Untuk Kembangkan Pariwisata Halal, MUI Jawa Barat Dorong Hotel Segera Urus Sertifikasi

gomuslim.co.id- Indonesia kini telah menjadi pusat wisata halal dunia. Hal ini seiring dengan keberhasilan Indonesia dalam memborong 12 kategori penghargaan di ajang World Halal Tourism Award (WHTA) 2016 lalu. Namun demikian, upaya berbenah masih perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas wisata halal di berbagai daerah. Salah satunya pariwisata halal di Jawa Barat.

Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat Rifani Achyar menyebutkan hotel dengan sertifikat halal di Jawa Barat masih minim. Tercatat hanya dua hotel yang baru bersetifikat halal yakni, Hotel Sariater dan Trans Luxury Hotel Bandung Indonesia yang telah meraih penghargaan World’s Most Luxurious Family Friendly Hotel.

Menurut Rifani Achyar, belum semua hotel di Jawa Barat mendukung program wisata halal. “Akan tetapi, saat ini kami terus mendorong agar pariwisata yang ada di Jawa Barat ini ikut serta dalam mendapatkan sertifikasi halal. Tidak hanya untuk hotel restoran saja. Pariwisata lainnya pun harus mengikuti wisata halal ini,” ujarnya belum lama ini.

Rifani menjelaskan seluruh kompoten pariwisata harus bersertifikat halal. Sebab, diakui olehnya, sertifikat halal bukan hanya keperluan bisnis semata. Tapi, untuk kesehatan para wisatawan sendiri. “Semuanya harus turut mendukung program unggulan pemerintah ini, termasuk penyediaan makanan,” katanya.

Makanan dengan sertifikasi halal ini, kata dia, jauh lebih sehat dibandingkan dengan makanan yang tidak halal. Demi mencukupi kesehatan, para wisatawan ini lebih memilih untuk wisata halal. “Apalagi wisatawan asal Malaysia, saat ini lebih memilih wisata halal. Mereka termasuk rewel untuk pemilihan penginapan,” ucapnya.

Menurutnya, saat ini tercatat jumlah wisatawan asal Negeri Jiran tersebut cukup banyak ke Indonesia. Untuk indikator wisatawan ini, lanjut dia, patokannya sama dengan patokan halal dalam islam. “Misalnya berbau masiat, tidak boleh ada minuman keras, harus menunjang pelaksanaan ibadah, kebersihan, keamaan dan pelaksanaan. Lalu, tempat wisata harus dekat dengan masjid,” paparnya.

Lebih rinci, dia menjelaskan untuk wisata alam, para pengusaha harus bisa menjelaskan penghayatan terkait ketuhanan kepada pengunjung. “Hal ini dilakukan agar masyarakat lebih mengerti terkait perbedaan wisata halal atau tidak,” ungkapnya.

Sementara untuk restoran yang mendukung wisata halal, tambah dia, minimalnya setiap daftar menu harus mencantumkan harga. Mulai dari bahan-bahan yang digunakan harus mencantumkan harga. “Hal ini dilakukan, agar masyarakat tidak meras dibohongi setelah memakan makanan di restoran tersebut,” ucapnya.

Adanya lebel halal untuk makanan, pangan dan kosmetik memang cukup banyak dikeluarkan. Dalam setahun, lebel halal dikeluarkan sebanyak 1.000 lebel halal. Dalam kesempatan tersebut juga, pihaknya menghimbau agar masyarakat bisa lebih memilih makanan, pangan, kosmetik dengan lebel hahal.

Sebab, keamanan suatu produk sudah dijamin oleh MUI. “Kostemik ada beberapa yangs udah bersertifikat. Seperti Wardah. Untuk makanan, mudah tinggal dilihat apakah dalam bungkusannya sudah ada lebel halal atau tidak,” pungkasnya.

Sementara itu, Marketing Communication Manager Trans Luxury Hotel Anggia Elgana  berharap pemerintah bisa terus meningkatkan promosi pariwisata halal ke berbagai belahan dunia. Sehingga semakin banyak informasi yang didapat maka minat wisatawan asing ke Indonesia juga pasti akan besar.

“Yang kurang dari pengembangan pariwisata halal mungkin saat ini adalah pemasaran. Informasi wisatawan pemburu wisata halal masih minim. Padahal Indonesia dan Trans Hotel sangat cocok bagi mereka,” kata Anggia Elgana.

Selain itu, akses dan infrastruktur dinilainya menjadi poin penting untuk terus meningkatkan pariwisata Indonesia. “Tidak hanya di lokasi-lokasi wisata yang sudah umum tapi juga harus menjangkau potensi wisata lainnya,” imbuhnya. (njs/dbs)


Back to Top