Pondok Pesantren Ini Kolaborasikan Nilai Islam dan Teknologi untuk Pendidikan Santri

gomuslim.co.id- Pesantren identik dengan sekolah berbasis pendidikan Islam yang lekat dengan memperdalam ilmu agama dan ibadah, namun berbeda halnya dengan Pesantren di Lampung. Bersama para programmer dibentuklah Pesantren Programmer Lampung. Hal ini bertujuan untuk mencetak programmer yang tidak hanya andal dalam program, tapi juga mewujudkan programmer yang berprilaku akhlaqul karimah yang berguna untuk kerja sama bisnis.

Pemerkasa Pesantren Programmer dari PT Andaglos Global Teknologi, Iwan Setiawan mengatakan saat ini banyak programer nakal. Uangnya sudah diberikan oleh konsumen, tapi program yang dipesan entah kemana, orangnya juga entah kemana. “Pesantren Programmer ini berusaha membentuk programer yang cerdas dan berakhlak baik,” ujar Iwan.

Iwan juga bercerita kalau awal terbentuknya pesantren ini karena melihat banyaknya anak muda yang memiliki potensi bagus untuk dikembangkan dalam programing, hanya belum tersalurkan padahal peluang pasar yang ada sangat bagus.

Lanjut Iwan, para santri yang telah diterima dalam Pesantren Programmer akan menjalani pendidikan agama dan programing secara intensif selama satu tahun. Pelajaran yang diterima antara lain, Pemrograman Web, Pemrograman Mobile, Database, Desain, Karakter, Alquran, Tahsin, Tauhid, Fikih, dan Akhlak Islami.

"Kegiatan keagamaan itu dilakukan malam di pesantren atau di pondokan. Sementara kegiatan programing itu dari pagi sampai sore di sini," ujarnya. Sedangkan tempat pembelajaran pembuatan program itu sendiri dilakukan di Kantor PT Andaglos Global Teknologi di Kompleks Ruko Terminal Kemiling.

Keterlibatan Iwan yang telah lebih dari 10 tahun berkecimpung di bisnis pemprograman ini berharap dengan adanya Pesantren Programmer tersebut sangat efektif membentuk kepribadian dan akhlak programer yang baik.

Selain hal tersebut, perbedaan metode pembelajaran program di pesantren yang berdiri sejak Januari 2016 lalu itu pun membuat para santri bisa membuat sebuah program hanya dalam kurun waktu satu bulan dan sudah mampu menguasainya.

"Nah angkatan ketiga ini kami saja kaget, dua minggu sudah bisa, sudah jadi produknya. Sekarang kami membuka pendaftaran angkatan keempat," katanya.

Iwan menjelaskan, metode yang dipakai yakni hanya mempelajari yang dibutuhkan saja. Hal itu berbeda dengan pembelajaran di kampus yang mempelajari segala aspek dari programing.

"Enggak dipelajari semua. Begitu mereka masuk, sudah ada order produk. Jadi mereka langsung mengerjakan itu. Nah, yang dibutuhkan saja yang dipelajari," tukasnya.

Hingga saat ini, lanjut Iwan, sudah ada lima proyek aplikasi dan program yang telah selesai dikerjakan, yakni aplikasi klinik kesehatan yang kini dipakai oleh Kosasih Group. "Ada empat rumah sakit yang juga akan memakai program ini," katanya.

Program lain yakni, aplikasi restoran dan toko, serta aplikasi untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Selain itu aplikasi dan program hasil produk berjalan di platform online juga bisa diakses melalui ponsel. (nat/dbs)


Back to Top