Dengan Lakukan Tabayyun, Umat Muslim Bisa Terhindar dari Percaya Berita Hoax di Media Sosial

gomuslim.co.id- Belakangan ini informasi hoax atau penyebaran berita palsu dan fitnah marak bermunculan di media sosial. Majelis Ulama Indonesia (MUI) berharap agar masyarakat tidak mudah percaya dengan berita bohong atau hoax termasuk menyebarkannya. Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid menegaskan, berbohong apa pun bentuknya dilarang agama.

"Fatwa itu ditetapkan jika ada pihak yang memintanya. Tapi tanpa ada fatwa, yang namanya bohong itu dilarang agama," tegas Zainut.

Zainut juga meminta masyarakat lebih cerdas dalam menyaring kabar yang beredar di media sosial. Setiap informasi yang diterima hendaknya dicari sumbernya. "Masyarakat harus cerdas ketika menerima berita. Menyaring dari mana sumbernya, konten beritanya seperti apa," pungkasnya.

Dirinya juga ingin masyarakat tidak cepat percaya pada berita-berita yang masuk kategori fitnah. Dia menyarankan agar masyarakat melakukan tabayyun (konfirmasi) terlebih dulu. Zainut mewanti-wanti agar jika mendapatkan berita yang mengandung unsur fitnah, sebaiknya masyarakat jangan cepat percaya. "Lakukanlah kroscek kebenarannya (tabayyun) terlebih dahulu, sehingga tidak jatuh pada fitnah," lanjutnya.

Di pihak lain, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga menyatakan bahwa menyebar berita bohong adalah dosa. Hal itu dikatakannya dengan mengutip pesan Nabi.

"Nabi pernah mengatakan,[ kita ini bisa tergolong orang yang berbohong, orang yang berdosa, ketika kita menyampaikan apa saja yang kita tidak yakin benar. (Itu) riwayat Muslim. Semua yang kita dengar lalu kita ceritakan, itu artinya kita bisa termasuk golongan orang-orang yang berbohong, berbuat dosa," ujar Lukman.

Terkait akan hal itu, Presiden Joko Widodo meminta aparat hukum melakukan penindakan yang tegas dan keras bagi pengguna media sosial yang melontarkan ujaran kebencian dan fitnah. Jokowi sadar bahwa perkembangan teknologi memberikan dampak negatif bagi masyarakat. 

"Seperti yang kita lihat akhir-akhir ini, banyak berseliweran informasi yang meresahkan, mengadu-domba, memecah-belah," ujar Jokowi saat membuka menggelar rapat terbatas membahas antisipasi terkait dengan media sosial di Istana Negara.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menggelar rapat terbatas membahas antisipasi terkait dengan media sosial, belum lama ini. Dalam rapat itu, Jokowi meminta aparat hukum melakukan penindakan yang tegas dan keras bagi pengguna media sosial yang melontarkan ujaran kebencian dan fitnah.

Jokowi sadar bahwa perkembangan teknologi memberikan dampak negatif bagi masyarakat. "Seperti yang kita lihat akhir-akhir ini, banyak berseliweran informasi yang meresahkan, mengadu-domba, memecah-belah," ungkap Jokowi.

Dampak negatif dari perkembangan teknologi tersebut adalah banyak muncul ujaran kebencian, ujaran kasar, fitnah, hingga upaya provokatif. Untuk itu, Jokowi ingin hal semacam itu ditindak tegas dan keras oleh aparat penegak hukum.

Jokowi juga menghimbau kepada masyarakat agar lebih selektif terhadap pemberitaan. “Munculnya ujaran kebencian, pernyataan kasar, pernyataan fitnah, provokatif, dan penggunaan bahasa kasar. Sekali lagi, ini bukan budaya kita, bukan kepribadian anak bangsa. Jangan sampai masyarakat menghabiskan energi untuk hal-hal yang tidak bermanfaat seperti ini,” pungkasnya. (nat/dbs)


Back to Top