Dorong Pelaku Usaha, Ini Langkah Bekraf Wujudkan Indonesia Jadi Pusat Hijab Dunia

gomuslim.co.id- Tren hijab yang kian naik daun membuat beberapa kalangan semakin serius mengembangkan bisnis menggiurkan ini. Beberapa waktu lalu, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menargetkan Indonesia menjadi pusat mode hijab atau busana muslim dunia pada 2020 mendatang. Hal ini seiring dengan semakin berkembangnya sektor usaha kreatif di Tanah Air.

Demikian disampaikan Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Endah. W Sulistianti dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Bekraf di Hall Seblang Hotel Mirah Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi Jawa Timur. Menurutnya, selama ini Indonesia hanya menjadi target pasar padahal memiliki potensi yang sangat bagus.

Lebih lanjut, Endah menjelaskan Bekraf selaku eksekutor telah mempersiapkan berbagai program bagi pelaku ekonomi kreatif hijab demi tercapainya target tersebut. “Produsen hijab Indonesia sudah kreatif menciptakan berbagai model. Tapi ada pelaku dari negara lain yang meniru, membuat, lalu justru menjualnya ke konsumen di Indonesia,” ujarnya.

Endah menuturkan Bekraf akan terus melakukan pelatihan dan pendampingan terhadap para pelaku bisnis kerudung. “Kita sudah gelar pelatihan branding, buat logo, packaging, manajemen keuangan. Hal itu sangat penting untuk memenangkan pasar. Karena setelah menjadi pusat hijab dunia, posisi kita akan semakin kuat di bisnis kreatif jilbab dan pasti berdampak positif pada pengusaha-pengusaha kerudung kita,” paparnya.

Pada kesempatan sama, Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo mengatakan, dari 16 subsektor usaha kreatif yang digarap Bekraf, industri fesyen merupakan yang paling siap dan ditargetkan menjadi rule mode dunia di akhir pemerintahan Jokowi–JK. “Target kami 2019, fesyen hijab atau busana muslim kita menjadi mode dunia. Asing harus melihat Indonesia sebagai barometernya,” tegasnya.

Menurutnya, potensi pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) kreatif di Tanah Air sangat besar, dengan potensi melebihi 12 juta pelaku usaha. “Untuk tahap awal, lembaganya memprioritaskan pengembangan tiga subsektor usaha kreatif yakni, fesyen, kuliner, dan craft atau kerajinan tangan. Selain itu juga tiga sektor pendukung yaitu musik, film, dan animasi,” ujarnya.

Fadjar menambahkan, terkait modal, pihaknya tengah mencarikan sumber modal bagi para pelaku usaha kreatif, termasuk pengusaha fashion hijab. Tidak hanya tanah dan bangunan, sebenarnya barang dagangan dan hak kekayaan intelektual (HKI) juga bisa menjadi jaminan kredit bank.

“Memang HKI masih sulit kita temui di masyarakat. Validator penguji juga belum banyak kita miliki. Tapi atas temuan-temuan penting, Bekraf siap membantu pendaftaran HKI,” katanya.

Selain itu, kata dia, Bekraf juga telah mengadakan kerja sama dengan Bank Negara Indonesia (BNI) untuk menyediakan Kredit Usaha Rakyat (KUR) usaha kreatif. BNI akan memberikan pinjaman KUR kepada pelaku ekonomi kreatif sesuai dengan kuota yang ditentukan pada masing-masing daerah. (njs/dbs)


Back to Top