Tingkatkan Kepercayaan Nasabah Bank Syariah, Bank Sentral Kuwait Terapkan Aturan Baru

gomuslim.co.id- Perbankan syariah terus mengalami pertumbuhan di beberapa negara. Tidak terkecuali di negara Kuwait. Baru-baru ini, Bank Sentral Kuwait telah mengeluarkan aturan baru terkait perbankan syariah. Penerbitan aturan baru tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan kepercayaan nasabah.

Demikian sebagaimana dilansir dari Reuters beberapa waktu lalu. Terkait aturan baru tersebut, Bank Sentral Kuwait lebih menekankan aturan untuk melakukan audit eksternal sehingga ada transparansi dan akuntabilitas yang mumpuni. “Pengawasan dan peraturan perbankan syariah tersebut telah membawa Kuwait menguasai seperempat dari total aset perbankan syariah di negara-negara Teluk,” tulisnya dalam keterangan resmi.

Aturan ini mengikuti langkah Bahrain yang juga menetapkan persyaratan baru pada September 2016 lalu untuk melakukan audit perbankan syariah secara eksternal. Berdasarkan aturan tersebut, Dewan Pengawas Syariah di perbankan syariah harus memiliki pengalaman minimal lima tahun di industri yang relevan.

Selain itu, mereka juga harus menghadiri sejumlah rapat dewan syariah selama tahun tertentu dan keputusan dewan syariah akan mengikat manajemen bank. Bank Sentral Kuwait juga mendorong konsistensi dan ketepatan waktu untuk memberikan laporan keuangan tahunan perbankan syariah.

Sebelumnya, terjadi perlambatan ekonomi global yang turut berdampak pada menurunnya kinerja keuangan syariah. Merujuk pada Islamic Finance Development Indicator (IFDI) 2016, indeks pertumbuhan keuangan syariah global menurun menjadi 8,8 poin dari tahun lalu 9,9 poin.

Laporan yang dibuat Thomson Reuters bersama beberapa lembaga keuangan Islam global tersebut meyebutkan, salah satu penyebab menurunnya kinerja keuangan syariah global karena adanya penurunan harga minyak mentah dunia. Penurunan harga tersebut berimbas terhadap negara-negara Timur Tengah.

Dalam laporan tersebut, beberapa negara seperti Malaysia, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, masih mendominasi pasar keuangan syariah global selama empat tahun berturut-turut. Namun, beberapa negara yang sebelumnya berada di bawah 15 besar, seperti Jepang, Rusia, Maroko, dan Afrika Selatan mulai menunjukkan perkembangan. Negara-negara tersebut disebut mulai serius mengembangkan keuangan Islam.

CEO Islamic Corporation for Development of the Private Sector (ICD) Khaled Al-Aboodi mengatakan, meski kinerja keuangan menurun, aset industri syariah global tidak terganggu. Hanya Kuwait yang asetnya dilaporkan turun sebesar tiga persen. “Aset industri keuangan syariah global tetap besar dan tidak merosot," kata Khaled.

Arab Saudi masih menjadi negara yang memiliki aset terbesar di dunia dengan jumlah mencapai 447 miliar dolar AS. Sedangkan, Malaysia turun ke posisi ketiga dengan nilai aset 434 miliar dolar AS.

Khaled mengatakan, selain negara-negara yang sudah lebih dulu mengembangkan keuangan syariah, negara-negara Afrika juga memiliki potensi yang besar. Menurut dia, Afrika perlu didorong menerapkan keuangan syariah untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur dan menambah penerimaan negara. "Afrika bisa memanfaatkan sukuk sebagai solusi mencari sumber pendanaan," kata dia.

Managing Director Thomson Reuters untuk Timur Tengah dan Afrika Utara Nadim Najjar mengatakan, meski ada penurunan kinerja, pihaknya tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan aset keuangan syariah global di angka 3,5 triliun dolar AS pada 2021.

Alasannya, negara-negara di Asia Selatan sudah mulai membuka diri untuk menerapkan keuangan syariah. "Keuangan Islam tetap kuat di banyak negara dan didukung dengan banyaknya negara-negara yang mulai menjajal keuangan syariah," ujar dia.

Tahun depan, ada banyak negara yang akan menjajal penerbitan sukuk. Salah satunya adalah Maroko. Menteri Keuangan Maroko Mohammed Boussaid mengatakan, sukuk akan diterbitkan pada semester pertama 2017. "Namun, kami belum bisa memastikan nominal penerbitan sukuk tersebut," kata Boussaid.

Boussaid mengatakan Maroko serius untuk menerapkan keuangan syariah di negaranya. Bank Sentral Maroko saat ini sedang menyiapkan pembentukan badan ekonomi syariah.

Keseriusan Maroko menerapkan ekonomi syariah dengan menerbitkan sukuk menjadi langkah yang besar. Sebab, negara di Afrika Utara selama ini cukup resisten dengan perbankan syariah.

Maroko harus mau menjajal industri baru karena pasar keuangan mereka kekurangan likuiditas. Keuangan syariah digadang-gadang dapat menjadi solusi untuk mencukupi likuiditas. (njs/dbs)   


Back to Top