Tetap Periksa Produk Impor, BPOM Ingin Pastikan Kandungan Semua Produk Halal

gomuslim.co.id- Kehalalan sebuah produk menjadi hal penting bagi setiap Muslim. Sebagai upaya perlindungan terhadap hak-haknya, pemerintah melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) terus berupaya berbagai produk. Baru-baru ini, BPOM menyatakan akan tetap memeriksa kehalalan produk-produk impor meski sudah berlogo halal dari negaranya masing-masing.

Kasubdit Inspeksi Produk Berlabel Halal BPOM Meutia mengatakan hal demikian dilakukan karena acuan sertifikasi halal tetap berasal dari MUI. “Kita tegaskan kami tidak melihat logo halal. Tapi kami akan melihat dari bahannya, kalau bahannya terkandung bahan yang tidak halal, kami akan panggil,” ujarnya dalam sebuah acara diskusi publik.

Kegiatan diskusi yang mengambil tema “Peran Produk Halal dalam Rangka Memperkuat Daya Saing Ekonomi Indonesia: Produk Asing Halalkah?” itu digelar di Jakarta, Rabu (28/12) kemarin. Dalam pemaparannya, Meutia mengungkapkan produk-produk impor yang mencurigakan akan diperiksa di laboratorium BPOM. Jika benar mengandung bahan yang tidak halal, maka perusahaan produsen maupun pengedar produk tersebut akan dipanggil.

“Kalau memang meragukan, bahannya akan kami uji di laboratorium kami. Misalnya kalau ada bahan babi atau bahan haram lainnya, monggo cantumkan logo babi besar berwarna merah, supaya bisa dilihat konsumen. Kalau tidak mau ya pasti dilarang,” paparnya.

Namun, Meutia menuturkan, pengawasan produk halal impor ini membuat Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merasa bimbang. Banyak produk halal impor yang telah mengantongi sertifikat halal dari negara asal, juga telah beredar di Indonesia. “Aturan main untuk produk sertifikasi halal dinilai masih membingungkan di ajang MEA tersebut. Karena, masing-masing negara di ASEAN memiliki lembaga sendiri yang memberikan predikat dan sertifikasi halal,” ungkapnya.

“Akan begitu banyak produk impor yang masuk ke Indonesia. Produknya juga ada logo halal dari Negara asal. Seperti dari Malaysia, ada logo halal di sana. Tapi logo itu bukan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang jadi standard halal kita,” tambah dia.

Banyaknya lembaga yang memberikan sertifikasi halal di masing-masing negara ASEAN, memberikan rasa ragu bagi BPOM. Pasalnya, ini merupakan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) BPOM‎ untuk mengawasi produk yang beredar, termasuk tingkat kehalalan.

“Itu jadi kebimbangan kami. Dalam peraturan baru, katanya logo halal (dari negara lain) diperbolehkan. Kalau di peraturan lama, sertifikat halal harus sesuai dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Jadi, ambigu,” kata Meutia

Dia mengatakan ada kejelasan aturan soal pengawasan produk halal. Dikatakan juga bahwa BPOM tidak hanya mengawasi peredaran produk halal, tapi juga produk-produk lainnya. “Kami juga mengawasi produk dari hulu ke hilir,”ucapnya.

Pada kesempatan sama, Direktur Excecutive Indonesia Halal Watch (IHW) Ikhsan Abdullah menyatakan produk halal itu berbeda dengan sertifikasi halal. Ia mencontohkan seperti minuman mineral adalah air putih. “Dan air putih itu sudah pasti halal, tapi tetap harus ada sertifikasi halalnya,” katanya. (njs/dbs)

 


Back to Top