Ini Kata Menag Soal Penyebaran Berita Hoax

gomuslim.co.id- Saat ini Kementerian Agama sedang mengkaji fikih bagi muslimin dan muslimah terkait bermedia sosial guna menghindari banyak hal terkait informasi di dunia maya yang berkonten hoax atau palsu. Bahkan beberapa waktu lalu Presiden RI Joko Widodo akan memerintahkan aparat penegak hukum menindak tegas penyebar hoax. 

Menurut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, berita hoax sedang dikaji agar masyarakat Indonesia tidak terjebak dalam berita yang dapat berpotensi memecah belah persatuan bangsa karena isinya yang simpang siur dan cenderung provokatif.

“Islam kaya dengan referensi yang mengajarkan agar Muslim tidak mengonsumsi dan menyebarluaskan berita-berita bohong. Penting bagi masyarakat Indonesia yang religius dan mayoritas Muslim bisa lebih santun dan berhati-hati dalam bermedia sosial,” ujarnya.

Selain itu, Muchlis M. Hanafi, Direktur Eksekutif Pusat Studi Alquran (PSQ) Jakarta mengatakan bahwa menyebarluaskan berita bohong (hoax) merupakan dosa besar. Tindakan tersebut, akan menimbulkan fitnah yang merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. 

Muchlis mengatakan Rasulullah SAW pernah menjadi korban hoax. Ketika istri Rasul, Aisyah RA mendapat tuduhan berselingkuh. 

“Berita hoax tersebut sempat menggelinding liar di Madinah seperti disebutkan dalam Alquran surah An-Nur ayat ke-11 dan 12,” tutur Muchlis.

Dalam istilah Alquran, berita hoax tersebut disebut dengan kata ‘Fahisyah’ sebagaimana penegasan Alquran surah An-Nur ayat ke-19, yaitu sesuatu yang teramat keji. “Bahkan, terbilang dosa besar terbesar,” imbuh penerima gelar doktor di bidang tafsir dari Universitas al-Azhar, Kairo  Mesir ini. 

Muchlis mengutip hadis Rasul tentang bahaya hoax dari riwayat Bukhari. Hadis tersebut berbunyi: "Maukah kalian aku beritahu tentang sebesar-besar dosa besar, yaitu mempersekutukan Allah dan durhaka pada kedua orang tua. Ketahuilah juga, termasuk perkataan atau persaksian dusta atau palsu.” 

Tidak hanya itu, lanjut Muchlis, Allah SWT menggandengkan dua larangan sekaligus yaitu larangan menyembah berhala yang najis dan larangan berkata dusta sebagaimana penegasan Alquran surah Al-Hajj ayat ke-30. Dalam pandangan Muchlis, ini mengesankan dosa penyebar hoax berada sedikit di bawah dosa syirik. 

Ia menambahkan, di era digital ini pengguna medsos harus lebih cermat dalam menyikapi dan menggunakan media sosial pribadi. Jadi proses tabayyun (konfirmasi) adalah persyaratan agar pengguna medsos lebih bijak.

Selain itu berdasarkan penelusuruan Washington Post dan New York Times, penulis berita bohong kini menjadi profesi yang menggiurkan. “Jauh lebih menggiurkan dibanding jadi penulis atau wartawan betulan,” kata Muchlis,

Muchlis menjelaskan, Abby Ohlheiser, dari reporter Washington Post mengatakan, seorang penulis berita palsu bisa memperoleh penghasilan lebih dari 10 ribu dolar AS atau setara Rp135 juta per bulan. 

Hal ini dapat terjadi dimana setiap ada yang mengunjungi situs berita palsu, kunjungan tersebut akan datangkan trafik. Trafik yang tinggi akan mengundang orang beriklan. Semakin banyak pengunjung, tentu semakin besar pula kansnya mendapatkan cookies iklan dari Google.

Karena itu, salah satu cara yang akan dilakukan pemerintah untuk melakukan literasi media tersebut yakni dengan meluncurkan Gerakan Masyarakat Anti Hoax di awal januari. Tujuannya agar masyarakat dapat memilah informasi yang mereka terima, melakukan tabayyun (konfirmasi) serta dapat menggunakan media sosial dengan bijak. (nat/dbs)

 


Back to Top