Lukisan Mural di Taman Budaya Jadi Aksi Para Pelukis Kenang 12 Tahun Tsunami Aceh

gomuslim.co.id- Suara tabuhan Jimbe mengiringi 4 pelukis mural yang tengah melukis di dinding masuk Taman Budaya, Banda Aceh. Sesekali, mereka melirik kertas, sketsa lukisan, lalu jemari mereka kembali menari-nari lincah menyelesaikan lukisannya.

Bisingnya suara kendaraan di Jalan T Umar, Seutui, Banda Aceh tak mengganggu 4 pelukis menyelesaikan lukisan untuk dipersembahkan pada peringatan 12 tahun tragedi bencana gempa dan tsunami di Aceh. Bencana terdahsyat di abad sekarang ini, yang telah banyak memakan korban.

Ada empat orang pelukis, masing-masing dari mereka menggambarkan tragedi tsunami dengan gaya masing-masing. Salah satunya Firza, ia melukiskan sebuah jam dinding yang dipeluk oleh seorang anak menggunakan tangan kanan.

Gambar jam dinding melukiskan waktu kejadian musibah tsunami di Aceh pada pukul 08.05 Wib. Saat itu, suasana warga panik, menjerit ketakutan, lari ke arah lebih tinggi menyelamatkan diri. Semua hanya memikirkan menyelamatkan diri sendiri dan keluarga intinya.

Kemudian pekik histeris, tangisan bayi lenyap seketika saat ditelan lidah air raksasa tinggi mencapai 20 meter menjulang ke langit. Hanya terdengar gemuruh air laut mengalir ke daratan. Semua bangunan hancur berantakan, rata dengan tanah tanpa ada yang tersisa, kecuali Masjid Baiturrahman.

Ruben salah seorang dari pelukis mural menggambarkan di tangan kiri anak tadi, memegang perahu kertas dengan ujung jarinya. Ada paruh barung, yang nantinya akan digambarkan bola dunia di ujungnya sebagai simbol Aceh harus bangkit dan mulai menatap kembali masa depan yang lebih baik.

Di gambar lain sebuah PLTD Apung seberat 2.600 ton dengan panjang 63 meter dan luas 1.900 meter persegi terseret gelombang tsunami sejauh 6 km dari bibir pantai Ulee Lheue, Banda Aceh. Bagitu juga rumah warga, bersih disapu gelombang tsunami.

Gambar-gambar itulah yang dilukis oleh empat pelukis mural. Mereka melukis dengan gaya sederhana dengan tema Smong Mural, gambar yang warna-warni sebagai simbol ceria agar Aceh tidak lagi bersedih, tetapi harus bangkit menuju Aceh yang lebih baik.

Smong, merupakan bahasa lokal di Pulau Simeulue, sebutan bila air laut surut, itu pertanda akan terjadi Smong. Berupa bencana air laut akan tumpah ke darat yang kemudian sekarang dikenal dengan tsunami.

Sementara di sudut lain Made terus saja menapuh jimbe, sesekali ia bernyanyi menghibur 4 pelukis mural itu. Empat pelukis itu tak banyak bicara, tetapi jemari mereka yang berbicara dengan bahasa seni lukisan mural mereka.

Melihat ke sebelah kiri, masih terdapat dua lukisan mural lagi. Mural pertama dilukiskan waktu kejadian, yaitu 26 Desember 2004, tepatnya 12 tahun silam yang dilukis oleh Yoza.

Sedangkan sebelah kirinya lagi, Huda juga melukiskan gelombang tsunami dengan gaya sederhana, untuk memberikan edukasi kepada generasi penerus, gempa dan gelombang tsunami telah membawa dampak besar, ketika tak siap bersahabat dengan bencana.

"Kita tahu hari ini hari besar untuk kita, tetapi jangan mengenang ini dengan kesedihan, ayo kita kenang ini dengan iman. Biar ceria, kami melukis dengan warna warni,” ujar Firza, yang merupakan salah seorang pelukis mural dari Komunitas Akar Imaji Banda Aceh.

Firza berpendapat kalau bencana ini boleh dikatakan besar, namun tidak boleh larut dalam kesedihan, dibalik bencana ada hikmah yang diberikan. Dengan adanya bencana ini, rakyat Aceh bisa harus bangkit melakukan pergerakan baru menuju Aceh yang lebih baik kedepannya. (nat/dbs)


Back to Top