Dua Lokasi di Lhokseumawe Aceh Ini Segera Terapkan Konsep Pariwisata Halal

gomuslim.co.id- Setelah menyabet dua penghargaan internasional di ajang World Halal Tourism Award (WHTA) bulan lalu, tak lantas membuat Aceh terlena. Provinsi Aceh terus berbenah dalam mengembangkan wisata halalnya. Baru-baru ini, Pemerintah Kota Lhokseumawe sedang gencar mengembangkan konsep wisata halal di dua lokasi yaitu Taman Wisata Goa Jepang dan lokasi Waduk Jeulikat.

Kadis Perhubungan Pariwisata dan Budaya (Dishubparbud) Kota Lhokseumawe, Ishaq Rizal, mengatakan, pihaknya bertekad untuk terus mengembangkan konsep wisata halal sebagai salah satu ikon destinasi pariwisata di daerah tersebut. “Konsep yang sedang dikembangkan Dinas Perhubungan Pariwisata dan Budaya meliputi sarana dan prasarana fisik sebagai pendukung serta ditambah dengan berbagai perangkat aturan,” paparnya.

Pada dua lokasi yang akan dikembangkan, lanjut Ishaq, untuk sarana dan parasarana fisik yang menjadi pendukung wisata halal adalah mushalla dilokasi wisata. Sedangkan terhadap perangkat aturan lainnya adalah, berpakaian menutup aurat dan bagi non muslim menyesuaikan saja dan tidak berpakaian minim.

“Serta saat waktu shalat kegiatan dihentikan sementara begitu juga dengan makanan dan minuman tidak dipejualbelikan makanan yang dilarang dalam Islam. Kegiatan hiburan juga tidak menyalahi tidak bertentangan dengan hukum dan norma-norma agama dan kearifan lokal,” ungkap Ishaq.

Ishaq menjelaskan, dipilihnya Taman Wisata Goa Jepang dan Waduk Jeulikat sebagai awal penerapan konsep wisata halal di Lhokseumawe tersebut, dikarenakan mudah dilakukan penerapannya. “Karena dua lokasi dimaksud, mudah dilakukan konsep wisata halal. Selain pengelolaan lokasi yang lebih terpadu juga mendukung dari segi geografis sehingga dapat dijadikan sebagai langkah awal dalam menerapkan konsep wisata halal,” jelasnya.

Pada kesempatan sebelumnya, Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi menuturkan, pihaknya bertekad untuk terus memperkuat pariwisata halal. “Kita bersyukur atas penghargaan besar ini. Ke depan kita akan terus perkuat wisata halal Aceh. Sehingga bisa meraih penghargaan yang lebih banyak lagi,” katanya.

Selain itu, Reza juga mengungkapkan bahwa Pariwisata Aceh sendiri unggul dari sisi alam dan budaya yang melekat. “Aceh sendiri sangat layak dan tepat dikunjungi para turis mancanegara, karena Aceh unggul dari sisi alam dan budaya, serta memiliki 774 cagar budaya,” ungkapnya.

Menurutnya, Aceh memiliki banyak hal yang layak dinikmati dan diapresiasi oleh para pelancong. Di Aceh juga terdapat 1.146 sanggar kesenian yang para senimannya siap menampilkan berbagai atraksi kesenian Aceh di dalam dan luar negeri. Saat ini, di Aceh tercatat 8.214 orang seniman/budayawan yang menjadi pelaku, promotor, dan penjaga benteng budaya Aceh.

Tidak hanya itu, pantai Aceh memiliki keindahan yang luar biasa dan memiliki kaitan strategis dengan aspek pelayaran regional dan internasional karena kedudukan Sabang sebagai pintu masuk Indonesia dari jalur barat dan berada di jalur Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). "Pendeknya, seluruh situs budaya di Aceh memiliki daya tarik. Dan istimewanya Aceh kini memiliki situs tsunami yang tak dimiliki oleh daerah lain," kata Reza.

Ia juga menambahkan bahwa, branding pariwisata Aceh tahun ini sudah diubah dengan tagline 'The Light of Aceh' (Cahaya Aceh) dengan konsep yang diadopsi dari hakikat rahmatan lil alamin. Dengan demikian, Aceh yang bersyariat Islam harus menjadi rahmat bagi Indonesia, bagi dunia Melayu, dan dunia secara mondial. (njs/dbs)


Back to Top