BI Mulai Terapkan Transaksi Non-Tunai di Lingkungan Pondok Pesantren

gomuslim.co.id- Kampanye Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) mulai digencarkan oleh Bank Indonesia (BI). Tidak hanya menyasar kalangan masyarakat di perkotaan, tetapi gerakan ini juga kini mulai diproyeksikan di lingkungan Pondok Pesantren. Baru-baru ini, program penggunaan uang elektronik (e-money) ini dilakukan di Pesantren Tebuireng, Jombang Jawa Timur.

Pondok Pesantren Tebuireng menjadi proyek percontohan (pilot project) pelaksanaan gerakan nasional non tunai (GNNT) di Jatim. Pelaksanaan program Bank Indonesia ini menggandeng Bank BRI berupa kartu Brizzi. Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) menyambut baik program GNNT yang diterapkan oleh BI. Menurutnya, program tersebut bisa mencegah berbagai kemungkinan negatif dari penggunaan uang tunai oleh para santri.

Para santri mendapatkan kartu Brizzi untuk digunakan transaksi di lingkungan pondok pesantren. Kartu ini bisa digunakan untuk transaksi di koperasi maupun di merchant lain yang telah bekerja sama dengan BRI. Di lingkungan pondok juga terdapat agen laku pandai BRI bernama agen BRIlink. Melalui agen ini, para santri bisa melakukan transaksi perbankan tanpa perlu ke bank, seperti menabung, transfer, maupun tarik tunai.

“(Program) ini baik ya, terutama bagi santri. Bisa mencegah peredaran uang palsu, mencegah pencurian uang, pemborosan bagi santri. Selama ini ada yang kehilangan uang, ada yang uang bulanan dipakai untuk kegiatan lain, sehingga tunggakan SPP cukup besar. Dengan GNNT ini kami optimistis akan memberikan kemudahan kepada para santri,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gus Solah menuturkan lewat transaksi nontunai, orang tua atau wali santri juga dapat lebih mudah mengirim uang kepada anaknya. Selain itu, kata dia, lebih praktis bagi proses pembayaran uang bulanan pondok, uang makan, SPP, dan pembayaran kewajiban santri lainnya.

“Sebelum ini, risiko kehilangan uang sering dialami santri. Atau, uang bulanannya digunakan untuk kegiatan lain. Dengan transaksi nontunai ini, akan lebih tepat sasaran dan aman," katanya.

Salah satu santri Ponpes Tebuireng, Fira Ayu, menyatakan sangat terbantu dengan adanya kartu Brizzi. Menurutnya, GNNT lebih memudahkan orangtua santri untuk mengirim uang saku bulanan. Selain itu, uang SPP bulanan bisa langsung dikirim melalui virtual account. “Kami merasa uang kami lebih aman dengan gerakan non tunai,” ujar siswa SMA Wahid Hasyim asal Samarinda tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Divisi Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah Bank Indonesia Perwakilan Jatim, Hestu Wibowo, mengatakan, Tebuireng menjadi pilot project penerapan transaksi non tunai bisa dikembangkan di pesantren. Menurutnya, BI menggandeng pesantren karena Jatim merupakan basis pesantren yang jumlahnya mencapai ribuan.

“Pesantren punya potensi yang besar untuk transaksi pembayaran. Dengan pesantren kita jadikan komunitas, membentuk ekosistem baru, masyarakat perlu semacam pilot project. Kalau ini berhasil bisa diterapkan di tempat lain,” paparnya.

Hestu mengungkapkan, salah satu testimoni permasalahan pengiriman uang sekolah di pesantren, selama ini, orangtua membawa langsung uang tunai. Sehingga ada risiko kehilangan, kecopetan, atau tidak dibayar oleh santri. Dengan transaksi nontunai, risiko tersebut bisa diminimalisasi.

Melalui GNNT ini, ujarnya, BI ingin mengubah pola pikir (mindset) masyarakat yang gemar menggunakan uang tunai beralih ke transaksi non tunai. Selain pesantren, BI telah bekerja sama dengan Pemprov Jatim untuk pembayaran di lingkungan Pemprov, kerja sama dengan perbankan dan instansi untuk pembayaran jalan tol, retribusi, maupun Samsat.

Sementara itu, Kepala Cabang BRI Jombang, Sukirno, mengatakan, transaksi nontunai dengan kartu Brizzi bisa dilakukan tanpa rekening. Jadi, santri yang belum memiliki KTP juga bisa melakukan transaksi non tunai dengan kartu ini.  “Bentuknya kartu. Selain lewat Brizzi juga bisa melalui m-cash, transaksi transfer tanpa buku rekening, bisa pakai nomor ponsel tanpa ponsel,” imbuhnya. (njs/dbs)

 


Back to Top