Untuk Bersaing di Pasar Global, Bank Syariah Perlu Manfaatkan Teknologi Fintech

gomuslim.co.id- Perkembangan kemajuan teknologi menjadi keuntungan sendiri bagi sejumlah perusahaan, tidak terkecuali industri keuangan syariah. Mudahnya akses internet di seluruh dunia dan munculnya smartphone dapat menjadi peluang bagi bank syariah dalam mendapatkan pangsa pasar yang lebih luas. Salah satunya dengan memanfaatkan teknologi keuangan atau FinTech.

Demikian dalam sebuah laporan yang diterbitkan oleh Ernst & Young (EY) bulan ini. Ashar Nazim, mitra dalam Global Center Perbankan Syariah Ernst & Young (EY) mengatakan bahwa revolusi Fintech dalam hal data, analisis, robotika, dan kecerdasan buatan memiliki kemampuan untuk mengumpulkan data serta memberikan bantuan dalam pengambilan keputusan.

“Kami percaya bahwa dalam 20 tahun terakhir perbankan syariah telah melakukan inovasi dalam produk-produk syariah dan kontrak syariah,” ujar Nazim sebagaimana dilansir Arab News, Selasa (27/12) kemarin.

Dalam 20 tahun mendatang, kata dia, inovasi teknologi yang dikembangkan dalam perbankan syariah akan memacu pertumbuhan industri perbankan syariah global. Saat ini pertumbuhan industri keuangan syariah mendekati angka 2 triliun dolar AS. Nazim meyakini bahwa pertumbuhan industri keuangan syariah melebihi angka tersebut karena masih ada sumbangan-sumbangan lain yang belum dihitung.

“Misalnya saja, wakaf dan investasi yang dilakukan dalam sejumlah proyek infrastruktur. Diperkirakan ini akan membawa tambahan sekitar 1 triliun dolar AS ke dalam industri keuangan syariah, oleh karena itu Fintech menjadi sangat penting,” ungkap Nazim.

Penetrasi teknologi di Gulf Cooperation Council (GCC) cenderung mulai meningkat. Pengguna diharapkan dapat semakin terbiasa menggunakan alat digtal dalam transaksi perbankan, investasi ritel, dan crowdfunding. Menurut laporan EY, menunjukkan bahwa ruang Fintech di GCC masih dianggap belum berdampak terhadap industri keuangan islam.

Ada kekhawatiran bahwa FinTech akan menganggu dunia keuangan secara keseluruhan, sehingga sejumlah perbankan lebih lambat dalam mengadopsi teknologi tersebut. Menurut Nazim, Fintech memang lebih mudah diadopsi oleh pelaku start up. Oleh karena itu, perbankan diharapkan dapat mengubah pola pikir dan industri keuangan syariah memerlukan perubahan secara menyeluruh dalam perilaku ekonomi.

“Membawa teknologi harus diiringi dengan perubahan budaya organisasi, dalam hal ini perbankan syariah berada dalam posisi yang lebih baik karena mereka lebih kecil dari perbankan konvensional dan lebih lokal sehingga lebih mudah bagi mereka untuk berubah," ujar Nazim.

Nazim mengatakan, bagi industri perbankan syariah, Fintech dapat membuka pintu kerja sama di tingkat nasional dan internasional. Untuk membangun FinTech ini perlu ada kerja sama atau kolaborasi antarindustri perbankan syariah di tingkat nasional maupun lintas negara.

Pada kesempatan sama, Gubernur Bank Sentral Bahrain (CBB) Rasheed Mohammed Al-Maraj mengatakan, penggunaan teknologi akan menjadi perubahan besar dalam bidang perbankan. Teknologi telah memungkinkan perbankan untuk mengakses lebih banyak pelanggan dengan cara yang komprehensif dan biaya rendah.

“Bank-bank syariah harus memanfaatkan perangkat teknologi secara penuh, dan berinvestasi lebih banyak dalam ruang ini,” ujar Rasheed.

Rasheed menambahkan, untuk mendorong Financial Technologi (Fintech) dalam perbankan syariah, CBB akan segera mengeluarkan peraturan untuk memfasilitasi solusi Fintech tersebut. Menurutnya, CBB ingin melihat bank syariah dapat tumbuh pesat dan menjadi pemimpin dengan merangkul Fintech.

Sementara itu, Gubernur Saudi Arabian Monetary Authority (SAMA) Ahmed Al-Kholifey mengatakan, pihaknya mendorong semua lembaga perbankan menjadi lebih responsif dan selalu mendukung pengembangan produk yang memenuhi kebutuhan nasabah. “Penetrasi teknologi ini diharapkan bisa diadaptasi oleh nasabah di Gulf Cooperation Council (GCC),” ucapnya. (njs/dbs)

 


Back to Top