Perluas Industri Keuangan Syariah, Bahrain dan Qatar Segera Buka Bank Syariah di Maroko Tahun Ini

gomuslim.co.id- Geliat pengembangan industri keuangan syariah dilakukan oleh beberapa Negara. Salah satunya Negara Maroko. Baru-baru ini, pemerintah Maroko mulai mengizinkan bank syariah beroperasi di negara-negara Teluk. Atas kebijakan tersebut, operasional bank asal Bahrain bernama Baraka Bank berencana akan membuka kantor di Maroko. Pembukaannya dijadwalkan mulai beroperasi pada semester I 2017.

Direktur Eksekutif Baraka Bank Adnane Youssef mengatakan pihaknya tengah menyiapkan rencana pembukaan operasi bank syariah tersebut. “Kami menerima surat resmi dari Maroko yang menawarkan otorisasi untuk mendirikan Baraka Marocco yang akan beroperasi di bawah grup kami,” ujarnya sebagaimana publikasi dari laman Marocco World News.

Lebih lanjut, Youssef menuturkan bahwa dalam pendirian Baraka Marocco, Baraka Bank memiliki ekuitas sebesar 49 persen sedangkan bank Maroko yakni BMCE Bank mempunyai kontrol saham sebesar 51 persen. Bank baru ini nantinya akan beroperasi dibawah payung dari bank Bahrain karena telah memiliki pengalaman yang mumpuni di industri keuangan syariah.

Maroko merupakan titik awal untuk memperluas pasar industri keuangan syariah di Afrika Barat. Apalagi Maroko memiliki koneksi yang sangat kuat dengan negara-negara di Afrika Barat. Rencananya, Baraka Bank akan membuka 25 cabang di Maroko. Selain itu, Qatar International Islamic Bank (QIIB) juga akan mulai beroperasi di Maroko.

Dalam sebuah pernyataan resmi yang diterbitkan dalam situs resmi bank, QIIB telah mengantongi surat izin untuk membuka kantor di Maroko. Nantinya, QIIB akan mendirikan perusahaan patungan bersama dengan bank asal Maroko yakni Credit Immobilier et Hotelier (CIH) Bank S.A.

Disisi lain, Negara-negara anggota dewan kerja sama Teluk, Gulf Cooperation Council (GCC), diprediksi akan menjadi pemimpin dalam penerbitan sukuk pada 2017. Pada 2016 lalu, pemerintah di negara-negara tersebut berlomba-lomba untuk menerbitkan sukuk maupun obligasi konvensional untuk menutupi defisit anggaran akibat rendahnya harga minyak.

Berdasarkan publikasi dari Arabian Bussines, Selasa (10/1), pada Oktober 2016 Arab Saudi menerbitkan obligasi konvensional sebesar 17,5 miliar dolar AS, sedangkan Qatar menerbitkan obligasi negara sebesar 9 miliar dolar AS pada Mei 2016. Arab Saudi diperkirakan akan menerbitkan sukuk maupun obligasi baru pada 2017 ini, begitu pula dengan Bahrain dan Kuwait.

Asisstant Vice President Kamco Junaid Ansari mengatakan, prospek penerbitkan obligasi maupun sukuk domestik pada 2017 akan cukup besar karena ada kebutuhan pendanaan lebih lanjut oleh pemerintah maupun swasta. Berdasarkan laporan terbaru dari Moody menyebutkan bahwa penerbitan sukuk di negara-negara Teluk naik sebesar 5 persen atau senilai 1,1 miliar dolar AS pada Semester I 2016.

Sedangkan, Standard & Poor's memperkirakan penerbitan sukuk proyek di negara-negara GCC meningkat sebesar 2,5 miliar dolar AS pada delapan bulan pertama di 2016. Jumlah tersebut sedikit meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2015 yakni sebesar 2,3 miliar dolar AS. (njs/dbs)


Back to Top