Sempat Dilarang Pasca Tragedi Mina, Kini Jemaah Iran Diperbolehkan Berhaji pada 2017

gomuslim.co.id– Ritual ibadah haji tahun 2015 diwarnai dengan kesedihan mendalam dalam tragedi Mina. Jumlah korban yang meninggal terinjak-injak mencapai 700 orang. Sementara itu, jumlah korban luka-luka mencapai 800 orang.

Iran merupakan salah satu negara yang bersuara keras terkait tragedi Mina ini. Jaksa Agung Iran, Ebrahim Raisi saat itu berniat menggugat Kerajaan Arab Saudi ke pengadilan internasional. Menurut Raisi, aparat keamanan sengaja memblokir jalan untuk iring-iringan keluarga Kerajaan.

Namun demikian, Iran tidak dapat mengajukan gugatan tersebut ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC). Hal ini karena Arab Saudi dan Iran tidak termasuk dalam anggota Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).  Karena itu, Iran hanya bisa melaporkan Arab Saudi ke Mahkamah Internasional yang menangani kasus sengketa antarnegara. Negeri Persia itu tidak bisa melaporkan Saudi dengan sangkaan kriminal.

Tragedi mematikan sepanjang 25 tahun terakhir ini berakibat buruk terhadap hubungan dua negara tersebut. Diplomasi bilateral kedua negara itu semakin memburuk ketika salah satu tokoh  Syiah ternama yang bermukim di Arab Saudi, Syekh Nimr al-Nimr, dieksekusi mati atas dugaan pemberontakan pada Sabtu, (02/01/2016).

Tidak lama kemudian, eksekusi terhadap Nimr al-Nimr menuai aksi balasan yang dilakukan sejumlah demonstran di Teheran pada Sabtu petang 2 Januari 2016. Kantor Kedutaan Arab Saudi di Teheran dibakar oleh sekelompok oknum yang ingin memperkeruh hubungan diplomatik kedua negara yang sedang berseteru tersebut.

Arab Saudi dan sekutunya, seperti Kuwait, Sudan, Uni Emirat Arab, memtuskan hubungan diplomatik dengan Iran. Puncak perseteruan antara Iran dan Arab Saudi berujung pada terhambatnya pemberangkatan jamaah haji asal Iran.

Negara yang dipimpin Hasan Rouhani ini menyudutkan Arab Saudi telah mempersulit para jamaah haji asal Iran untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut. Namun demikian, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Juberi, membantah tudingan negeri Mullah itu.

Menurutnya, tuntutan Iran untuk mengelola ibadah haji sendiri di Mekah tidak dapat diterima. Hal ini justru akan menimbulkan kekacauan selama ibadah haji. Keputusan tersebut membuat Iran tidak memberangkatkan jamaah haji pada tahun 2016 (1437 H). Oleh karena itu, Iran terpaksa tidak memberangkatkan jamaahnya akibat rundingan kedua negara itu gagal disepakati.

Baru-baru ini (29/12/16) kabar menggembirkan datang dari Kementrian Haji dan Umrah Arab Saudi mengenai penyelenggaraan haji bagi para jamaah yang berasal dari Iran. Menteri Haji dan Umrah, Mohammed Saleh Benten diminta Raja Salman untuk mengundang 80 negara, termasuk Iran, untuk membahas persiapan haji tahun 2017 (1438 H), seperti diberitakan Laman Resmi Kementerian Haji dan Umar Kerajaan Arab Saudi, Haj.gov.sa.

“Kami menyambut baik semua utusan negara terkait urusan haji, termasuk Iran. Semua utusan negara yang datang berdiskusi ini merupakan tamu Allah yang harus kami hormati. Kami menjamin semuanya dapat beribadah haji dengan nyaman, tenang, dan khusyuk,” ujar Doktor Teknik Komputer lulusan Universitas Colorado. (ihs/dbs)

 


Back to Top