Hadapi Persaingan Global, Pemerintah Perlu Siapkan Instrumen Investasi Syariah

gomuslim.co.id- Perkembangan instrumen keuangan syariah terus meningkat sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 2008 lalu. Namun demikian, persaingan global juga menjadi sebuah peluang dan tantangan untuk terus mengembangkan industri keuangan syariah, tidak terkecuali dalam hal investasi syariah. Keinginan pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat keuangan syariah perlu dirumuskan dalam sebuah langkah-langkah yang konkret.

Demikian disampaikan Peneliti Ekonomi Syariah SEBI School of Islamic Economic Aziz Setiawan beberapa waktu lalu. Ia mengatakan perumusan langkah konkret tersebut dalam rangka menarik dana-dana yang masuk untuk investasi berbasis syariah untuk menghadapi persaingan global yang semakin ketat.

“Negara-negara lain juga berlomba untuk membangun infrastruktur, fasilitas, dan regulasi untuk menarik dana-dana di sektor keuangan syariah. Maka dari itu Indonesia juga harus membuka ruang yang lebih baik agar investasi syariah bisa menarik bagi investor,” ujar Aziz.

Aziz mengungkapkan, Indonesia memiliki peluang besar dalam konteks prospek ekonomi. Sebab, pemerintah Indonesia banyak menggenjot pembangunan infrastruktur dan industri keuangan syariah di Tanah Air mulai tumbuh. Selain itu, Industri Keuangan Nonbank (IKNB) Syariah di Indonesia juga sudah mulai menunjukkan konsistensinya sehingga memiliki prospek market yang besar untuk menarik dana-dana asing.

Tak hanya itu, Indonesia juga telah berhasil mengakselerasi sukuk global dan dapat menjadi instrumen yang cukup mumpuni untuk dimanfaatkan sebagai pembangunan ekonomi. Akan tetapi, hal ini tidak cukup untuk menjadi senjata dalam menarik dana-dana global untuk masuk ke investasi berbasis syariah di Indonesia.

Menurut Aziz, pemerintah juga harus membangun daya saing perekonomian dan meningkatkan iklim investasi untuk mendukung Indonesia sebagai islamic finance hub. "Daya saing perekonomian akan menentukan apakah investor akan masuk atau tidak, dan dari iklim investasi kita masih tertinggal dari Malaysia dan Singapura yang juga menjadi hub bagi keuangan syariah global," kata Aziz.

Aziz mengatakan wacana untuk menjadikan Indonesia sebagai hub keuangan syariah sudah lama digulirkan oleh pemerintah maupun regulator. Oleh karena itu, Indonesia harus bergerak cepat agar tidak ketinggalan dengan negara lain. Apalagi, pemerintah sudah membentuk Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) dan telah memiliki Masterplan Keuangan Syariah. Selain itu, Indonesia juga harus mengoptimalkan sukuk proyek dengan skema akad yang lebih menarik untuk jangka menengah maupun jangka panjang.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menginginkan Jakarta menjadi pusat keuangan syariah dunia. Dia melihat ada potensi yang besar bagi keuangan syariah, sebab Indonesia memiliki penduduk Muslim yang sangat banyak.

“Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, wajar apabila sebetulnya Jakarta ini bisa dijadikan pusat keuangan syariah internasional karena memang (ada) potensi dan kekuatan yang kita miliki,” katanya.

Meskipun demikian, Jokowi mengatakan persentase ekonomi syariah di Indonesia masih kecil. Angkanya sekitar 5 persen dan kalah dari Malaysia. “Padahal, Malaysia sudah di atas 30 persen. Dalam jumlah pun, kita kalah dengan Inggris dan Korea Selatan,” ungkapnya.

Jokowi pun meminta semua pihak untuk menggenjot pengembangan ekonomi syariah. Yang menjadi sasarannya tidak hanya soal keuangan syariah seperti bank syariah dan asuransi syariah, tetapi juga sektor riil seperti wisata syariah, industri syariah, dan restoran halal.

“Memang potensi pasar (halal) kita memang terbesar di dunia dengan penduduk muslimnya. Mengapa ini tidak menjadi fokus dan perhatian kita? Ini akan memberikan trigger kepada pertumbuhan ekonomi di negara kita,” kata dia. (njs/dbs)

 


Back to Top