau IAIN belum ada. Kemenag masih fokus menjamin lulusan Ma'had Aly yang ingin mendalami tafaquh fiddin setara lulusan UIN. Dengan itu, lulusan Ma'had Aliy akan bisa melanjutkan sekolah termasuk ke Al Azhar atau ke Madinah," ujarnya.

Ma’had Aly adalah perguruan tinggi keagamaan Islam yang menyelenggarakan pendidikan akademik dalam bidang penguasaan ilmu agama Islam (tafaqquh fiddin) berbasis kitab kuning yang diselenggarakan oleh pondok pesantren.

Kitab kuning yang dimaksud adalah kitab keislaman berbahasa Arab yang menjadi rujukan tradisi keilmuan Islam di pesantren. Adapun tujuan Ma’had Aly adalah menciptakan lulusan yang ahli dalam bidang ilmu agama Islam (mutafaqqih fiddin), dan mengembangkan ilmu agama Islam berbasis kitab kuning.

Ma’had Aly adalah wujud pelembagaan sistemik tradisi intelektual pesantren tingkat tinggi yang keberadaannya melekat pada pendidikan pesantren. Secara kelembagaan, posisi Ma’had Aly adalah jenjang Pendidikan Tinggi Keagamaan pada jalur Pendidikan Diniyah Formal. (nat/dbs)


Back to Top