Ini Kata Para Pakar Terkait Konversi dan Spin Off Bank Syariah

gomuslim.co.id- Pelan tapi pasti, industri keuangan syariah di Indonesia terus tumbuh. Pertumbuhan ini tidak lepas dari upaya dan kebijakan-kebijakan perbangkan syariah dalam meningkatkan kepercayaan nasabah. Beberapa kebijakan yang saat ini gencar dilakukan adalah konversi bank syariah dan dan melepas (spin off) dari unit usaha syariah (UUS).

Menurut pakar keuangan syariah M. Syafi'i Antonio, bank syariah yang masih dalam bentuk unit usaha syariah (UUS) sebaiknya didorong untuk melakukan konversi ketimbang spin off. Hal demikan untuk meningkatkan pangsa pasar industri keuangan syariah. Konversi bank syariah ini dinilainya lebih efisien karena permodalan tidak akan terpecah.

Lebih lanjut, Syafi'i menjelaskan apabila UUS melakukan spin off maka induk perusahaan harus memberikan modal ke anak perusahaan syariahnya. Dengan demikian, berarti kekuatan induk akan ditarik ke kekuatan anak perusahaan syariahnya sehingga modal terpecah. Selain itu, jika UUS melakukan spin off maka nantinya akan terbentuk dua direksi yakni direksi induk dan direksi anak perusahaan syariah.

“Kalau UUS spin off, maka nantinya aka nada dua direksi, dan ini bisa jadi persoalan. Tapi kalau konversi bank syariah, direksi hanya satu saja dan ini akan lebih efisien, nah pilihan-pilihan ini yang harus didorong, dan saya pikir konversi ini lebih baik,” ujar Syafi'i di Jakarta, Selasa (27/12) kemarin.

Peningkatan pangsa pasar industri perbankan syariah melalui konversi sudah dibuktikan dengan hijrahnya Bank Aceh menjadi bank umum syariah. Konversi Bank Aceh ini telah meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah dari 4,81 persen pada Juli 2016 menjadi 5,13 persen pada saat ini.

Syafi'i mendorong agar bank pembangunan daerah (BPD) lainnya juga dapat melakukan konversi menjadi bank umum syariah sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar industri keuangan syariah karena telah berpindah buku.

CEO Tzkia ini juga mengatakan pada 2017 mendatang direncanakan Bank NTB akan konversi menjadi bank umum syariah dan saat ini sedang dalam proses persiapan. Menurutnya, konversi Bank NTB menjadi bank umum syariah belum akan memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan pangsa pasar industri keuangan syariah secara menyeluruh.

“Kontribusinya memang tidak akan terlalu besar. Mungkin sekitar 0,2 persen sampai 0,3 persen, karena dia (aset Bank NTB) hanya Rp 8 triliun,” ujar Syafi'i.

Dengan konversinya Bank NTB pada 2017 mendatang, Syafi'i memprediksi pangsa pasar industri perbankan syariah belum mencapai 5,5 persen. Bank Aceh memberikan kontribusi yang siginifikan karena telah memiliki aset sekitar Rp 20,09 triliun per September 2016.

Sementara itu, Direktur Utama BPD DIY, Bambang Setiawan, cenderung memilih untuk melepas UUS ketimbang mengubahnya menjadi bank syariah. “Mending spin off,” ujarnya.

Dia mengatakan konversi bank konvensional menjadi bank syariah akan makan waktu persiapan yang lebih lama daripada melepas unit syariahnya. Tak hanya itu, proses konversi akan sangat kompleks. “Nasabah tidak semuanya mau pindah ke syariah. Belum tentu mau mereka (kalau pindah ke syariah),” jelasnya.

Bambang mencontohkan BPD yang telah berubah bentuk menjadi bank syariah adalah BPD Aceh. Dia menyebut persiapan bank tersebut makan waktu yang lama. Sebab, manajemen bank harus mengubah sistem operasional bank secara keseluruhan. “Proses syariah itu lama. Nggak hanya terminologi, tapi juga ‘dalamannya’,” katanya.

Hal serupa juga diungkapkan Direktur Operasional dan UUS Bank Jateng, Hanawijaya. Bank Jateng lebih memilih spin off daripada bertransformasi menjadi bank syariah. “Spin off. (Kalau konversi), agak lama prosesnya,” kata Hanawijaya di tempat yang sama. Dia mengatakan UUS Bank Jateng diproyeksikan terjadi pada 2018-2019. (njs/dbs)

 


Back to Top