Ini Pentingnya Jaminan Halal dalam Islam

gomuslim.co.id- Sebagai umat Muslim mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal adalah suatu kewajiban yang harus dipenuhi. Dari sekian banyak makanan dan minuman, orang yang beriman akan memilih yang halal dan menghindari yang haram.

Dalam Alquran dijelaskan, halal merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar oleh manusia dalam mengonsumsi makanan dan minuman. Ketetapan tentang halal dan haram atas segala sesuatu, termasuk urusan makanan, adalah hak mutlak Allah dan Rasul-Nya.

Dengan menaati ketentuan Allah dalam mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal akan membuat hidup kita menjadi berkah. “Memakan dan meminum yang halal, selain menjadikan tubuh sehat, juga bisa lebih rajin beribadah yang nantinya mendapatkan ridha Allah,” ungkap Ustaz Dr. M. Yasir Yusuf MA, Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

“Akan menjadi sia-sia saja rezeki halal yang kita peroleh, jika kemudian makanan dan minuman yang kita konsumsi setiap hari ternyata tidak terjamin kehalalannya. Apalagi sampai makanan yang haram dikonsumsi dan dibawa pulang untuk anak istri di rumah,” ujar Ustadz Yasir.

Pengajian ini bertema, ‘Pentingnya Jaminan Halal dalam Islam’, Ustadz Yasir menyebutkan, konsumsi sehari-hari memiliki hubungan erat dengan hati atau qalbu. Jika makanannya baik dan terjamin halal, maka hati ikut baik, dan baiklah seluruh anggota tubuh.

Selain itu, tingkat ketaatan seseorang dalam beribadah kepada Allah juga sangat dipengaruhi pola makanan yang masuk dalam tubuhnya. “Jika terlalu banyak makanan haram atau tidak terjamin halal, maka tubuh akan susah jika diajak shalat, karena ada saja alasan macam-macam,” ujar Ustadz Yasir.

Ketua Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Aceh ini juga mengungkapkan, banyak ayat dalam Alquran yang memerintahkan setiap muslim mengkonsumsi makanan halal.

Seperti dalam Surat Al-Baqarah ayat 168 yang artinya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Kemudian, Surat Al-Maidah ayat 88 yang artinya, “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya”. Selain itu, juga Surat An-Nahl ayat 114 yang artinya: “Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah ni’mat Allah jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”.

“Bagaimana amal itu bisa baik dan diterima oleh Allah, sebab pokoknya adalah makanan yang halal. Amal tidak akan diterima kecuali dengan memakan makanan yag halal. Sedangkan makanan yang haram dan tidak terjamin halal membuat amal tidak diterima,” paparnya.

Lanjut Ustadz Yasir, untuk mengetahui suatu produk makanan itu halal atau tidak, bisa dilihat pada label halal ada atau tidak. Akan tetapi persepsi halal di kalangan muslim dan masyarakat Barat masih salah. Persepsi di kalangan konsumen di barat, halal hanya terfokus pada tata cara penyembelihan hewan.

Padahal konsep halal lebih luas dari itu termasuk di dalamnya, tanggung jawab terhadap peternakan hewan, kebersihan, juga praktek lainnya sebelum dan sesudah dilaksanakannya penyembelihan.

“Kita yakin semua makanan yang dijual di Aceh pasti halal karena penjualnya adalah muslim, tapi masalahnya terkadang ada produk yang kita tidak ketahui (karena tidak ada label halalnya) ternyata haram. Hal ini menjadi tugas pemerintah/pemimpin yang harus menjamin konsumsi yang dihalalkan Allah untuk rakyatnya dengan regulasi dan melindungi dari yang haram. Alhamdulillah kita di Aceh sudah ada Qanun Sistem Jaminan Halal Produk,” pungkas Ustadz Yasir mengakhiri. (nat/dbs)


Back to Top