Gencarkan Syiar Islam, Rusia Segera Miliki Stasiun TV Satelit Muslim Tahun Depan

gomuslim.co.id- Dakwah Islam terus bergema di seluruh penjuru dunia. Tidak terkecuali di Rusia. Sebagai agama terbesar kedua di negara tersebut, komunitas Islam kian gencar menyebarkan ajaran agama. Baru-baru ini, Dewan Mufti Rusia sedang merancang stasiun TV satelit Muslim. Rencananya, hal ini akan diujicoba pada 2017 mendatang.

Wakil Ketua I Dewan Mufti Rusia Rushan Abbyasov mengatakan, gagasan tersebut dalam rangka mengokohkan syiar Islam di negeri Soviet. “Ada gagasan untuk membuat saluran satelit atau TV berbayar yang akan membahas tentang tradisi, budaya, dan kebiasaan bangsa-bangsa yang tinggal di negara kita,” ujarnya seperti dikutip Sputnik beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Rushan mengungkapkan bahwa proyek tersebut saat ini sedang ada pada tahap negosiasi. Sementara terkait spesialis dari stasiun TV besar sendiri sedang berkonsultasi dengan lembaganya. “Saat ini kami sedang mengerjakan rancangan isi acara. Untuk meluncurkan saluran ini tentu kami butuh program acara yang baik,” katanya.

Stasiun televisi ini, kata dia, akan disiarkan kepada khalayak berbahasa Rusia, tapi Abbyasov tidak menutup kemungkinan menyiarkannya dalam bahasa Inggris atau Arab kelak. “Untuk sementara penyiaran akan menggunakan bahasa Rusia, namun kedepan bisa saja menggunakan bahasa lain supaya lebih global,” ungkapnya.

Diketahui, Islam di Rusia adalah agama terbesar kedua, yakni sekitar 21-28 juta penduduk atau 15-20% dari sekitar 142 juta penduduk. Masyarakat besar Islam dikonsentrasikan di antara warga negara minoritas yang tinggal di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia: Avar, Adyghe, Balkar, Nogai, orang Chechnya, Circassian, Ingush, Kabardin, Karachay, dan banyak bilangan warga negara Dagestan. Di daerah Sungai Volga tengah ada penduduk besar Tatar dan Bashkir, kebanyakan mereka Muslim.

Umat Islam secara tradisi telah terorganisasi sejak abad ke-18. Di bawah Uni Soviet, ada dua organisasi yang mengatur urusan-urusan internal Islam di Rusia. Pertama, berbasis di Dagestan, yang mencakup Kaukasia Utara.

Kedua, berbasis di Bashkortostan, yang meliputi wilayah seluruh Rusia selain cakupan Dagestan tersebut. Di Kaukasia Utara berkembang Islam Salafi, yang kemudian dicap Pemerintah Rusia sebagai inspirasi kekerasan.

Menurut Dmitry Gorenburg dalam artikel Russia Menghadapi Islam Radikal (2006), hal ini bisa dilacak sebagai akibat dari kebijakan Uni Soviet dahulu terhadap Islam. Dalam masa kekuasaan Uni Soviet, pendidikan publik Islam hanya dibolehkan pada Madrasah Bukhara dan Universitas Islam Tashkent keduanya berlokasi di Uzbekistan kini.

Sementara, di Rusia sama sekali tidak ada. Pada saat bersamaan, umat Islam Rusia membutuhkan ahli-ahli agama untuk mengajarkan tradisi dan ibadah sehari-hari. Hasilnya, menurut Gorenburg, adalah munculnya para tokoh yang minim pendalaman agama Islam, tetapi memimpin masjid-masjid di wilayah lokal Rusia. Itu setelah Uni Soviet runtuh.

Banyak (anak muda Muslim Rusia) yang lantas percaya bahwa Salafi merupakan bentuk murni dari Islam sekaligus menolak praktik-praktik Islam yang telah mentradisi di Rusia, tulis Gorenburg.

Pada era pasca-Uni Soviet, pemerintah Rusia menganut kebijakan mnogonarodnost dan mnogonatsionalnost. Masing-masing secara harfiah berarti multietnisitas dan multinasionalitas. Artinya, Rusia mengakui kemandirian tiap etnis, tapi masih di dalam konteks harmoni.

Di masa sesudah Uni Soviet, Moskow perlahan-lahan menjadi salah satu pusat Islam Rusia, yang paralel dengan daerah Kazan, Makhachkala, Ufa atau Grozny. Dalam buku Russia and Islam: State Society and Radicalism (2010), Luke March menulis hal itu sebagiannya merupakan akibat dari kebijakan negara yang proaktif.

Khususnya dalam soal sentralisasi para mufti (pemuka agama Islam) sekaligus meningkatkan peran dewan mufti yang bermarkas di Moskow. Pemerintah Rusia bermaksud mengintegrasikan kaum Muslim secara struktural lebih dahulu. (njs/dbs)


Back to Top